Showing posts with label Farmasi. Show all posts
Showing posts with label Farmasi. Show all posts

Thursday, December 8, 2011

Kimia Farma Ciptakan Obat Redakan AIDS

Obat ini bertujuan untuk menurunkan angka kematian dan risiko penularan pada orang lain.

Virus HIV menempel pada sel (io9)

VIVAnews - Dinas Kesehatan Provinsi Jatim melansir perkembangan virus HIV dan penderita AIDS terus meningkat. Surabaya menempati urutan pertama di Jatim, dengan jumlah 20 ribu penderita yang tercatat di tahun 2010 lalu. Sebanyak 6 ribu di antaranya positif mengidap HIV/AIDS.

"Itu data yang berhasil diungkap," kata Mudjib Afan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim di Seminar HIV/AIDS di Surabaya, Kamis 8 Desember 2011.

Terkait upaya pencegahan meningkatnya virus HIV/AIDS, produsen obat Kimia Farma mengaku telah menciptakan obat yang berfungsi melemahkan perkembangbiakan virus HIV. Obat tersebut bernama ARV.

Obat ini bertujuan untuk menurunkan angka kematian, penurunan frekuensi rawat inap di rumah sakit, pemulihan kekebalan tubuh, serta penurunan risiko penularan pada orang lain.

"Obat ini diawali oleh sebuah riset yang dilaksanakan pada tahun 2004 lalu. Obat ini sendiri sudah kami edarkan secara resmi,” kata Sjamsul Arifin, Direktur Utama PT Kimia Farma, pada kesempatan yang sama.

Sementara itu, Dr. Endah Citraresmi Staf Kementerian Kesehatan menjelaskan perilaku seks menyimpang masih menjadi faktor paling dominan yang menyumbang tingginya angka virus HIV/AIDS di Indonesia, termasuk di Jatim. Di urutan kedua adalah pengguna jarum suntik secara bergantian. (Laporan: Tudji Martudji, Surabaya)



VIVAnews

Obat Diabetes dari Tepung Kacang Koro

TEMPO.CO, Jember - Dari tiga jenis kacang koro, peneliti dari Universitas Jember (Unej), Jember, Jawa Timur, menemukan bahan baku pangan baru berupa tepung kaya protein. Tak hanya memiliki kandungan protein tinggi, tepung kacang koro ini juga bisa menurunkan kadar gula darah penderita diabetes.

Dengan tepung kaya protein ini, Ahmad Nafi’, S.TP, MP, dosen dan peneliti dari Fakultas Teknologi Pertanian Unej, berharap dapat menjadi solusi alternatif bagi permasalahan ketahanan pangan nasional dan penyakit kencing manis (diabetes). Nafi' mulai meneliti proses pembuatan protein rich flour (PRF) sejak 2004.

Ada tiga jenis kacang koro yang diteliti, yakni kacang komak (L. purpureous Sweet), kacang kratok (P. lunatus), dan koro pedang (C. ensiformis). Tiga jenis kacang koro itu tumbuh melimpah di Indonesia, dan selama ini hanya dikonsumsi sebagai sayur pendamping nasi.

“Kesimpulan akhir menunjukkan PRF dari ketiga jenis koro itu mampu menjadi bahan baku makanan baru sekaligus obat bagi penderita diabetes,” katanya, kemarin.

Untuk membuat tepung kaya protein, biji koro pedang, koro kratok, dan koro komak diolah dengan metode ekstraksi basah menggunakan air. Protein dari ekstrak kacang koro kemudian diendapkan pada titik iso-elektriknya.

Tepung itu mengandung protein dan pati yang merupakan sumber kalori utama. Kandungan protein yang tinggi memperbesar potensi pemanfaatannya sebagai bahan makanan baru.

Tepung ini juga mempunyai sifat fungsional teknis yang baik, meliputi daya serap air, daya serap minyak, aktivitas, dan stabilitas emulsi. Daya cerna proteinnya sebanding dengan isolat protein kedelai.

“Sifat fungsional itu menyebabkan PRF koro dapat diproses menjadi daging tiruan, semacam sosis, nugget, dan bakso, bahkan bisa menjadi pengganti tepung terigu pada pembuatan mi instan sampai 30 persen,” kata dosen yang tengah menempuh program doktoral di Universitas Kebangsaan Malaysia itu.

