Showing posts with label Ristek. Show all posts
Showing posts with label Ristek. Show all posts

Friday, December 30, 2011

IPB canangkan lima riset unggulan pada 2012

Rektor IPB Prof. Dr. Herry Suhardiyanto (Foto ANTARA)

Bogor (ANTARA News) - Institut Pertanian Bogor (IPB) menyambut 2012 dengan pencanangan lima riset unggulan, yang diharapkan dapat mewujudkan motto "Mencari dan Memberi yang Terbaik", serta memperkuat peran dalam pembangunan bangsa.

"Pada 2012, kami berharap dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas riset sebagai komitmen partisipasi IPB dalam pembangunan bangsa," ujar Prof Herry Suhardiyanto MSc pada Diskusi Akhir Tahun IPB di IICC Kota Bogor, Jumat.

Diskusi refleksi akhir tahun tersebut dihadiri seluruh pucuk pimpinan IPB. Selain dihadiri Rektor Prof Herry Suhardiyanto, hadir pula empat wakil rektor, Ketua Majelis Wali Amanat Prof Dr Didik J. Rachbini, Ketua Dewan Guru Besar Prof Dr Endang Suhendang, Sekretaris Senat Akademik Prof Dr Suryo Adiwibowo, serta para dekan.

Diskusi ini mengangkat tema "Aktualisasi Peran IPB dalam Implementasi Paradigma Baru Pembangunan yang Berkedaulatan, Berkeadilan, dan Berkelanjutan".

Menurut Prof Herry Suhardiyanto, pihaknya telah menetapkan lima isu sebagai prioritas bagi dosen dan mahasiswa IPB dalam melakukan riset ke depan.

Kelima isu tersebut, lanjut Prof Herry Suhardiyanto, yaitu pangan, energi, ekologi dan lingkungan, pengentasan kemiskinan, dan biomedis.

Prof Herry mengutarakan, penguatan lima isu dalam penelitian IPB ke depan diharapkan dapat memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa, baik pada bidang pertanian maupun bidang-bidang lainnya.

"Sangat penting bagi Indonesia untuk melakukan reorientasi paradigma dan strategi pembangunan yang dapat mendukung penguatan sektor pertanian, yang masih menjadi tumpuan hidup sebagian masyarakat," tegasnya.

Merujuk pada catatan IPB, hingga 2011, dari total angkatan kerja sebanyak 109 juta jiwa, 39,33 juta diantaranta masih bergantung pada sektor pertanian alias sekitar 37 persen.

Sementara itu sektor yang memiliki pertumbuhan lebih tinggi dari sektor pertanian dan berkontribusi besar terhadap PDB (sektor industri dengan share terhadap PDB hampir 30 persen) ternyata hanya mampu menyerap 12,5 persen angkatan kerja yang ada.

"Tahun-tahun mendatang merupakan momentum yang sangat penting dalam menentukan perjalanan bangsa. Strategi pembangunan yang berbasis pada sumberdaya alam terbarukan, dimana pertanian menjadi pilar pokoknya masih sangat diharapkan peran signifikannya," demikian Prof Herry menjelaskan.(ANT-053/M027)



• Antaranews

Monday, December 5, 2011

Riset Ilmuwan MITI Berhasil Menemukan Alat Pembasmi Kanker Otak

Otak (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR - Sekelompok ilmuwan CTech Laboratory, sebuah lembaga riset yang berafiliasi dengan Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), berhasil menemukan alat pembasmi kanker otak.

"Ini sebuah terobosan di dunia kedokteran yang telah berhasil dilakukan ilmuwan Indonesia," kata pimpinan tim peneliti CTech Laboratory, Dr Warsito P. Taruno, melalui surat elektronik di Bogor, Jawa Barat, Senin.

Ia mencaat, "Ini pengembangan alat dari riset kami di bidang tomografi, setelah alat pembasmi kanker payudara, kami berhasil mendesain alat pembasmi kanker otak." Ia menyampaikan hal itu usai memberikan pemaparan dalam Temu Ilmiah Nasional Masyarakat Imuwan dan Teknolog Indonesia (Temilnas MITI) wilayah Sumatera Bagian Utara di Kampus Universitas Sumatera Utara, Medan.

Selain itu, dia pun mengemukakan, temuan tersebut menggunakan prinsip yang sama pada alat pembasmi kanker payudara, yaitu menerapkan metode radiasi listrik statis, temuan itu, kata dia, telah diujicoba oleh seorang pasien penderita kanker otak kecil.

"Alhamdulillah, setelah pemakaian dua bulan pasien dinyatakan sembuh total. Saya baru mendapat salinan hasil CT-Scan otak pasien oleh tim dokter rumah sakit," kata Ketua Umum MITI itu.

Kesuksesan tim dari CTech yang didukung oleh perusahaan Edwar Technology ini dipaparkan dalam forum pertemuan yang dihadiri tidak kurang dari 1.500 peserta dari berbagai kampus di Sumut, Sumatera Barat dan Aceh.

Dalam seminar yang juga menghadirkan mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Suharna Surapranata, dan staf pengajar Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Yani Absah, Warsito menceritakan proses terapi dari pasien penderita kanker otak kecil (cerebellum) yang saat pertama datang dalam kondisi yang mengenaskan.

"Karena otak kecil sebagai pengendali sistem motorik tubuh, maka pasien sudah tak bisa menggerakkan seluruh ototnya. Dia hanya bisa terbaring dan tak mampu bergerak, termasuk menelan makanan atau minuman yang diasupkan ke mulutnya," katanya.

Tim peneliti kemudian merancang perangkat yang disesuaikan dengan diagnosis dokter.

Dalam terapi ini, Warsito menjelaskan, pihaknya memang bekerjasama dengan tim dokter ahli radiologi dan onkologi dari sebuah rumah sakit besar di Jakarta.

"Reaksi positif sudah kami peroleh dalam beberapa hari pemakaian. Pasien sudah bisa tersenyum dan sepekan kemudian sudah bisa menerima asupan makanan dan minuman dari mulutnya. Kondisi semakin membaik dalam waktu sebulan karena ia sudah bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Dan, puncaknya, dua bulan setelah terapi, pasien dinyatakan sembuh total dari kanker otaknya," katanya.

Ia mengatakan, metode radiasi listrik statis berbasis tomografi ini, sepenuhnya hasil karya anak bangsa yang bakal menjadi terobosan dalam dunia kedokteran.

Selain akan merevolusi pengobatan kanker secara medis, kata dia, juga akan meminimalisasi biaya yang harus dikeluarkan pasien atau keluarganya.

"Yang pasti ini akan mengubah metode pengobatan yang selama ini menggunakan radiasi berisiko tinggi dan berbiaya mahal," katanya.

Warsito mengakui bila ini masih dalam taraf penelitian yang perlu dielaborasi lebih jauh. "Perlu kajian dan penelitian lebih lanjut. Mungkin ada hal-hal yang kami belum ketahui, khususnya dalam dunia medis," katanya.

Sementara, mantan Menristek Suharna Surapranata menyambut baik temuan dari tim CTech dan MITI ini.

Menurut dia, perlu kajian lebih lanjut dan partisipasi banyak pihak yang berkepentingan guna mendapatkan hasil yang lebih baik.

"Kalau mendengar paparan beliau, saya kira ini satu hal yang luar biasa dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak, khususnya pemerintah. Juga para pemangku kebijakan dari bidang kesehatan agar hasil penelitian dan penemuan ini memberi manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia dan dunia," demikian Suharna Surapranata.


• Republika

UI Bangun Pusat Riset Nano Technology

REPUBLIKA.CO.ID,DEPOK--Universitas Indonesia (UI) membangun Pusat Riset Nanotechnology untuk menyediakan "basic research" atau bahan mentah teknologi Departemen Elektro, Fakultas Teknik.

"Direncanakan pada April 2012, pusat riset ini sudah dapat mewujudkan harapan menjadi "perkebunan teknologi"," kata Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri di Depok, Senin.

Penandatanganan prasasti gedung yang diberi nama "Mochtar Riady Plaza Quantum Universitas Indonesia (MRPQ)" dihadiri oleh Mendikbud Mohammad Nuh, Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Somantri, Plt Ketua Senat Universitas Sudjianto, Dekan Fakultas Teknik UI Bambang Sugiarto, Ketua Ikatan Alumni UI (ILUNI) Chandra Motik, serta Pendiri Lippo Group Dr (HC) Mochtar Riady.

