Wednesday, March 31, 2010

Di saat kesulitan menghimpit.

Aslkm.


Hendaklah orang yang mempunyai kelapangan berinfaq menurut kemampuannya. Dan barangsiapa disempitkan rezekinya maka hendaklah dia berinfaq dari apa yang Allah berikan kepadanya. Allah tidak akan memikulkan beban kepada seseorang kecuali apa yang Allah berikan kepadanya. Allah akan menjadikan kemudahan sesudah kesempitan. (Ath-Thalaaq:7)


Ketika kita menemukan kesulitan muncul dalam kehidupan kita, apapun namanya, apapun bentuknya, bersegera saja mencari orang-orang yang lebih sulit dari diri kita. Bersegera saja mencari orang-orang yang lebih susah, lebih menderita daripada beban yang kita pikul. Mana perlu, korbankan banyak (jangan sedikit) apa yang kita punya. Kalaupun kita engga punya uang, tapi kita masih punya aset barang, jual saja barangnya, lalu sedekahkan. Keajaiban dari menolong orang, keajaiban dari bersedekah akan membebaskan kita dari kesulitan seperti apapun kesulitan tersebut adanya. Buktikan saja.


Lalu ada yang bertanya, ukuran sedekahnya bagaimana? Ukurannya adalah sebesar-besarnya kemampuan kita, dan sedekahlah yang terbaik. Besar kecilnya relatif. Tapi harus imbanglah dengan masalahnya. Kita punya masalah, sementara kita masih memiliki aset ratusan juta rupiah, lalu kita mengorbankan "hanya" beberapa ratus ribu rupiah, tentu akan terlihat ketidakimbangan. Lakukanlah pengorbanan yang terbaik, supaya Allah melihat, "hemmm, si Fulan mau mengorbankan harta dan jiwanya untuk-Ku, maka Aku akan bantu dia menyelesaikan persoalannya."


Wallahu fi 'anil 'abdi ma kanal 'abdu fi 'awni akhihi, Allah selalu berkenan membantu hamba-Nya, selama hamba-Nya berkenan membantu saudara-Nya. (al-Hadits).


Inilah rahasia Allah yang tidak ada seorangpun tahu. Kenapa juga mereka yang sulit justru harus mencari mereka yang lebih sulit? Kenapa mereka yang susah justru harus mencari mereka yang lebih susah? Dan kenapa mereka yang menderita harus mencari mereka yang lebih menderita? Malah bukan sekedar mencari, tetapi membantu melepaskan kesulitannya, menolong kesusahannya, dan meringankan penderitaannya.


Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri!


...Dan apa saja yang kamu nafkahkan daripada harta, maka (kebaikannya) adalah untuk diri kamu sendiri. Dan tidaklah kamu nafkahkan sesuatu melainkan karena mengharapkan ridha Allah. Dan apa saja yang kamu nafkahkan diantara hartamu, niscaya disempurnakan Allah balasanya kepadamu, sedang kamu tidak dianiaya. (Al-Baqarah : 272).


Jika seseorang berinvestasi, lalu investasinya menguntungkan, maka biasanya dia terus menerus menambah jumlah investasinya lantaran yakinnya. Yakin sebab pengetahuannya, dan yakin sebab merasakannya. Dan kiranya, demikianlah yang mestinya terjadi.


Setelah mendapat pengalaman bahwa berinvestasi sedekah atau jual beli / berniaga di jalan Allah, adalah menguntungkan, mestinya seseorang terus memacu dirinya untuk terus menerus bersedekah. Tapi yang sering terjadi, kisah sukses tidak terjadi berulang. Sebab perbuatan itu tidak menjadi perilaku yang terus menerus. Alias berhenti sampai disitu saja, atau sebatas menjadi perbuatan yang membanggakan.


Do not stop! Ya. Mestinya, don't stop! Jangan berhenti. Terus, terus dan terus. Hingga cahaya amal semakin terus berkemilau. Dan ini berlaku bukan saja di ilmu sedekah / ibadah sedekah. Di seluruh ibadah, bila istiqamah, maka akan diberikan cahaya oleh Allah.


Salam, Yusuf Mansur.

No comments:

Post a Comment