Sifat nutrisionalnya menunjukkan bahwa PRF dari ketiga jenis koro memiliki rasio asam amino esensial yang tinggi. Rasio amilosa pati PRF koro pedang, kratok, dan komak masing-masing sebesar 36,0 ± 2,7; 42,8 ± 3,2; dan 30,0 ± 2,0 persen, sehingga tepung kacang koro itu memiliki nilai indeks glisemik (IG) yang rendah, yaitu antara 40,71 sampai 44,05. Bahan pangan dengan dengan IG rendah sangat cocok untuk diet bagi penderita kencing manis.

“Uji pada tikus dan manusia menunjukkan tepung koro memiliki kemampuan menurunkan kadar gula darah sebesar 21,89 persen dalam 4 minggu," kata dia.(MAHBUB DJUNAIDY)


TEMPOInteraktif

Friday, December 2, 2011

IPB teliti obat herbal untuk cegah kepikunan

Herbal Medicines. (istimewa)

Bogor (ANTARA News) - Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor melakukan penelitian mengenai potensi obat berbasis herbal untuk penyakit demensia atau kepikunan.

"Sudah lebih dari dua tahun ini tim kami melakukan penelitian yang berkaitan dengan potensi herbal untuk demensia," kata Kepala Pusat Studi Biofarmaka IPB Prof Dr Ir Latifah K Darusman, MS di Bogor, Jawa Barat, Jumat.

Menjawab pertanyaan ANTARA pada diskusi ilmiah bertema "Tipe Demensia Alzheimer" yang menghadirkan narasumber ahli saraf dr Andreas Harry Sp.S (K), ia mengemukakan bahwa penelitian tersebut lebih difokuskan pada kadar asetilkolina (acetylcholine) pada sejumlah herbal.

"Jadi, kami terus mencari pada herbal apa saja yang kadar asetilkolinanya cukup kuat," kata Latifah K Darusman.

Pada diskusi yang diikuti sejumlah peneliti yang juga kandidat master (S2) dan doktor (S3) itu, pihak Pusat Studi Biofarmaka IPB mendapatkan paparan yang cukup rinci dari Andreas Harry mengenai demensia.

Ahli saraf lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang juga anggota "Advance Research Alzheimer`s" itu menjelaskan bahwa demensia adalah sindroma klinik yang meliputi hilangnya fungsi intelektual dan berkurangnya domain memori yang menyebabkan gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari.

"Demensia bersifat progresif bertahap, dan pada penderitanya tetap dalam keadaan sadar (normal consiousness)," katanya.

Ia menjelaskan, pada konferensi dokter ahli saraf dunia tentang Alzheimer yang berlangsung di Paris, Prancis, pada pertengahan Juli 2011, para ahli memperkirakan bahwa penderita demensia (kepikunan) di negara-negara berkembang akan meningkat drastis.

"Di negara-negara berkembang, jumlah penderita demensia akan meningkat lebih drastis selama dekade berikutnya, diperkirakan tiga sampai kali lipat lebih tinggi daripada di negara maju," kata Andreas Harry, yang menjadi satu-satunya peserta asal Indonesia yang diundang mengikuti konferensi dunia para dokter ahli Alzheimer itu.

Konferensi internasional tentang penyakit Alzheimer 2011 yang diselenggarakan Asosiasi Alzheimer (AAICAD) itu, yang diikuti para peneliti dunia mengenai penyakit tersebut, juga menyimpulkan obat baru "memantine" adalah pengobatan yang unik bagi demensia, khususnya jenis Alzheimer.

Selain itu, kata dia, "memantine" yang sudah masuk di Indonesia, namanya dikenal dengan "Ebixa", yang disebutkan efektif dalam mencegah secara klinis memori yang memburuk.

"Jadi penurunan memori secara dini harus dicegah untuk demensia di masa depan," kata ahli saraf di bawah bimbingan Prof dr Djoenaidi Widjaya, Ph.D, Sp.S (K), yang juga dosen pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara (Untar) Jakarta.

Sementara itu, pada konferensi ASEAN Neurological Association (ASNA) 2011 di Sanur, Bali pada awal November 2011, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Prof Mohammad Hasan Machfoed, SpS (K) mengemukakan, pihaknya akan melakukan orientasi program menemukan insiden prevalensi penyakit demensia (kepikunan) pada masyarakat Indonesia.