Rektor berharap pembangunan gedung tersebut menyediakan bahan mentah teknologi yang kemudian akan diolah oleh industri sesuai kebutuhan industri masing-masing.

Gedung berlantai 5 yang dibangun di atas lahan seluas 1.900 meter per segi dengan luas bangunan sekitar 3.000 meter per segi menyediakan "basic research", atau bahan mentah teknologi, yang kemudian akan diolah oleh industri sesuai kebutuhan industri masing-masing.

Ia mengatakan pola tersebut sudah lama dikembangkan oleh Universitas Shizuoka di Jepang yang menyediakan teknologi dasar, yang kemudian dikembangkan oleh industri seperti Sanyo misalnya, yang bermodalkan teknologi dari universitas tersebut lalu mengimplementasikan menjadi berbagai alat kebutuhan rumah tangga masyarakat Jepang.

Menurut dia, pusat riset yang dirancang oleh Arsitek lulusan UI, Yori Antar ini, akan menjadi salah satu rujukan dari riset kolaboratif yang dilakukan oleh berbagai disiplin ilmu di Indonesia.

Dengan kekuatan sumber daya manusia lanjutnya berupa para peneliti berkelas dunia, UI dapat bekerjasama dengan banyak industri tanah air, sehingga akan melahirkan perusahaan-perusahaan lokal yang menjadi penyuplai utama kebutuhan masyarakat dalam negeri, dengan bermodalkan teknologi dari universitas di dalam negeri.

Sementara itu Chairman Lippo Group Mochtar Riady mengatakan kualitas pendidikan sangat penting untuk kemajuan suatu bangsa, karena tanpa pendidikan yang berkualitas sangat sulit untuk memajukan bangsa. "Pendidikan merupakan dasar untuk pembangunan yang kuat," ujarnya.
Ia menilai kualitas pendidikan di UI tidak kalah dengan di luar negeri, untuk itu kita perlu memberi dukungan kepada Universitas Indonesia tersebut.

Ketua Majelis Wali Amanah UI periode 2002 - 2007 tersebut memiliki kepedulian yang besar akan kemajuan dunia pendidikan khususnya pengembangan teknologi. Dikatakan dia pihaknya akan menyediakan dana Rp 5 miliar untuk pengembangan sumber daya manusia, agar penelitian tersebut berjalan sehingga berguna bagi masyarakat.

Pendiri Group Lippo ini juga telah mendirikan MRIN (Mochtar Riady Institute of Nanotechnology) di Lippo Karawaci Tangerang yang berkonsentrasi pada penelitian kanker hati (liver cancer) yang terintegrasi dengan Siloam Hospitals Group dan Teaching Hospital dalam grup rumah sakit tersebut.

Sedangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh mengatakan pengembangan nano tehcnology tersebut merupakan relatif baru sehingga diperlukan keseriusan dalam mengelola hal tersebut.

Ia mengatakan nano technology berguna bagi kehidupan manusia baik untuk kesehatan, teknologi, pembuatan chip dan juga untuk ekonomi.


• Republika

Friday, December 2, 2011

IPB teliti obat herbal untuk cegah kepikunan

Herbal Medicines. (istimewa)

Bogor (ANTARA News) - Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor melakukan penelitian mengenai potensi obat berbasis herbal untuk penyakit demensia atau kepikunan.

"Sudah lebih dari dua tahun ini tim kami melakukan penelitian yang berkaitan dengan potensi herbal untuk demensia," kata Kepala Pusat Studi Biofarmaka IPB Prof Dr Ir Latifah K Darusman, MS di Bogor, Jawa Barat, Jumat.

Menjawab pertanyaan ANTARA pada diskusi ilmiah bertema "Tipe Demensia Alzheimer" yang menghadirkan narasumber ahli saraf dr Andreas Harry Sp.S (K), ia mengemukakan bahwa penelitian tersebut lebih difokuskan pada kadar asetilkolina (acetylcholine) pada sejumlah herbal.

"Jadi, kami terus mencari pada herbal apa saja yang kadar asetilkolinanya cukup kuat," kata Latifah K Darusman.

Pada diskusi yang diikuti sejumlah peneliti yang juga kandidat master (S2) dan doktor (S3) itu, pihak Pusat Studi Biofarmaka IPB mendapatkan paparan yang cukup rinci dari Andreas Harry mengenai demensia.

Ahli saraf lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang juga anggota "Advance Research Alzheimer`s" itu menjelaskan bahwa demensia adalah sindroma klinik yang meliputi hilangnya fungsi intelektual dan berkurangnya domain memori yang menyebabkan gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari.

"Demensia bersifat progresif bertahap, dan pada penderitanya tetap dalam keadaan sadar (normal consiousness)," katanya.

Ia menjelaskan, pada konferensi dokter ahli saraf dunia tentang Alzheimer yang berlangsung di Paris, Prancis, pada pertengahan Juli 2011, para ahli memperkirakan bahwa penderita demensia (kepikunan) di negara-negara berkembang akan meningkat drastis.

"Di negara-negara berkembang, jumlah penderita demensia akan meningkat lebih drastis selama dekade berikutnya, diperkirakan tiga sampai kali lipat lebih tinggi daripada di negara maju," kata Andreas Harry, yang menjadi satu-satunya peserta asal Indonesia yang diundang mengikuti konferensi dunia para dokter ahli Alzheimer itu.

Konferensi internasional tentang penyakit Alzheimer 2011 yang diselenggarakan Asosiasi Alzheimer (AAICAD) itu, yang diikuti para peneliti dunia mengenai penyakit tersebut, juga menyimpulkan obat baru "memantine" adalah pengobatan yang unik bagi demensia, khususnya jenis Alzheimer.

Selain itu, kata dia, "memantine" yang sudah masuk di Indonesia, namanya dikenal dengan "Ebixa", yang disebutkan efektif dalam mencegah secara klinis memori yang memburuk.

"Jadi penurunan memori secara dini harus dicegah untuk demensia di masa depan," kata ahli saraf di bawah bimbingan Prof dr Djoenaidi Widjaya, Ph.D, Sp.S (K), yang juga dosen pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara (Untar) Jakarta.

Sementara itu, pada konferensi ASEAN Neurological Association (ASNA) 2011 di Sanur, Bali pada awal November 2011, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Prof Mohammad Hasan Machfoed, SpS (K) mengemukakan, pihaknya akan melakukan orientasi program menemukan insiden prevalensi penyakit demensia (kepikunan) pada masyarakat Indonesia.

"Kalau di luar negeri (angka prevalensinya) langsung bisa diketahui karena datanya ada, sedangkan kalau di kita (Indonesia) tidak. Angka (di Indonesia) cukup tinggi, namun jumlah pastinya secara resmi belum ada," katanya.

ASNA adalah forum dua tahunan para dokter ahli saraf di Asia Tenggara, sebagai ajang komunikasi dan pertukaran pengetahuan di kalangan dokter ahli saraf se-Asia Tenggara (ASEAN).

Meski untuk prevalensi demensia di Indonesia belum ada angka resmi, namun Mohammad Hasan Machfoed memprakirakan angkanya di kisaran lima hingga tujuh persen.

Hitungan angka yang diprakirakan itu, kata dia, berapa penduduk Indonesia, berapa yang usianya tua (lanjut usia), dan dari yang tua itu berapa yang mengalami demensia.

"Kalau saya bisa sebutkan kira-kira 80 persen dari demensia, jadi kalau diambil dari yang pikun itu (jumlahnya) cukup tinggi," kata guru besar Fakultas Kedokteran Unair kelahiran Madura, Jawa Timur, itu.

Dikemukakannya bahwa di Indonesia, demensia itu makin banyak karena yang pertama, dari aspek usia.

"Demensia menjadi penting karena usia harapan hidup itu makin lama makin tinggi, sedangkan demensia itu penyakitnya orang tua bukan anak-anak, dengan demikian dengan kondisi tersebut maka timbul kelainan yang disebut demensia.

"Nah, nanti polanya akan ke sana, justru mungkin akan terbanyak, karena apa, penyakit-penyakit yang sifatnya degeneratif itu, salah satunya adalah demensia ini," katanya,(A035/N002)



• Antaranews

Wednesday, November 30, 2011

UGM Kembangkan Implan Tulang Dalam Negeri

“Implan impor itu disesuaikan dengan tulang orang Eropa yang tinggi."

