Sunday, June 20, 2010

Mari Kembali ke Substansi Belajar


Sejak Juli 2003, 12 anak yang menjalani pembelajaran di SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah ini telah sampai pada tahun keempat (memasuki tingkat SMA) karena ada tambahan dari sekolah reguler kini mereka berjumlah 19 anak, sementara yang di “SLTP” nya kini ada 75 anak, sehingga total murid di Qaryah Thayyibah Kalibening saat ini ada 94 anak.
Dari 19 anak yang ada di tingkat keempat ini menamai kelompok belajar mereka dengan nama SMU (Sekolah Menengah Universal), atau kelas 4 SLTP Alternatif, dan yang paling sering adalah dengan nama kelompok creative kids. Penamaan ini justru terinspirasi dari “adik kelas” mereka, anak-anak kelas satu/tahun pertama yang memberin nama kelompok mereka Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari, diikuti kelas dua dengan nama full colour dan paradise, dan kelas 3 dengan nama ideals. Nama ini secara perlahan tapi pasti akan menghilangkan tingkatan kelas maupun jenjang SMP, SMA, dan bahkan PT. Mereka mulai tidak memperhatikan lagi kelasnya karena memang tidak ada istilah naik atau tinggal kelas. Bahkan di creative kids sendiri terbagi-bagi lagi menjadi 15 jurusan dengan masing-masing anak bebas mengikuti jurusan apa saja yang mereka inginkan, atau malah membuat jurusan baru sesuai keinginan mereka. Uniknya, ketika 3 anak dari creative kids membuka jurusan Bahasa Jepang, diikuti juga oleh 2 anak dari full colour (kelas 2). Sementara itu, ketika ada anak dari ideals (kelas 3) merasa masing ingin meningkatkan kapasitas bahasa Inggrisnya maka ia juga bebas mengikuti English Morning di Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari (kelas 1), yang didampingi (diajar) oleh anak-anak dari creative kids (kelas 4).
Anak-anak creative kids sudah menunjukkan kemandirian totalnya. Mereka tidak lagi bergantung dengan apapun dan siapapun. Mereka bebas belajar apapun yang mereka inginkan karena tidak ada istilah tamat untuk belajar. Sumber pembelajaran telah tersedia tanpa batas, bahkan persoalan-persoalan kehidupan yang muncul setiap saat akan menjadi sumber pembelajaran juga. Tempat belajar mereka juga dimana saja mereka butuhkan. Seluruh rumah dari 25 anak di Kalibening disiapkan sekaligus menjadi kelas yang dipakai bergiliran. Metode pembelajarannya pun mereka ciptakan sendiri. Mereka menggunakan 5 fase pembelajaran setiap harinya :
1.    Fase I pukul 06.00 – 07.00, mendampingi kelas 1 dalam English morning
2.    Fase II pukul 07.00 – 09.30 : knowledge, pada fase ini mereka mencoba menggali pengetahuan umum yang biasanya mengambil dari standar kompetensi kurikulum nasional. Dalam fase ini akan dipimpin oleh seorang atau beberapa orang leader dari anak yg mengambil jurusan terkait dengan tema knowledge.
3.    Fase III pukul 10.00 – 12.00 : forum. Pada fase forum  ini berkumpul beberapa anak yang memiliki minat yang sama. Misalnya, sesame peminat bahasa Mandarin berkumpul.
4.    Fase IV pukul 12.00 – 13.30 : private. Pada fase ini terserah pribadi masing-masing. Bagi yang ingin menulis, mencuci, tidur, atau lainnya, tergantung pada masing-masing anak.
5.    Fase V pukul 13.30 – 15.00 : refleksi bersama.  Pada fase ini, semua dari kelas 1 sampai kelas 4 berkumpul di masjid untuk berjamaah sholat Dzuhur, dilanjutkan baca tartilil Qur’an dan berembug bersama tentang masalah-masalah yang dihadapi. Keuangan juga diatur oleh mereka sendiri. Singkatnya, masalah A – Z diatur oleh anak-anak sendiri.