"Kalau di luar negeri (angka prevalensinya) langsung bisa diketahui karena datanya ada, sedangkan kalau di kita (Indonesia) tidak. Angka (di Indonesia) cukup tinggi, namun jumlah pastinya secara resmi belum ada," katanya.

ASNA adalah forum dua tahunan para dokter ahli saraf di Asia Tenggara, sebagai ajang komunikasi dan pertukaran pengetahuan di kalangan dokter ahli saraf se-Asia Tenggara (ASEAN).

Meski untuk prevalensi demensia di Indonesia belum ada angka resmi, namun Mohammad Hasan Machfoed memprakirakan angkanya di kisaran lima hingga tujuh persen.

Hitungan angka yang diprakirakan itu, kata dia, berapa penduduk Indonesia, berapa yang usianya tua (lanjut usia), dan dari yang tua itu berapa yang mengalami demensia.

"Kalau saya bisa sebutkan kira-kira 80 persen dari demensia, jadi kalau diambil dari yang pikun itu (jumlahnya) cukup tinggi," kata guru besar Fakultas Kedokteran Unair kelahiran Madura, Jawa Timur, itu.

Dikemukakannya bahwa di Indonesia, demensia itu makin banyak karena yang pertama, dari aspek usia.

"Demensia menjadi penting karena usia harapan hidup itu makin lama makin tinggi, sedangkan demensia itu penyakitnya orang tua bukan anak-anak, dengan demikian dengan kondisi tersebut maka timbul kelainan yang disebut demensia.

"Nah, nanti polanya akan ke sana, justru mungkin akan terbanyak, karena apa, penyakit-penyakit yang sifatnya degeneratif itu, salah satunya adalah demensia ini," katanya,(A035/N002)



Antaranews

Thursday, December 1, 2011

Industri Kesehatan Banyak Berteknologi Rendah

“Pemanfaatan high technology bidang kesehatan hanya sekitar dua persen."

Obat-obatan

VIVAnews
- Saat ini, teknologi kesehatan yang dimanfaatkan di Indonesia hampir separuhnya berkategori rendah. Pakar Farmakologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi tinggi kesehatan baru sekitar dua persen di antara 90 persen teknologi kedokteran dan kesehatan di Indonesia yang masih harus impor.

“Pemanfaatan high technology bidang kesehatan sekitar dua persen. Sementara itu, 42 persen teknologi rendah dan sisanya teknologi tingkat menengah,” kata Pakar Farmakologi UGM, Iwan Dwi Prahasto, dalam Forum Riset Industri Indonesia di Auditorium Pasca Sarjana UGM, Jakarta, Kamis 1 Desember 2011.

Ia juga menyebutkan bahwa saat ini ada 180 ribu penelitian kesehatan. Namun, sekitar 98 persen dari penelitian tersebut termasuk riset sumbu pendek, tidak komprehensif dan berkelanjutan. Bahkan, terdapat penelitian yang sama dilakukan oleh peneliti dari perguruan tinggi yang berbeda.

Kalaupun terdapat riset yang bagus, tetapi tidak terjembatani karena keterbatasan dana dari perguruan tinggi. Untuk itu, Iwan memandang pemerintah perlu meningkatkan anggaran untuk kalangan perguruan tinggi guna melakukan riset bahan baku obat dan teknologi kesehatan.

Menurut Iwan, sumber daya manusia di Indonesia mampu mengembangkan teknologi kedokteran seperti yang dilakukan oleh negara maju. “Riset teknologi kesehatan minimal tiga tahun, tidak butuh waktu lama,” katanya.

Menanggapi soal dana riset, Staf Ahli Menkes Soewarta Kosen mengatakan pemerintah akan terus meningkatkan anggaran di bidang kesehatan dengan mengalokasikan dana sekitar lima persen dari APBN atau Rp70 triliun dan 10 persen dari dana APBD di daerah.

Ia mengusulkan kalangan perguruan tinggi juga memanfaatkan bantuan dana dari internasional. “Dari APEC ada tawaran besar grant untuk riset,” katanya.