Struktur tulang manusia (fallingpixel.com)

VIVAnews
- Ketersediaan alat bantu penyambung (implan) patah tulang di dalam negeri masih terbatas, sementara kebutuhan implan dalam negeri selama ini disuplai oleh produk luar negeri. Hal ini menyebabkan ketergantungan produk implan impor tergolong tinggi.

Di tengah ketergantungan implan impor tersebut, peneliti dari UGM menghasilkan riset bahwa implan dari luar negeri tidak sesuai dengan karakter tulang orang Indonesia.

“Implan impor itu disesuaikan dengan tulang orang Eropa yang tinggi,” ujar Salah satu peneliti Center for Innovation of Medical Equipments and Devices (CIMEDs), Suyitno, di sela Forum Riset Industri Indonesia di Auditorium Pasca-Sarjana UGM, Jakarta, Rabu, 30 November 2011.

Ia menyebutkan bahwa implan impor kurang sesuai dengan tulang orang Indonesia yang berkarakteristik pendek dan kecil. Untuk itu, ia bersama empat koleganya di CIMEDs membuat implan khusus yang disesuaikan dengan tulang orang Indonesia.

Dari hasil uji coba di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta, implan tersebut berfungsi dengan baik. “Hasilnya 100 persen tidak ada masalah,” ujarnya. Implan buatan timnya mengadaptasi kontur tulang orang Indonesia.

Secara kualitas implan yang dikembangkan setara dengan yang impor, karena materi implan tersebut sudah menggunakan bahan Stainless Stell 316 L, Stainless Stell 316 LVM, serta Titanium Great 5. Bahan dasar dari implan yakni Nikel, Krom, Molibdenum dan Besi.

Untuk bahan baku dari impan buatannya, saat ini masih diimpor. Namun, pihaknya akan mengembangkan riset soal bahan baku lokal. “Bahan baku dari kita itu bisa, cuma masih dilakukan riset,” ujarnya.

Riset yang dijalankan saat ini menurutnya akan menjadi dasar untuk didirikannya industri baru dalam teknologi kesehatan. Setelah memproduksi dan uji coba, kini pihaknya mulai mengkomersilkan produk implan tersebut, dan hanya tinggal menunggu izin penjualan dan peredaran dari Kementerian Kesehatan untuk diterapkan di berbagai rumah sakit.

Ke depannya, ia bersama timnya akan mengembangkan implan untuk tulang-tulang kecil seperti tulang rahang. Selain itu, menurutnya, yang tidak kalah penting yakni pengembangan alat pemasangan maupun alat bedah implan tersebut. “Itu akan kami kembangkan,” ujarnya.

Dengan tersedianya implan khusus untuk tulang orang Indonesia, maka akan membantu para pasien yang terkena patah tulang seperti korban bencana yang 60 persen menderita patah tulang.

“Kalau menunggu implan dari luar negeri butuh waktu lama,” ucapnya. (eh)



• VIVAnews

Monday, November 28, 2011

Kemenristek Buat Pengolahan Air Tenaga Surya

Alat ini nantinya dapat diterapkan di daerah pemukiman dan perkampungan.

Alat ini nantinya dapat diterapkan di daerah pemukiman dan perkampungan.

VIVAnews
- Persoalan air merupakan salah satu perhatian masyarakat dunia selain persoalan makanan dan energi. Terlebih, sistem sirkulasi air dapat terpengaruh oleh perubahan iklim maupun eksploitasi air yang tidak seimbang.

Seiring dengan meningkatnya penduduk dunia, air bersih juga semakin langka. Paradigma yang saat ini berkembang bukan hanya terkait persoalan efisiensi maupun penyimpanan air, tapi lebih kepada penggunaan air demi mencapai kemakmuran.

“Kita harus hati-hati sebelum kita kekurangan air,” kata Menristek Gusti Muhammad Hatta usai membuka The Sixth Open Science Meeting di Puspitek, Serpong Tangerang, 28 November 2011.

Gusti menyebutkan, kondisi air di Indonesia sendiri masih dihadapkan pada kualitas, meski secara kuantitas, beberapa daerah sudah mampu mencukupi kebutuhan akan air. “Kualitas air di Indoensia menurun, salah satunya adalah akibat industri,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Gusti, perlu pencegahan limbah produksi yang mengotori air. Selain itu, Gusti menyebutkan, sebelumnya, saat menjadi menteri Lingkungan Hidup, ia menargetkan mengurangi limbah industri yang mengalir ke perairan sampai 50 persen. Selain itu, ia juga sudah mewajibkan industri untuk melaksanakan tiga program wajib terkait dengan limbah industri.

Sedangkan untuk Kemenristek, jelasnya Gusti, pihaknya akan membuat serta meyediakan alat sederhana yang dapat diterapkan di daerah pemukiman dan perkampungan. “Kita akan sediakan alat yang bisa olah air dengan energi matahari,” katanya.

Gusti juga menyoroti kota besar seperti Jakarta. Menurutnya, jika penggunaaan air dengan penyedotan dari dalam tanah tidak diawasi, maka perilaku itu akan mengancam Jakarta. “Kalau Perda tidak dijalankan, air laut cepat naik ke daratan,” ujarnya.

Jakarta, menurut Gusti, masih dalam kategori rendah penyimpanan dan penyerapan air, karena idealnya 30 persen wilayah harus memenuhi RTH. Sayangnya, saat ini hanya 10 persen wilayah Jakarta yang berkategori RTH.

Untuk mencari solusi terhadap persoalan air, Kemenristek menggandeng Royal Netherlands Academy of Arts and Sciences (KNAW) Belanda dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Pertemuan para peneliti dua negara ini akan mengangkat permasalahan air dari berbagai aspek yang meliputi sifat kimia, tingkat polusi, ketersediaan, maupun dampak sosial bagi masyarakat. (adi)



• VIVAnews

Sunday, November 27, 2011

Peneliti: pemuliaan tanaman melon perlu dilakukan

Buah Melon. (FOTO ANTARA/Anis Efizudin)

Yogyakarta (ANTARA News) - Pemuliaan atau pengembangan tanaman melon perlu dilakukan agar petani dapat memperoleh benih buah tersebut dengan harga terjangkau, kata peneliti dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Budi Setiadi Daryono.

"Selama ini untuk memperoleh benih melon petani masih mengandalkan impor dengan harga yang relatif mahal. Pemuliaan tanaman melon dapat menghasilkan kultivar lokal yang unggul dan dapat bersaing dengan kultivar-kultivar lainnya yang berasal dari luar negeri," katanya di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, pemuliaan tanaman melon di Indonesia perlu dilakukan untuk merakit kultivar lokal yang unggul dan memiliki nilai jual di masyarakat. Jenis kultivar lokal yang prospek untuk dikembangkan yakni kultivar Melode Gama-1 dan Gama Melon Basket yang telah dikembangkan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kultivar Melodi Gama-1 sebagai kultivar baru memiliki keunggulan antara lain tahan terhadap serangan penyakit jamur tepung atau "powdery mildew" yang disebabkan podosphaera xanthii dan virus kyuri green mottle mosaic virus (KGMMV) yang sering menyerang tanaman melon di Indonesia.

"Selain itu, kultivar Melodi Gama-1 yang memiliki bentuk globular itu mempunyai waktu panen yang relatif singkat, yakni 55-57 hari sejak tanam dengan berat buah rata-rata 1,7-2,0 kilogram," katanya.

Ia mengatakan, untuk kultivar Gama Melon Basket selain tahan terhadap serangan penyakit dan hama juga memiliki rasa yang manis, mengandung kadar B-karoten dan provitamin A relatif tinggi sehingga baik untuk kesehatan mata dan kulit.

"Potensi lain yang dimiliki oleh kedua kultivar itu adalah benihnya memiliki kualitas baik karena memiliki viabilitas yang tinggi," kata Budi.

Menurut dia, benih kedua kultivar itu menurut rencana akan dilepas dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan benih yang diperoleh dari impor sehingga petani dapat menekan biaya produksi. Kedua kultivar itu juga mampu ditanam di lokasi yang berbeda dan pada musim yang berbeda (kemarau dan hujan) dengan perawatan yang optimal.

"Dengan demikian, harga pembelian fungisida dan insektisida dapat lebih hemat karena merupakan kultivar yang relatif tahan serangan hama dan penyakit," katanya.