Fungsi guru disini lebih ditekankan sebagai motivator, dinamisator, dan apresiator atas karya anak apapun hasilnya. Kalau toh guru mau member penilaian atas karya maka minimal nilai yang diberikan adalah baik (good), juga menampilkan atau mepromosikan dalam berbagai media. Guru sangat disarankan untuk mengikuti selera anak sebatas selera itu tidak berdampak pada kerusakan diri dan orang lain. Ketika selera anak tidak sesuai dengan guru maka seorang guru harus berusaha mengalah, mengalahkan dirinya. Ketika ada anak yang melanggar kesepakatan maka guru bias menjatuhkan hukuman pada anak. Hukuman yang tidak bias ditinggalkan adalah hukuman membuat karya. Dalam hal ini, kalau pelanggaran itu menyangkut perilaku anak yang menyakiti orang lain maka hukumannya ditambah dengan menyelesaikan dan mempertanggungjawabkan pada korban akibat perilaku anak.
Dalam konteks ini, komitmen pada pemberdayaan komunitas tetap menjadi titik tekan gerakan pendidikan ini. Anak dan lingkungan desanya adalah dua hal yang saling membutuhkan. Ke depan, anak akan hidup di lingkungannya maka ia mesti belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan. Anak didorong untuk bekajar bagaimana memperbaiki lingkungan dengan agenda-agenda penguatan daya dukung sumber daya agar kehidupan anak kelak bisa nyaman dan tentram. Ketika anak berkepentingan meningkatkan kapasitas diri maka lingkungan sekitar telah menyiapkan diri sebagai resource pembelajaran demikian juga sebaliknya, ketika desa berkepentingan terhadap sentuhan-sentuhan pemberdayaan maka anak-anak sekarang inilah yang menjadi pertaruhan desa untuk di kemudian hari menyelenggarakan perbaikan-perbaikan dan bukan perusakan. Ketika anak mencoba mengembangkan proyek budidaya belut maka yang penting dicoba adalah bagaimana dengan budidaya belut itu dapat dipenuhi kebutuhan nutrisi serta gizi komunitas bukan kebutuhan pasar. Cara pandang komoditas secara perlahan-lahan digantikan pada cara panda ekonomi subsistem.
Dengan demikian, pendidikan berbasis komunitas adalah salah satu solusi lebih untuk Indonesia yang masih kental dengan kultur kekerabatan. Ketika potensi-potensi besar anak desa diambil alih, dan dimanfaatkan oleh kepentingan orang atau institusi kota, maka sesungguhnya hal itu merupakan suatu keprihatinan tersendiri. Pertanyaan kemudian adalah kenapa mesti belajar ke kota kalau sudah susah-susah invest waktu dan biaya untuk sekedar transport, pengadaan seragam, sepatu, terus sampai ke kota (sekolah) digurui, diajari, dan dijejali sejumlah “pelajaran” yang sebagian besar berbeda dengan kebutuhan anak dan komunitasnya? Di sekolah tidak terjadi proses belajar, yang terjadi lebih dominan proses mengajar dan diajar. Dengan demikian, efektifitas penyerapan pengetahuan pun akan turun drastic sampai tinggal sekitar 5% (banking system). Berbeda dengan pembelajaran berbasis kebutuhan. Kalau greget butuh atas pengetahuan itu sudha muncul maka nantinya tidak hanya 100%, sangat dimungkinkan akan melampaui itu, ketika terpenuhi kebutuhan atas pengetahuan itu dapat dipastikan akan berkembang terus yang tiada habisnya.
Untuk itu, kami bersama-sama merumuskan prinsip-prinsip dasar pendidikan komunitas sebagai berikut :
1.    Membebaskan. Selalu dilandasi semangat membebaskan, dan semangat perubahan kea rah yang lebih baik. Membebaskan berarti keluar dari belenggu legal formalistic yang selama ini menjadikan pendidikan tidak kritis dan tidak kreatif. Sedangkan semangat perubahan lebih diartikan pada kesatuan proses pembelajaran.