Sementara itu, kalangan industri juga perlu dukungan riset perguruan tinggi mengingat industri sudah mengeluarkan biaya besar. Biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk bunga pinjaman perbankan dan beban biaya logistik dalam distribusi produk.

“Dari segi financing, jika Malaysia dan Filipina bunga enam persen sampai 10 persen. Kalau di tempat kita sampai 14 persen. Di industri, ada beban biaya sekitar 16 persen untuk logistik dalam distribusi produk. Kalau negara tetangga Malaysia hanya lima persen,” kata Wakil Ketua Kadin, Bambang Sujagad. (art)



VIVAnews

Wednesday, November 30, 2011

UGM: 96 Persen Bahan Baku Obat adalah Impor

Ini membuat harga obat di tanah air mahal. Padahal Indonesia bisa memproduksi obat sendiri

Ilustrasi obat-obatan

VIVAnews
– Koordinator Riset Bidang Kesehatan dan Obat UGM, Iwan Dwiprahasto, mengungkapkan bahwa 96 persen bahan baku obat di Indonesia masih diimpor dari negara lain. Menurutnya, hal ini menyebabkan pengembangan teknologi kedokteran maupun kesehatan di tanah air tergantung pada produk impor.

Padahal, tutur Iwan, ketergantungan impor bahan baku obat ini jelas-jelas merugikan Indonesia di masa depan. “Kalau kita impor terus, nanti akan mendapat masalah jika negara pengimpor memperketat kebijakan impor,” kata Iwan dalam konferensi pers di Kantor Pascasarjana UGM, Manggarai, Jakarta, Rabu 30 November 2011.

Ironisnya, ujar Iwan, Indonesia menyimpan potensi besar untuk mengembangkan bahan baku obat-obatan. Hanya saja, bahan baku obat dari produk dalam negeri belum dioptimalkan. Contohnya, jelas Iwan, Indonesia sebetulnya mampu memproduksi antibiotik. Namun, industri farmasi di Indonesia terus mengandalkan impor bahan baku obat.

“Sekarang, mau tidak industri farmasi kita beli bahan baku buatan sendiri?” tanya Iwan. “Industri perlu diyakinkan bahwa tidak ada kendala untuk produksi obat. Potensi kita luar biasa. Sayangnya kita terkungkung dalam impor,” sesal Iwan.

Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah perlu segera memulai kemandirian produk obat, dengan menggandeng kalangan akademisi maupun industri farmasi untuk mengembangkan produk dari bahan baku dalam negeri. Bila bahan baku tidak lagi diimpor, maka harga obat pun dapat ditekan.

Inisiatif Perguruan Tinggi

Dalam upaya meyakinkan kemandirian dalam bidang obat dan teknologi kesehatan itulah, UGM mempertemukan kalangan industri farmasi dengan hasil riset dari akademisi. Hasil riset yang dipresentasikan, diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat.

“Hasil riset ini kami sampaikan ke pemerintah dan industri, agar produk-produknya punya nilai pemanfaatan bagi masyarakat,” ujar Rektor UGM Sudjarwadi usai Forum Riset Industri di Gedung Pascasarjana UGM. Menurutnya, hasil riset tersebut selanjutnya akan diupayakan diproduksi massal, untuk mengganti produk sejenis dari luar negeri.

“Produk kita nanti bisa jadi substitusi produk dari luar,” kata Sudjarwadi. Ia menambahkan, saat ini Indonesia sesungguhnya sudah mampu membuat teknologi kesehatan seperti vaksin, alat bantu pendengaran, maupun biometrik.

Untuk mewujudkan kemandirian dalam bidang obat dan teknologi kesehatan, lanjut Sudjarwadi, pemerintah perlu menyusun aturan yang mampu memberikan jaminan bagi kalangan industri farmasi. “Aturan soal insentif, pajak, maupun perdagangannya,” kata dia.

UGM sendiri selaku perguruan tinggi yang fokus dalam hal kemandirian teknologi kesehatan dan obat, tutur Sudjarwadi, akan mengambangkan riset yang sudah ada untuk pemanfaatan teknologi kesehatan ke depan.