Ia mengatakan, upaya itu diharapkan dapat memenuhi permintaan konsumsi melon setiap tahun yang selalu meningkat sehingga memerlukan pasokan yang cukup besar dan berkesinambungan.

"Mengingat nilai ekonominya yang cukup tinggi, petani di Indonesia telah berupaya melakukan budi daya melon di berbagai daerah," kata Budi.(L.B015*H010/H008)



• Antaranews

Friday, November 25, 2011

Peneliti: air laut dalam berpotensi layak konsumsi

Bogor (ANTARA News) - Peneliti Institut Pertanian Bogor menyatakan bahwa air laut dalam berpotensi menjadi sumber air yang layak dikonsumsi.

Menurut keterangan tertulis Humas IPB di Bogor, Jumat, peneliti tersebut adalah Prof Bonar P Pasaribu, Dr Djisman M, dan Dr Jonson L Gaol yang merupakan peneliti dalam eksplorasi dan eksploitasi air laut dalam (ALD) di Indonesia.

Saat memaparkan penelitiannya, Jonson L Gaol menyatakan bahwa bumi, planet tempat manusia hidup, sering dijuluki sebagai planet air.

Julukan itu diberikan, karena bumi adalah planet yang memiliki air hingga 70 persen di permukaannya.

Hanya saja, kata dia, yang menjadi pertanyaan adalah apakah dengan melimpahnya air tersebut bisa memenuhi kebutuhan manusia hingga "tak terbatas".

"Karena itu, harus dicari alternatif sumber-sumber air layak konsumsi. Mengingat saat ini pencemaran lingkungan dan alih fungsi lahan yang menyebabkan kekeringan, mengakibatkan air berkurang dan kurang layak konsumsi," katanya.

Menurut dia, penelitian yang dilakukan timnya bisa dijadikan sebagai alternatif sumber-sumber air layak konsumsi selain di darat.

Jonson menjelaskan bahwa air laut dalam (ALD) dengan kandungan mineralnya, setelah diolah dengan baik, sangat penting dan bermanfaat untuk pasokan air minum bagi kelangsungan hidup dan kesehatan tubuh manusia.

"Penyediaan air mineral laut dalam ini juga merupakan suatu kegiatan yang bersifat strategis untuk mengantisipasi kemungkinan krisis air bersih di masa mendatang," katanya.

Ia mengatakan, ALD setelah melalui proses desalinasi, juga memberi hasil sampingan, yaitu garam berkualitas tinggi.

Di samping itu ALD dapat diaplikasikan untuk berbagai kegunaan, yaitu untuk budi daya perikanan, pertanian, bahan kosmetik, obat-obatan, spa dan sebagai pendingin ruangan.

Menurut dia, salah satu kelebihan ALD ini adalah mengandung mineral yang sangat kaya dan dibutuhkan oleh tubuh manusia. Berbeda dengan air murni dalam kemasan yang tidak mengandung mineral.

Karena manfaatnya yang sangat baik, maka industri ALD telah berkembang di Hawaii dan Jepang sejak sekitar 20 tahun silam, dan sejak sekitar lima tahun lalu Korea Selatan, Taiwan, dan India juga telah mengembangkan industri ini.

"Di Jepang sendiri terdapat 13 merek air mineral laut dalam sebagai air minum dalam kemasan (AMDK) yang beredar di pasaran hingga sekarang," katanya.

Ia menjelaskan, ALD disedot dari kedalaman lebih dari 300 meter. Lapisan ini berada di bawah lapisan termoklin dan juga di bawah lapisan eufotik.

Air di kedalaman sekitar 300 meter ini suhunya berkisar 10 derajat Celcius, bersih, kaya nutrient, kaya mineral, dan stabil.

Kondisi ALD ini berbeda dengan air laut di permukaan (di lapisan zona eufotik) yang sangat dipengaruhi proses yang terjadi di lapisan permukaan seperti fotosintesis, pencemaran, suspense sedimen dan blooming alga.

Dengan demikian, katanya, ALD sangat layak untuk dijadikan sebagai sumber air minum.

Sementara itu, berdasarkan pengalaman Prof Bonar Pasaribu yang menimba ilmu selama delapan tahun di Jepang dan melihat perkembangan industri maritim di sana sejak 35 tahun yang lalu membuatnya terinspirasi.

Inspirasi itu tidak hanya mengembangkan pendidikan ilmu dan teknologi kelautan di Indonesia, tetapi juga mengembangkan industri maritim, salah satunya adalah industri ALD.

Bekerja sama dengan koleganya yang satu almamater di Universitas Tokai, Jepang Kimiya Homma, mereka merintis industri ALD di Bali.

"Setelah hampir dua tahun melakukan kajian, maka tahun ketiga telah mulai dibangun industri ALD di Bali," katanya.

Industri yang dibangun, kata dia, masih dalam skala laboratorium untuk menghasilkan seribu liter air mineral laut dalam per hari.

Setelah melakukan pengujian laboratorium dan memperoleh berbagai perizinan, maka saat ini air mineral laut-dalam dalam bentuk AMDK yang pertama di Indonesia telah siap didistribusikan ke masyarakat.

Produk AMDK ini di bawah PT Omega Tirta Kyowa dengan merek dagang "Oceanis" telah dimulai dipasarkan di Pulau Bali. (ANT-053/M027)


• Antaranews

Sunday, November 13, 2011

Limbah Pengolahan Minyak Jarak untuk Antirayap

BOGOR--MICOM: Sebuah riset menemukan bahwa limbah sisa pengolahan minyak tanaman jarak (Jatropha curcas L.) bermanfaat sebagai antirayap.

Riset dilakukan mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Reza Ramadhan.

Keterangan Humas IPB yang diterima di Bogor, Sabtu (12/11), menyebutkan bahwa penelitian di bawah arahan dosen pembimbing Ir Deded Sarip Nawawi MSc itu difokuskan pada sisa pengolahan minyak jarak yaitu bungkil jarak.

Menurut Reza Ramadhan, rayap merupakan salah satu faktor perusak bangunan, komponen kayu dalam rumah, buku, arsip, dokumentasi, serta beberapa jenis tanaman pertanian atau perkebunan.

Rayap adalah sekelompok serangga yang memiliki kemampuan mencerna selulosa, yaitu produk alam yang banyak terdapat pada kayu, daun, batang, kertas, dan karton.

Untuk mengatasi serangan rayap, manusia berupaya melakukan pengendalian, namun sebagian besar pengendalian rayap didominasi penggunaan bahan kimia (termitisida).

Pemilihan bungkil jarak berdasarkan hasil penelitian bahwa bungkil yang diperoleh dari hasil pengolahan minyak jarak mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi, tapi juga mengandung racun yang cukup kuat. Racun tersebut dapat dalam bentuk risin atau risimin alkaloid.

Risin dan risimin alkaloid termasuk ke dalam senyawa bioaktif. Senyawa bioaktif merupakan senyawa yang memiliki aktivitas biologis terhadap organisme lain atau pada organisme yang menghasilkan senyawa tersebut. Senyawa bioaktif hampir selalu toksis pada dosis tinggi. (Ant/OL-5)


• MediaIndonesia

Saturday, November 12, 2011

Alat Deteksi Katarak Produk Dosen Unsoed Dilirik Konglomerat Dunia

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO - Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokero, patut berbangga. Hasil temuan salah seorang staf pengajarnya, dilirik banyak konglomerat untuk diproduksi secara massal. Tawaran tak hanya datang dari konglomerat asal Indonesia saja, tapi juga dari konglomerat Jepang dan Cina.

Temuan itu berupa alat deteksi dini penyakit Katarak. Sedangkan orang yang menemukan adalah Dr Eng Retno Supriyanti ST MT, yang kini menjadi staf pengajar di Program Studi Teknik Elektro Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. ''Saat ini, Bu Retno masih berada di Jepang untuk melakukan riset yang lain. Tapi saya mendapat informasi ini dari email Bu Retno yang dikirim ke saya,'' kata Humas Keluarga Alumni Unsoed, Alief Einstein, Jumat (11/11).

Einstein juga menyebutkan, dalam surat elektroniknya tersebut, Retno dengan mendiskusikan tawaran dari konglomerat Indonesia tersebut, dengan anggota tim penemu lain yang seluruhnya berasal dari Nara Institute of Science and Technology, Jepang. ''Sampai saat ini, Bu Retno memang belum melakukan negoisasi secara langsung dengan konglomerat tersebut, tapi tawaran itu sudah ada,'' katanya.