2.    Keberpihakan. Adalah ideology pendidikan itu sendiri, dimana pendidikan dan pengetahuan hak selurug warga Negara.
3.    Partisipatif. Mengutamakan prinsip partisipatif antara pengelola, murid, keluarga, serta masyarakat dalam merancang bangun sistem pendidikan yang sesuai kebutuhan. Hal ini akan membuang jauh citra sekolah yang dingin dan tidak berjiwa yang selalu dirancang oleh intelektual “kota” yang tidak membumi (tidak memahami kebutuhan nyata masyarakat)
4.    Kurikulum berbasis kebutuhan. Utamanya terkait dengan sumber daya local yang tersedia. Belajar adalah bagaimana menjawab kebutuhan akan pengelolaan sekaligus penguatan daya dukung sumber daya yang tersedia untuk menjaga kelestarian serta memperbaiki kehidupan.
5.    Kerjasama. Metodologi pembelajaran yang dibangun selalu berdasarkan kerjasama dalam proses pembelajaran. Tidak perlu ada lagi sekat-sekat dalam proses pembelajaran, juga tidak perlu ada dikotomi guru dan murid, semuanya adalah murid (orang yang berkemauan belajar). Semuanya adalah tim yang berproses secara partisipatif. Kerjasama dari antarindividu berkembang ke antarkelompok, antardaerah, antarnegara, antarbenua, dan antarsemuanya :
6.    Sistem evaluasi berpusat pada subjek didik. Puncak keberhasilan pembelajaran adalah ketika subjek didik menemukan dirinya, berkemampuan mengevaluasi diri sehingga tahu persis potensi yang dimilikinya, dan mengembangkannya sehingga bermanfaat bagi yang lain.
7.    Percaya diri. Pengakuan atas keberhasilan bergantung pada subjek pembelajaran itu sendiri. Pengakuan dalam bentuk apapun (termasuk ijazah) tidak perlu dicari. Pengakuan akan dating dengan sendirinya manakala kapasitas pribadi dari subjek didik meningkat, dan bermanfaat bagi yang lain.
Melalui kesempatan ini, tentu kami butuh bersinergi dengan semuanya, mengingat tantangan-tantangan yang kita hadapi sedemikian besar. Di lingkungan masyarakat kita termasuk para state apparatus sudah sedemikian terinternalisir sistem nilai yang berbeda dengan budaya progresif. Sering masyarakat lebih suka melihat anaknya yang nurut sama guru, berperilaku dan berpakaian rapi, berambut pendek bagi laki-laki, panjang bagi perempuan, dan seterusnya. Celakanya kadang-kadang kita sendiri justru sebal melihat anak yang pada dasarnya kreatif hanya Karena berbeda dengan kebiasaan sehari-hari kita. Dengan demikian, ini yang justru paling berat adalah mengalahkan diri kita sendiri yan oleh Nabi SAW disebut lebih berat dari Perang Badar itu.
Padahal, di zaman Khalifah Umar Ibnu Khattab dimana situasi berjalan dengan tanpa perubahan yang signifikan saja muncul kata-kata Umar terkait dengan pendidikan yang sangat terkenal itu
“Didiklah anak-anakmu dengan pola pendidikan yang berbeda dengan pola pendidikan yang kalian dapatkan karena sesungguhnya mereka itu dilahirkan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu.”
Kata-kata di atas justru tepat di era sekarang ini, dimana dunia sudah menjadi digital. Anak-anak yang terlahir tahun 1982 yang selanjutnya disebut dengan generasi millennials ini, semestinya mendapat perlakuan pendidikan yang berbeda dengan para guru yang kebanyakan lahir jauh di bawah 1982. Celakanya, para guru muda yang pada tahun 2006 ini baru berusia 20 tahun mereka berwatak “tua” karena yang mereka dapatkan juga dari pola “tua” yang sudah out of date.
Salatiga, 17 Ramadhan 1427 H
Bahruddin

No comments:

Post a Comment