Forum Riset Industri yang digagas UGM ini mempertemukan industri farmasi seperti Kalbe Farma dan Kimia Farma, dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN), Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Perdagangan. Forum ini sudah berjalan selama tiga tahun. (eh)



VIVAnews

Wednesday, October 12, 2011

Vaksin Salmonella Buatan Mahasiswa Malang Usir Jantung Koroner

Salmonella

TEMPO Interaktif, Jakarta - Salmonella typhimurium memang dapat menyebabkan salmonellosis, diare, demam hingga kram perut bahkan dapat mengakibatkan kematian. Namun bagi Mirza Zaka Pratama, bakteri yang ya berbahaya itu ternyata dapat dimanfaatkan sebagai vaksin untuk mencegah penyempitan pembuluh darah.

Berkat bakteri itu pula mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tersebut menjadi pemenang kedua Pemilihan Penelitian Remaja Indonesia bidang Ilmu Pengetahuan Alam yang diadakan Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) di Widya Graha, Jakarta, pada 4 Oktober 2011. Selain piala, Mirza juga memperoleh hadiah uang Rp 10 juta.

Lima bulan sebelum pengumuman tersebut, Mirza hanyalah seorang mahasiswa tingkat dua yang serba ingin tahu. Berlembar-lembar jurnal ilmiah dilahap sampai ia terhenti pada sebuah makalah mengenai bakteri Salmonella typhimurium yang mampu menghasilkan senyawa phosphorylcholine. Dari situ ide besarnya muncul.

“Senyawa pada bakteri memancing respon antibodi bernama antiphosphorylcholine yang mampu memberikan efek protektif terhadap penyempitan pembuluh darah,” ujarnya kepada Tempo.

Untuk membuktikan teori itu, selama dua bulan Mirza mendekam bersama puluhan tikus percobaan di Laboratorium Biomedik universitasnya. Laboratorium ini dikenal sebagai salah satu yang terlengkap dan tercanggih di Indonesia. Terbukti dengan lahirnya temuan berkaliber internasional seperti obat pencegah malaria hingga penawar rematik.

Mirza kerap harus merelakan waktu tidur malamnya untuk memberi makanan ekstra pada tikus-tikus itu. Pria kelahiran Malang yang berusia 20 tahun itu juga harus mengeluarkan biaya eksperimen sebesar Rp 6 juta dari kantungnya sendiri.

“Saya seperti punya peliharaan sendiri di laboratorium, mulai dari mengganti sekam, membersihkan kandang, memberi makan, sampai menyuntikkan vaksinnya,” kata Mirza. “Sampai akhir percobaan tak ada tikus yang mati.”

Eksperimen dimulai dengan menerapkan diet lemak tinggi pada 25 tikus percobaan. Asupan makanan ini membuat pembuluh darah koroner tikus menyempit. Peristiwa ini disebut sebagai atherosklerosis yaitu penyakit kronis pada pembuluh darah yang diakibatkan oleh penumpukan materi lemak pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah. Umumnya tikus-tikus tersebut mengalami penebalan pembuluh darah hingga 400 mikrometer.

Tikus yang telah mengidap penyakit jantung koroner itu dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terus dipasok diet lemak tinggi sehingga penyakit terus bercokol. Sementara kelompok kedua diberikan vaksin berbahan bakteri Salmonella typhimurium. Vaksinasi dilakukan selama empat kali setiap selang dua pekan selama 50 hari.

Pada hari terakhir eksperimen, Mirza membedah tubuh tikus. Bisa ditebak, penebalan pembuluh darah pada kelompok tikus yang terus diberi asupan makanan berlemak tinggi tak mengalami menurunan. Hasil signifikan justru terjadi pada kelompok kedua yang memperoleh vaksinasi. Antibodi yang dipancing vaksin Salmonella typhimurium terbukti mampu meluruhkan lemak yang menumpuk di pembuluh darah.

"Ketebalan dinding pembuluh darah turun menjadi 40 mikrometer, sama dengan kondisi normal. Tikus-tikus ini sembuh total," ujar Mirza.

Vaksin itu juga aman, tanpa menyebabkan efek samping. Buktinya, tak satupun tikus terserang demam maupun alergi selama pengobatan.

Mirza memiliki penjelasan tersendiri kenapa vaksin temuannya begitu mangkus. Pada vaksinasi konvensional, antibodi diberikan langsung ke dalam tubuh sehingga proses penyembuhan berasal dari senyawa asing dari luar tubuh. Vaksin Salmonella sendiri bersifat sebagai pemicu agar tubuh menghasilkan antibodi pemusnah lemak. Stimulasi ini membuat tubuh bekerja aktif yang nantinya menghancurkan tumpukan lemak di dinding pembuluh jantung.