Menurutnya, meski temuan itu disebutkan sebagai temuan tim dari Nara Institute of Science and Technology (NIST), namun temuan itu sejatinya memang hasil rekayasa teknologi yang dilakukan Retno. Hal ini karena desertasi program doktoral di NIST yang dibuat Retno, menyangkut pembuatan alat deteksi dini katarak, dengan judul desertasi Cataract Screening Techniques under Limited Health Facilities.


• Republika

Thursday, November 10, 2011

Peneliti LIPI yang "kebanjiran" pesanan material nano

Jakarta (ANTARA News) - Peneliti Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Nurul Taufiqu Rochman sedang "kebanjiran" pesanan dari kalangan industri untuk membuatkan kosmetik, pupuk, bahan polimer, suplemen makanan hingga ramuan herbal berteknologi nano.

"Sekarang ini banyak permintaan nanoherbal dari kalangan industri, misalnya nanokopi dengan ramuan penambah stamina dari tanaman purwaceng dan pasak bumi," kata Dr Nurul Taufiqu Rochman di sela Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) ke-10 di Jakarta, yang digelar selama tiga hari mulai tanggal 8-10 November.

Bahan herbal yang diolah menjadi seukuran nano (10 pangkat minus sembilan) jauh lebih mudah terserap ke dalam tubuh sehingga efeknya lebih baik dibanding tanpa teknologi nano, ujar Nurul yang juga memamerkan produknya di salah satu gerai LIPI Expo yang digelar bersama KIPNAS.

Peralatan pembuat bahan herbal seukuran nano ini, lanjut dia, merupakan pengembangan dari peralatan penghancur material yang ia temukan sebelumnya kemudian ditingkatkan kemampuannya dengan putaran mesin yang sangat tinggi serta tekanan dan suhu yang terkontrol.

Sebelumnya Nurul telah menciptakan sejumlah peralatan penghancur material menjadi seukuran nano dimana material yang dihancurkan antara lain mineral berupa Zinc Oksida (ZnO), Magnesium Oksida (MnO), Besi Oksida (Fe2O3), hingga Silikon Oksida (SiO2).

"Mineral-mineral ini digunakan untuk sejumlah keperluan pasar, contohnya kosmetik (krim pelembab dan krim tabir surya -red) yang sudah diproduksi secara massal oleh suatu perusahaan kosmetik," ujarnya sambil menambahkan bahwa selama ini bahan nanoteknologi selalu diimpor.

Zinc Oksida nanonya, ujar Nurul, juga telah diuji di Fakultas Kedokteran Unair untuk membuat semen tambal gigi yang hasilnya memuaskan, demikian pula pupuk berbahan MgO nano sudah diuji penyerapannya di tanaman. Ada pula bahan polimer untuk peralatan dapur antibakteri yang masih diuji.

Lulusan S1, S2 maupun S3 dari Kagoshima University Jepang ini memang gigih mencoba-coba dan mencari-cari cara membuat peralatan penghancur materi ke bentuk nano yang mampu "menanokan" materi hanya dalam waktu singkat dan sesuai kebutuhan riset.

"Kalau pakai alat penghancur dari luar negeri untuk membuat partikel nano seberat 500 gram butuh waktu hingga 500 jam, tapi dengan teknologi ini dalam waktu 18-20 jam sudah tercipta partikel nano, misalnya besi oksida 20 gram," katanya ketika diminta menjelaskan temuan sebelumnya.

Selain membuat alatnya, Nurul juga membuatkan materinya, antara lain material besi menjadi serbuk nano yang kemudian dibentuk menjadi nanowire (kawat nano), nanotube (pipa nano) dan nanorod (batang nano) yang berpotensi 300 kali kekuatan besi dan cukup banyak diperlukan di dunia industri.

"Harga partikel yang sudah berbentuk nano ini berlipat-lipat dibanding material aslinya," tambah Ketua Masyarakat Nanoteknologi Indonesia (MNI) itu.

Ia menjelaskan, nanoteknologi saat ini merupakan teknologi yang menjadi perhatian dunia dan terus diriset. Bentuk pipa partikel nano dari bismut mangaan misalnya biasa dipakai untuk "memory chip" dengan kapasitas selevel terrabyte.

Selama ini, lanjut dia, jika memerlukan partikel nano untuk penelitian, lembaga riset di Indonesia harus ke luar negeri karena ketiadaan alat pemroses partikel nano.

"Untuk membuat bentuk partikel nano yang fungsional kita harus mencoba berkali-kali, saya sendiri ketika mencari bentuk pipa, sampai 200 kali bereksperimen dengan alat ini," kata pemilik banyak paten di bidang nanoteknologi ini.

Pembuatan alat yang telah dimulainya sejak 2005 ini juga ditemukannya secara tidak sengaja setelah berkali-kali mencoba dengan modal sekitar Rp30 juta, ujar peneliti yang beberapa kali mendapat hibah Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) itu.

"Saya punya alat yang besar hingga kecil. Saya sendiri kaget, alat saya yang sederhana ini saja sudah bisa membuat partikel nanowire, nanotube atau nanorod. Di negara maju alat pembuat partikel nano semacam ini berteknologi canggih dan harganya ratusan juta rupiah," katanya.

Alat penghancur materinya itu juga sudah dilirik lembaga riset negara-negara lain seperti Jepang, Malaysia, Singapura dan lainnya. Namun sayangnya ia belum berminat mematenkan lagi beberapa peralatan terbarunya itu.

Nurul telah banyak memperoleh penghargaan antara lain sebagai Peneliti Muda Terbaik pada 2004 dari LIPI, Adhidarma Profesi Award (2005) dari Persatuan Insinyur Indonesia, The Best Idea and Innovation Award (2005) dari Majalah Swa dan penghargaan lainnya. (D009)


• Antaranews

Wednesday, November 9, 2011

Batan hasilkan benih puluhan varietas unggul

Yogyakarta (ANTARA News) - Para peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional menghasilkan benih puluhan varietas unggul untuk tanaman pangan, kacang-kacangan, dan tanaman industri yang penyebarannya telah mencapai 23 daerah di seluruh Indonesia.

"Puluhan varietas unggul itu terdiri atas 17 varietas padi, enam kedelai, satu kacang hijau, dan satu kapas," kata Kepala Pusat Diseminasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Totti Tjiptosumirat di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia di sela pembukaan lokakarya Pemanfaatan Hasil Litbang Iptek Nuklir (PHLIN) 2011 bertema "Meraih Keunggulan Melalui Iptek Nuklir", produksi masing-masing varietas unggul khususnya tanaman pangan dan kacang-kacangan itu di atas rata-rata jenis biasa.

Misalnya, produksi varietas unggul padi Bestari dan varietas unggul kedelai Rajabasa yang dihasilkan Batan lebih banyak sekitar 2-3 ton per hektare dibandingkan dengan jenis padi biasa. Hal itu tentunya dapat menguntungkan para petani, karena hasil panen yang diperoleh lebih banyak.

"Saat ini varietas unggul untuk tanaman pangan dan kacang-kacangan itu penanamannya telah mencapai 2,3 juta hektare di seluruh Indonesia. Sebelum ditanam varietas unggul itu telah melalui pengujian berupa kegenjahan (umur), ketahanan terhadap hama, produksi, dan rasa," katanya.

Ia mengatakan hingga kini produk hasil litbang Batan terutama di bidang pertanian telah diterapkan di daerah. Wilayah penyebarannya telah mencapai 23 daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

"Masyarakat menerima hasil litbang Batan tersebut, terbukti dengan terbentuknya sentra-sentra penghasil benih varietas unggul padi dan kedelai seperti di Subang, Lampung, Jambi, Banda Aceh, Gorontalo, Jepara, Blitar, dan Banyuwangi," katanya.

Dengan hasil pencapaian program PHLIN itu, menurut dia petani menjadi lebih mudah untuk memperoleh benih varietas unggul padi dan kedelai yang dihasilkan Batan yang bersertifikasi. Program pemanfaatan teknologi Batan itu dapat dilanjutkan secara mandiri.

Ketua Panitia Lokakarya Pemanfaatan Hasil Litbang Iptek Nuklir (PHLIN) 2011 Ruslan mengatakan penelitian di bidang iptek nuklir tentu akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Produk hasil penelitian harus terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan.