Melihat potensi pengobatan ini, Mirza yakin vaksin juga bisa diterapkan untuk mengobati jantung koroner. Namun sebelum masuk ke tahap komersil, ia harus melakukan penelitian lebih jauh mengenai efek samping vaksin pada manusia.

Keampuhan vaksin ini menyembuhkan penyakit jantung koroner pada tikus mendapat pujian dari tim juri penguji pada Lomba Karya Ilmiah Remaja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Tim juri berharap hasil penelitian Mirza dapat dicobakan kepada manusia agar kemudian bisa diproduksi massal oleh perusahan obat.

Mirza mengatakan, penggunaan vaksin sebagai pencegah penyakit jantung koroner merupakan hal baru dalam dunia kedokteran. Bahkan, penelitian vaksin ini umumnya masih berada pada tahap pengujian pada binatang percobaan.

Salah satu teknik pengobatan yang sedang diteliti adalah pemberian antigen phosphorylcholine secara langsung. Teknik ini membutuhkan antigen murni yang membutuhkan banyak pemrosesan. Hal ini otomatis mendongkrak biaya produksi, harga vaksin menjadi sangat mahal.

Teknik yang ia kembangkan ini relatif lebih murah karena hanya memanfaatkan bakteri yang secara alami membangkitkan antigen phosphorylcholine. Bakteri ini bisa dikembangbiakkan sendiri. "Lagipula bakteri Salmonella ini banyak terdapat di Indonesia," tambahnya.

ANTON WILLIAM

Tahapan eksperimen

1. Tikus percobaan diberikan diet tinggi lemak agar mengidap penyakit jantung koroner.

2. Tikus dipisahkan ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama sebagai kontrol dan kelompok kedua yang diberikan vaksin dari bakteri Salmonella typhimurium.

3. Tikus kelompok kedua disuntikkan vaksin S. typhimurium bercampur adjuvan CFA-IFA (senyawa untuk meningkatkan respon kekebalan vaksin) setiap 2 minggu sebanyak empat kali selama 50 hari.

4. Hari ke-50, seluruh tikus dibedah untuk diukur ketebalan pembuluh darahnya.

5. Tikus kontrol mengalami penebalan dinding aorta 234 mikrometer sementara ketebalan pembuluh darah tikus dengan vaksin 72 mikrometer. Ketebalan pembuluh darah tikus normal adalah 52 mikrometer.

BOKS : Berbahaya di Perut, Menggempur Lemak di Jantung

Salmonella typhimurium hanyalah satu dari dua ribu spesies Salmonella yang terdapat di dunia. Spesies S. typhimurium adalah kerabat dekat bakteri penyebab demam tifus, S. typhosa, namun tak terlalu berbahaya ketimbang bakteri penyebab penyakit tipus itu. Penyebaran mikroba terjadi melalui feses manusia atau binatang.

Bakteri ini dapat hidup di daerah beroksigen maupun tanpa oksigen. Fleksibilitasnya membuat bakteri tersebut lebih mudah berkembang biak. "Bakteri S. typhimurium mudah diperoleh," ujar Mirza.

Di usus, bakteri ini memang berbahaya karena dapat menyebabkan diare hingga kram perut, namun di jantung bakteri ini dapat membersihkan pembluluh darah dari gumpalan lemak.

Penemuan ini diharapkan dapat membantu upaya peneliti di seluruh dunia mencari penawar bagi penyakit penyumbatan pembuluh darah jantung alias jantung koroner. Data dari Centers for Disease Control and Prevention pada tahun 2007 menunjukkan di Amerika Serikat terjadi 616 ribu kasus kematian akibat serangan jantung.

Penyakit ini dianggap sebagai pembunuh nomor satu di dunia dibanding kanker atau stroke. Sebagian besar penyakit jantung disebabkan penyempitan pembuluh darah.

Penumpukan lemak di dinding pembuluh membuat darah sulit mengalir. Jika penyempitan sedemikian hebat, gumpalan darah bisa terjepit di antara pembuluh, menghentikan aliran darah. Akibatnya sangat fatal, bagian tertentu pada jantung tak mendapat asupan darah segar lalu menjadi mati. Ketika hal ini terjadi, penderita bisa mengalami kegagalan jantung dan kematian mendadak.