"Masukan dari mitra dan pengguna sangat diperluka untuk litbang selanjutnya. Oleh karena itu, diperlukan suatu komunikasi dalam bentuk pertemuan antara penghasil teknologi dengan penggunanya," katanya.

Berkaitan dengan hal itu, Pusat Diseminasi Iptek Nuklir Batan menyelenggarakan lokakarya PHLIN untuk mengetahui kemajuan pelaksanaan kegiatan serta mengevaluasi keberhasilan dan hambatan dalam pelaksanaannya.

"Kegiatan yang berlangsung hingga 9 November 2011 itu diikuti sekitar 100 peserta dari seluruh mitra daerah dan pengguna yang sudah menerapkan produk litbang Batan, calon pengguna baru, pakar, penentu kebijakan, dan wirausahawan," katanya.(L.B015*H010)


• Antaranews

Sunday, November 6, 2011

Mahasiswa IPB teliti lumut sebagai antimikroba

Bogor (ANTARA News) - Tim mahasiswa Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB, melakukan penelitian tentang potensi lumut sebagai zat antimikroba karena belum optimal dalam bidang pengobatan sementara potensi dan keragamannya tinggi.

Keterangan Humas IPB di Bogor, Sabtu, menyebutkan, tim yang diketuai I Made Pradipta Krisnayana itu melakukan penelitian melalui ajang program kreativitas mahasiswa.

Anggota tim peneliti di bawah bimbingan dosen Departemen Biologi FMIPA IPB Dr Triadiatiitu adalah Ivan Permana Putra, Anggianing Tyas Rahayu, Marinda Sari Sofiyana, dan Fitria Dewi.

Menurut I Made Pradipta Krisnayana, penelitian itu didasari oleh adanya potensi pemanfaatan lumut yang belum optimal, khususnya dalam bidang pengobatan, serta adanya kelimpahan dan keragaman yang tinggi pada lumut di Indonesia.

Timnya mengambil sampel lumut di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Jawa Barat untuk kemudian dikoleksi, dan selanjutnya berbagai jenis lumut diidentifikasi di Laboratorium Taksonomi Tumbuhan Departemen Biologi, FMIPA, IPB

Ia menjelaskan, dalam penelitian itu diketahui lumut mengandung senyawa penting antara lain oligosakarida, polisakarida, gula alkohol, asam amino, asam lemak, senyawa alifatik, phenylquinones, zat aromatik dan fenolik, serta masih banyak penelitian yang masih menghubungkan kandungan senyawa lumut dengan bidang medis.

Selain itu, katanya, juga diketahui bahwa sebagian besar jenis lumut yang berhasil diambil di Taman Nasional Gunung Halimun Salak memiliki kandungan yang dapat mengganggu pertumbuhan atau bahkan mematikan bakteri dengan cara mengganggu metabolisme mikroba yang merugi (senyawa aktif antimikrob).

Di antara jenis lumut yang memiliki potensi antimikroba adalah Jungermania. tetragona, Leucobryum javense, Vesicularia reticulata, Pogonatum flexicaule, Heteroscyphus succulentus, Aneura pinguis, Marchantiapolymorpha, dan Leucobryum trichodes.

Ia menjelaskan bahwa ekstrak lumut dengan pelarut air memberikan hasil aktivitas antimikroba terbaik dibandingkan pelarut n-heksana dan metanol.

Selain itu I Made Pradipta Krisnayana dan tim menemukan sebanyak 18 lumut yang mampu menghambat bakteri Gram positif, Gram negatif, maupun keduanya, seperti Atrichum, Dicranum, Mnium, Polytrichum, danSphagnum.

Adanya aktivitas antibakteri yang cukup tinggi ditemukan pada Barbula sp, pada lumut hati Pallavicinia dan Reboulia, dan pada Porella (1983).

Menurut dia, Ichikawa (1982) menemukan adanya aktivitas antimikroba di hampir semua lumut yang diuji.

Adanya tiga senyawa prenyl bibenzyls dari Radula spp. menunjukkan bahwa senyawa bibenzyls dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus.

Spesies lumut lainnya seperti Anomodon rostratus, Plagiomnium cuspidatum, dan Orthotrichum rupestre menghasilkan zat-zat yang mampu menghambat bakteridan jamur (McCleary et al. 1960).

Beberapa jenis lumut juga ditemukan memiliki berbagai aktivitas penghambatan terhadap beberapa substansi, seperti Plagiochasma, Marchantia tosana japonica yang menunjukkan aktivitas antitumor, antifungal, antimikrob, penghambatan superoksida, penghambatan aktivitas trombin, dan relaksasi otot.

Bakteri uji yang digunakan dalam penelitian ini merupakan bakteri yang umum digunakan untuk studi klinis.

Pada bakteri ini juga digunakan sebagai indikator kandungan antibiotik yang terdapat dalam ekstrak yang digunakan.

Bakteri yang digunakan pada uji ini adalah Eschericia coli yang mewakili bakteri Gram negatif, dan Bacillus subtilis yang mewakili bakteri Gram positif.

Untuk menambah kekayaan dunia medis diperlukan penelitian lanjutan perlu dilakukan uji toksisitas pada ekstrak lumut sebelum diaplikasikan sebagai zat antimikroba.

Bila berhasil dilakukan identifikasi dan pemurnian jenis senyawa aktif dari ekstrak lumut dari hasil penelitian ini, maka berpeluang untuk diajukan hak patennya, demikian I Made Pradipta Krisnayana. (ANT-053/M027)


• Antaranews

Thursday, November 3, 2011

Tunjangan Peneliti Bakal Naik Empat Kali Lipat

TEMPO Interaktif, Jakarta - Keluhan atas rendahnya kesejahteraan peneliti bisa jadi terjawab dalam waktu dekat. Menteri Negara Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta berjanji akan menggandakan tunjangan riset penelitian maksimal empat kali lipat dari yang didapat saat ini.

Tunjangan maksimal yang diperoleh peneliti sebesar Rp 1,4 juta per bulan. Menristek mengakui tunjangan peneliti lebih rendah daripada tunjangan guru. Dalam usulan anggaran terbaru, ia mengajukan angka ini dinaikkan hingga Rp 5,5 juta bagi peneliti terbaik.

"Besarannya sudah maksimal karena peraturan membatasi tunjangan tak bisa melebihi perolehan pejabat struktural eselon I," ujar Menristek saat jumpa pers di Lembaga Eijkman, Jakarta, Kamis, 3 September 2011.

Namun regulasi mengenai kenaikan tunjangan peneliti ini masih harus dirembuk di internal Kementerian. Sembari menunggu regulasi, Menristek telah menyurati Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara agar menyisakan ruang anggaran yang cukup untuk mengakomodasi rencana kenaikan tunjangan yang membutuhkan tambahan anggaran negara ini.

"Surat ini sebagai titipan jika nanti Menteri Keuangan menanyakan anggaran riset," kata dia.

Kenaikan tunjangan sendiri tak mungkin diterapkan pada awal tahun depan mengingat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012 telah diteken. Revisi anggaran baru bisa dilakukan pertengahan tahun 2012 saat pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan.(ANTON WILLIAM)


• TEMPOInteraktif

Tuesday, November 1, 2011

ITS Membuat Kapal Selam


KOMPAS/AGNES SWETTA PANDIA Sejumlah mahasiswa Fakultas Teknologik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) sedang menggarap Kapal Perang Crocodile-Hydrofoil di Laboratorium Hidrodinamika, Selasa (1/11/2011).

SURABAYA, KOMPAS.com- Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya membuat kapal selam yang diberi nama Kapal Perang Crocodile-Hydroffoil. Saat ini pembuatan baru mencapai sekitar 20 persen berupa penyiapan dua mesin kembar diesel Mitsubishi 6D40T dengan kapasitas masing-masing 350 PK serta pembuatan mal atau contoh badan kapal sesuai ukuran.

"Pembuatan kapal selam ini menggunakan dana program insentif riset dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," kata Kepala Laboratorium Hidrodinamika Fakultas Teknik Kelautan Institut Sepuluh Nopember Surabaya Wisnu Wardhana, Selasa (1/11/2011) di Surabaya.

Alokasi dananya mencapai Rp 3 miliar yang disampaikan selama tiga tahun antara 2011-2013 atau setiap tahun sebesar Rp 1 miliar.

Menurut Wisnu, Kapal Perang Crocodile-Hidrofoil merupakan yang pertama di Indonesia. "Kapal selam ini kombinasi dari tiga fungsi, yaitu untuk kapal hidrofoil yang melayang hanya bagian sayap yang menyentuh permukaan air, kemudian fungsi kapal permukaan, dan fungsi kapal selam dengan kedalaman 5-7 meter," kata Wisnu.

Dijadwalkan, kapal ini selesai tahun 2013. Lokasi uji coba di Selat Madura.


• KOMPAS

ITB Bikin Rumah Inovasi Jamur

Petani jamur. Tempo/Andry Prasetyo

TEMPO Interaktif, Bandung - Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB mendirikan Rumah Inovasi Jamur. Tujuannya mencari potensi dan mengembangkan jenis jamur lokal untuk mencegah ancaman krisis bahan pangan. Salah satunya jamur temuan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang mirip dengan jenis chicken mushroom (Lyophyllum decaster).

Menurut pendiri Rumah Inovasi Jamur, Wayan Pugeg Aryantha, sampai saat ini belum ada satu pun jamur lokal yang diproduksi untuk bahan pangan. Sejauh ini, temuan jamur lokal masih dalam tahap penelitian oleh dosen dan mahasiswa Sekolah Teknologi Ilmu Hayati ITB. Salah satunya jamur temuan di Kabupaten Garut, yang untuk sementara dinamai Lyophyllum sp.

Sarjana Mikrobiologi ITB Muhammad Rizal yang pernah meneliti jamur tersebut untuk skripsi, ada kemiripan jamur itu dengan chicken mushroom (Lyophyllum decaster). Di Amerika, misalnya, jamur itu digemari karena rasanya seperti daging ayam. "Masih diteliti cara pengembangannya dengan media kulit kacang dan tanah," katanya di sela pameran di Aula Barat ITB, Senin 31 Oktober 2011.

Rumah Inovasi Jamur yang berada di gedung Sasana Budaya Ganesha ITB ini mengandalkan hasil riset jamur untuk bermacam jenis obat, seperti penurun kolesterol dan lemak dalam darah, serta menjaga stamina tubuh. Selebihnya telah diolah menjadi berbagai makanan seperti sate, keripik, dan jus. Selain itu, lembaga tersebut menghasilkan bibit-bibit jamur untuk petani lokal seperti tiram dan shi'itake. (ANWAR SISWADI)



• TEMPOInteraktif

Mesin Pembakar Sampah Buatan ITB Hasilkan Bio Oil

TEMPO Interaktif, Bandung - Sebuah mesin pembakar sampah sanggup menghasilkan bahan bakar untuk mesin choper. Inovasi peneliti teknologi tepat guna, Zuhdi A. Kasim, itu menghemat solar hingga 80 persen. Saat dipamerkan di selasar Aula Barat ITB hari ini, mesin seharga Rp 20 juta itu langsung dibeli.


Mesin itu berupa reaktor pyrolisis. Gunanya mengubah sampah benda padat menjadi gas sederhana. Reaktor itu berupa tabung berpenutup dari besi. Kapasitasnya 200 liter atau bisa memuat sampah kering seberat 50 kilogram. "Syaratnya sampah harus kering, tidak boleh basah," ujarnya kepada Tempo, Senin, 31 Oktober 2011.

Sampah yang aman dan tidak menimbulkan ledakan ketika dibakar di reaktor itu, misalnya plastik, dedaunan, dan sabut kelapa. Gas dan hawa panas yang dihasilkan kemudian dialirkan lewat selang kemudian didinginkan (kondensasi). "Hasilnya berupa minyak sampah berwarna hitam seperti oli bekas," kata peneliti di Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB itu.

Minyak sampah itu kemudian dicampur dengan sedikit solar di dalam mesin choper. Mesin itu biasa dipakai untuk menggiling tepung, jagung, kelapa parut, mesin kompos, atau oleh tukang tambal ban untuk mengisi angin. Bio oil itu mengurangi pemakaian solar pada mesin choper hingga 80 persen. "Sampah kering 6 kilogram sama dengan 1 liter solar," katanya.

Gagasan pembuatan mesin itu untuk mengatasi kebiasan orang membakar sampah. Selain menghasilkan bahan bakar, asap hasil pembakaran, ujar Zuhdi, tidak keluar dari 3 lubang angin di tabung reaktor karena disedot oleh mesin choper. "Polusi asap diminimkan walau masih ada polusi udara seperti pada sepeda motor," katanya.(ANWAR SISWADI)



• TEMPOInteraktif

Monday, October 31, 2011

Mahasiswa IPB temukan inovasi tembakau nonrokok

Bogor (ANTARA News) - Tim mahasiswa Jurusan Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Institut Pertanian Bogor, melalui sebuah penelitian menemukan inovasi pemanfaatan tanaman tembakau nonrokok.

Para mahasiswa tersebut, seperti diinformasikan Humas IPB di Bogor adalah Riska Ayu Purnamasari, Pratiwi Eka Puspita, Dhaniar Astri, Rinda Fadzila, dan Ahmad Jaelani Manurung.

Ketua tim peneliti Riska Ayu Purnamasari menjelaskan, di bawah arahan dosen pembimbing Dr Suryani, MSc, tim meneliti bahwa ada alternatif penggunaan tembakau untuk nonrokok yang "feasible" secara ekonomi.

"Penelitian kami adalah membuktikan daya antimikroba ekstrak tembakau agar dapat diaplikasikan sebagai antiseptik. Ini sebagai salah satu upaya mencari titik temu yang dapat menguntungkan setiap elemen masyarakat terkait kesehatan dan budaya menanam tembakau," katanya.

Ia mengemukakan bahwa beberapa tahun terakhir ini industri rokok menghadapi berbagai tekanan kebijakan sehingga berdampak pula terhadap keberlanjutan pertanian tembakau.

Beberapa kebijakan tersebut antara lain menaikkan harga jual eceran (HJE) sebesar 7 persen per Maret 2007, penetapan tarif spesifik rokok antara Rp3 hingga Rp7 per batang untuk rokok golongan I, Rp5 untuk golongan II, dan Rp3 untuk golongan III sesuai yang tercantum dalam Permenkeu No. 118/PMK.04/2006 tentang Kebijakan Cukai 2007.

Selain itu, juga UU No. 39 Tahun 2007 tentang batas cukai maksimum mencapai 57 persen, PP No 81 tahun 1999 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan, dan Pergub DKI Jakarta No 75 Tahun 2005 tentang larangan merokok di tempat umum.

"Hal itu tentu saja meresahkan sebagian masyarakat yang menggantungkan hidupnya sebagai buruh tani tembakau, buruh pabrik rokok, maupun pedagang rokok besar dan kecil," katanya.

Ia mengatakan, kebijakan pemerintah mengenai industri rokok itu dianggap dapat mengancam sumber ekonomi masyarakat yang bertumpu pada pertanian tembakau.

Oleh karena itu, ia dan rekannya di Jurusan Biokimia FMIPA-IPB mencari alternatif penggunaan tembakau untuk nonrokok itu.

Menurut Riska Ayu Purnamasari, ekstrak tembakau teridentifikasi sebagai senyawa yang bersifat antimikrobial terhadap pengujian beberapa strain mikroba.

Beberapa penelitian telah menunjukkan daya antimikrobial ekstrak tembakau terhadap E. coli dan S aureus, dan P. aeruginosa.

"Ekstrak tembakau memiliki potensi dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan S.aureus. Hasil ekstraksi menunjukkan bahwa ektrak etanol minyak atsiri tembakau merupakan ekstrak yang paling banyak diperoleh selama proses ekstraksi dilakukan dan paling efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri," katanya.

Ia menjelaskan, konsentrasi hambat tumbuh minimum ekstrak minyak atsiri sebesar 10 persen menunjukkan daya hambat minyak atsiri tembakau cukup besar, dan hasil pada uji oles menunjukkan perbedaan yang signifikan antara keadaan sebelum dan sesudah dioles.

Uji Aktivitas antimikrobaekstrak tembakau dilakukan dengan menggunakan senyawa hasil ekstraksi, meliputi minyak atsiri, senyawa alkaloid, dan senyawa polifenol.

Masing-masing ekstrak diinjeksikan ke dalam media Nutrien Agar (NA) yang mengandung bakteriuji E.coli dan S. aureus.