Beberapa teknik mengatasi penyempitan pembuluh jantung telah dilakukan. Salah satunya dalah dengan menyisipkan tabung pada pembuluh yang menyempit sehingga darah kembali lancar. Teknik lainnya adalah dengan menyuntikkan vaksin berisi antibodi ke dalam tubuh. Antibodi membuat tumpukan lemak tergerus dan darah bisa mengalir lebih lancar.(ANTON WILLIAM)


TEMPOInteraktif

Indonesia Gudang Mikroba Antikanker dan Antidiabetes

TEMPO Interaktif, Jakarta - Mikroba yang hidup pada berbagai jenis tumbuhan Indonesia berpotensi menjadi obat malaria, diabetes, dan kanker. Profesor riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lasman Partomuan Simanjuntak, menyatakan mikroba yang disebut sebagai endofit itu menghasilkan beberapa senyawa kimia bioaktif yang sangat mirip senyawa tanaman inangnya.


“Senyawa dari mikroba endofit bisa dikembangkan menjadi bahan obat,” ujar Lasman, yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset di Jakarta kemarin.

Selama lebih dari satu dekade penelitian, Lasman telah membuktikan keberadaan mikroba endofit dengan senyawa aktif yang bermanfaat sebagai bahan obat. Salah satunya berasal dari pohon kina (Cinchona spp.), yang dikoleksi dari Gunung Mas, Puncak, Jawa Barat.

Di dalam tanaman kina, hidup 36 kapang, 18 khamir, dan 17 bakteria. Fermentasi salah satu kapang dalam media sintetis potato dextrose broth (PDB) terbukti mampu menghasilkan senyawa alkaloid kuinin, yang dikenal sebagai bahan antimalaria ampuh.

Pemanfaatan mikroba endofit ini dinilai sangat penting dalam penelitian obat-obatan. Ahli farmasi tak perlu bergantung pada tanaman saat meracik obat. “Cukup ambil sampel mikroba endofit dari tanaman, lalu dipercepat pertumbuhannya," Lasman menambahkan.

Tak hanya dari tanaman kina, dia juga menemukan mikroba endofit dari tanaman Artemisia annua, yang juga berguna sebagai antimalaria. Daun teh (Thea sinensis L.), yang dikonsumsi masyarakat setiap hari sebagai minuman seduh, juga memiliki mikroba endofit. Proses fermentasi menunjukkan bahwa mikroba dari teh bisa menghasilkan beraneka senyawa yang juga bisa dimanfaatkan sebagai penyembuh.

Temuan menarik lain berasal dari tanaman kunyit (Curcuma). Kunyit yang diambil dari Serang, Banten, menghasilkan senyawa tetrahidrokurkumin yang berlaku sebagai antioksidan, antidiabetes, bahkan antikanker.

Setelah penemuan senyawa bioaktif dari bakteri endofit ini, Lasman menyerahkan tahap komersialisasi kepada peneliti mikrobiologi. Dalam penelitian lanjutan ini diharapkan faktor risiko senyawa aktif pada manusia bisa diketahui. Jika terbukti aman, sangat mungkin Indonesia menghasilkan obat antikanker kelas dunia.

Lasman menyebutkan, setiap tanaman dipastikan mengandung mikroba endofit. Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati menjadi gudang mikroba yang berpotensi menjadi penawar. Karena itu, ia menyebut Indonesia sebagai negara yang kaya akan emas hijau (green gold).

"Masyarakat lokal mungkin telah memanfaatkan penyembuhan menggunakan senyawa bioaktif. Seharusnya aturan yang melindungi penduduk lokal sebagai pemilik pengetahuan tradisional tersebut," ucapnya.

Atas ketekunannya melakukan penelitian kimia organik, Lasman dianugerahi gelar profesor riset dari LIPI, kemarin. Selain Lasman, peneliti politik LIPI Tri Ratnawati dan peneliti biologi LIPI Dedy Darnaedi mendapatkan gelar tertinggi dalam dunia penelitian Indonesia tersebut.
(ANTON WILLIAM)


TEMPOInteraktif