Zona bening yang terbentuk di sekitar lubang sumur difusi merupakan respon aktif antimikroba ekstrak dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Hasilnya diketahui bahwa pengenceran atsiri sebanyak 10 persen memiliki daya hambat yang cukup baik menurut metoda Davis-Stout.

Kemudian, untuk melihat potensi ekstrak daun tembakau sebagai antiseptik maka dilakukan uji potensi antiseptik melalui uji organoleptik dengan metode oles.

Metode oles dilakukan pada lima panelis. Telapak tangan panelis yang kering dioleskan pada cawan Petri yang berisi media PCA. Panelis kemudian mencuci tangannya menggunakan ekstrak tembakau dan etanol 70 persen sebagai kontrol positif.

Telapak tangan yang telah kering kemudian dioleskan kembali pada cawan Petri yang berisi media PCA. Media PCA diinkubasi selama dua hari dalam suhu 37 derajat Celcisu. Masing-masing cawan uji dihitung jumlah bakterinya dengan metode TPC.

Hasilnya menunjukkan bahwa atsiri tembakau dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. coli (gram negatif) dan S. aureus (gram positif)dengan zona hambat yang terbentuk sebesar 24 mm.

Berdasarkan metoda Davis-Stout (sangat kuat, >=20 mm, kuat,10-20 mm), nilai zona hambat ini tergolong sangat kuat. Adapun untuk ekstrak senyawa alkaloid dan polifenol memiliki nilai 16 mm dan 14 mm untuk bakteri uji E.coli (kuat), sedangkan untuk uji bakteri S.aureus berturut turut 14 mm dan 30 mm (kuat dan sangat kuat).

"Secara umum dapat disimpulkan bahwa ekstrak tembakau yang meliputi atsiri, alkaloid, dan polifenol memiliki daya hambat yang kuat dan sangat kuat. Sehingga sangat dimungkinkan bahwa ekstrak daun tembakau dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan produk antiseptik," katanya.(ANT -053/M027)


• Antaranews

Saturday, October 29, 2011

BPPT kembangkan teknologi penghitung karbon

Jakarta (ANTARA News) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan teknologi penghitungan karbon yang dibutuhkan dalam implementasi REDD+ atau pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan.

"Peralatan ini berupa fiber ethalon solar yang kami namakan Nafas Bumi. Alat ini akan menghitung secara kuantitatif karbon di udara dengan memanfaatkan panjang gelombang matahari," kata perekayasa Pusat Teknologi Inventarisasi Sumberdaya Alam BPPT, Dr Muhammad Evri di Jakarta, Jumat.

Selama ini, lanjut dia, Indonesia belum memiliki alat yang mampu menghitung emisi karbon di lahan maupun hutan, sehingga sulit bagi Indonesia berargumen di dunia internasional terkait dana-dana kompensasi pemeliharaan hutan semacam REDD.

Alat penghitung karbon ini, jelasnya, mengandalkan sinar matahari (spektral) yang terpantul dan ditangkap sensor, lalu tercatat panjang gelombangnya dalam suatu grafik untuk dianalisis, hasilnya berupa sebaran konsentrasi karbon secara spasial di suatu kawasan yang dipantau, urainya.

Karbon yang dianalisis terdiri dari CO2 dan CH4. CO2, urainya, memiliki panjang gelombang antara 1,55-1,6 mikrometer dan CH4 memiliki panjang gelombang 1,65-1,7 mikrometer yang memperlihatkan konsentrasi karbon.

"Saat ini BPPT masih bermitra dengan Jepang mengembangkan sistem ini, tapi alat ini mudah dibuat sendiri. Alat ini adalah alat pertama yang kita miliki untuk menghitung karbon," katanya.

Sedangkan untuk penghitungan karbon di permukaan lahan, digunakan sensor CO2 yang bisa dibawa dengan balon udara atau pesawat nirawak yang dirancang sendiri oleh BPPT, lalu kemudian datanya diunduh untuk dianalisis.

Diingatkannya bahwa Indonesia telah berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca 26 persen sampai 2020, dan 41 persen dengan dukungan donor, dan itu berarti tinggal sembilan tahun lagi.

"Hitungan kasar emisi karbon Indonesia kalau saja tidak ada upaya untuk menghambatnya, tumbuh dari 2,1 ke 3,3 GtCO2e antara 2005 sampai 2030. Angka itu besar sekali," katanya.

Evri juga mengungkapkan bahwa pihaknya sedang mengembangkan Sistem Informasi Kebakaran Hutan Berbasis Keruangan (Siarang) untuk deteksi dini kebakaran hutan yang mengandalkan partisipasi masyarakat.

"Masyarakat dengan ponselnya kapan saja bisa melaporkan adanya titik api ke Neonet, sistem milik BPPT yang langsung meresponnya dengan memetakan distribusi kebakaran sehingga regu pemadam kebakaran yang dibentuk masyarakat langsung bergerak," katanya.(T.D009/Z002)


• Antaranews

Mahasiswi Ubaya Racik Kopi Jadi Minuman Pro-Biotik

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA - Mahasiswi Fakultas Teknobiologi Universitas Surabaya (Ubaya), Cecilia Hariyanto, menemukan racikan kopi arabika dengan jamur 'kombucha coffe' menjadi minuman kesehatan yakni kopi pro-biotik yang bermanfaat untuk kesehatan.

"Racikan itu bermanfaat, karena ada kandungan asam asetat, asamalat, asam oksidan, dan asam amino yang penting untuk kesehatan tubuh. Racikan 'kombucha coffe' itu belum ada, tapi kalau 'kombucha tea' sudah ada," katanya di Surabaya, Kamis (27/10).

Didampingi Wakil Dekan Fakultas Teknobiologi Ubaya, Tjie Kok MS Apt, yang juga penguji, mahasiswi program studi biologi yang meraih nilai A untuk karya tugas akhir (TA) itu, menjelaskan asam asetat bermanfaat untuk menghambat bakteri di dalam tubuh.

"Untuk asamalat bermanfaat sebagai detoksifikasi atau antiracun, asam oksidan bermanfaat untuk mendukung sel dalam memproduksi energi, dan asam amino berfungsi sebagai antibodi yang memperbaiki jaringan tubuh. Kandungan asam oksidan kopi juga lebih besar yakni 28 persen, sedangkan teh hanya 23 persen," paparnya.

Ditanya alasan memilih kopi arabika dan bukan kopi robusta atau jenis lainnya, mahasiswi angkatan 2007 yang baru saja diwisuda itu menjelaskan kopi arabika itu memiliki kadar asam rendah dan kafein rendah, sehingga kalau diracik dengan 'kombucha coffe' tidak akan terlalu asam.

"Racikannya melalui proses fregmentasi dengan mendiamkan 'kombucha coffe' yang diberi air kopi selama lima hari, kemudian airnya dicampur dengan kopi arabika dengan komposisi 20 persen air 'kombucha coffe' dan 80 persen kopi arabika yang sudah dicampuri gula secukupnya," tutur alumni SMA St Carolus Surabaya itu.

Mengenai proses fregmentasi selama lima hari, putri pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Eko Hariyanto-Indah Juwita itu mengatakan hal itu didasarkan survei terhadap 30-an mahasiswa Ubaya untuk minuman pro-biotik 'kombucha coffe' itu yang mencatat 70 persen menyukai minuman kesehatan dengan proses fregmentasi selama lima hari.

"Rekan-rekan saya bilang kalau kurang dari lima hari tidak enak rasanya, sedangkan kalau lebih dari lima hari akan terlalu asam," kata penulis skripsi bertajuk 'Pengaruh Variasi Konsentrasi Sumber Karbon Sukrosa dan Lama Waktu Fermentasi Terhadap Proses dan Produk Fermentasi Kombucha Coffe' itu.

Menanggapi hal itu, penguji Cecilia, Tjie Kok MS Apt, menilai inovasi Cecilia yang menemukan fregmentasi lima hari dengan komposisi 20:80 persen itu menarik dan inovatif, karena racikan itu dapat menjadi diversifikasi produk pangan untuk memberi nilai gizi yang baik melalui minuman kesehatan (pro-biotik).

"Inovasi itu bisa dikembangkan lebih lanjut, termasuk untuk kepentingan bisnis. Itu mirip yoghurt yang terbuat dari susu, tapi minuman kesehatan kali ini justru dari kopi. Mahasiswa kami juga banyak yang meracik yoghurt buah dan tempe aneka rasa yang dicampur dengan ketela," katanya.


• Republika