Showing posts with label ITB. Show all posts
Showing posts with label ITB. Show all posts

Tuesday, December 6, 2011

Layar Sentuh di Bilik Suara dari ITB

TEMPO.CO,:- Tenda-tenda tim sukses calon Ketua Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung meluber hingga ke Jalan Ganeca. Pemilihan Ketua Alumni yang berlangsung Sabtu pekan lalu itu dimenangi Sumaryanto Widayatin. Deputi Bidang Infrastruktur dan Logistik di Kementerian Badan Usaha Milik Negara ini terpilih melalui proses pemilihan langsung dengan meraih 3.142 suara.

Pemilihan Ketua Ikatan Alumni ITB periode 2011-2015 itu serentak dilakukan di 30 kota Tanah Air. Khusus di Jakarta dan Bandung, proses demokrasi itu menggunakan 22 mesin electronic voting buatan ITB serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Pada 21 November lalu, mesin itu diujicobakan di Jakarta dan Bandung. Dalam simulasi pemilihan di gedung BPPT, Jakarta, yang diikuti 432 alumnus ITB dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi itu, Sumaryanto unggul atas calon lain.

"E-voting yang diterapkan saat ini sudah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2005 mengenai pemilihan umum yang berlaku di Indonesia serta kompatibel 100 persen dengan sistem pemilihan manual yang selama ini dilakukan," ujar Kepala BPPT Marzan A. Iskandar.

Mesin e-voting di Jakarta, yang berjumlah delapan unit, merupakan buatan ITB dan BPPT. Pemilih tinggal menunjuk calon pilihannya pada layar sentuh di bilik suara. Sedangkan 14 unit yang digunakan di Bandung buatan Laboratorium Fisika Instrumen ITB.

Mesin terakhir ini lebih sederhana dengan tombol. Sekali pencet, pilihan tak bisa diulang untuk diganti. "Tujuannya agar pemilih sudah benar-benar siap akan pilihannya," kata Maman Budiman, dosen fisika instrumen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB, yang membuat mesin e-voting. Jika ragu-ragu atau memilih golput di dalam bilik suara, pemilih bisa memencet tombol abstain.

Mesin ini berupa kotak logam seperti tas koper yang ditidurkan. Panjangnya 45 sentimeter, lebar 30 sentimeter, dan tingginya 15 sentimeter. Lima tombol di sisi kiri pada bagian atas mesin, yang bersanding dengan nomor urut calon, nama, dan foto wajahnya, berjejer ke bawah.

Tombol terbawah untuk pemilih abstain. Lalu ada lubang sepanjang 10 sentimeter di bagian kanan bawah. Lubang itu tempat keluar kertas cetakan hasil pilihan atau semacam bukti tertulis seperti setelah melakukan transaksi lewat anjungan tunai mandiri (ATM).

Cara kerjanya sederhana dan mudah agar bisa dipakai orang banyak. Setelah lampu pada bilik suara menyala pertanda sistem telah siap, pemilih tinggal memencet tombol sesuai dengan pilihannya. Setelah itu, petugas control unit, yang duduk di meja seberang bilik, akan mematikan lampu sekaligus program pencacahan mesin.

Cara ini dimaksudkan menutup kemungkinan pilihan ganda atau pengulangan. Selanjutnya, pemilih diminta menunggu sebentar dan membawa kertas hasil cetakan pilihannya ke kotak suara. Kotak yang dibuat dari bahan akrilik tembus pandang itu berada tak jauh dari bilik.

Contoh tulisan pada kertas resi itu berbunyi: "Anda telah memilih kandidat nomor urut 2 (Hermanto Dardak). Terima kasih atas partisipasi Anda". Di bagian bawahnya tertulis "3 Desember 2011". Cetakan itu berasal dari printer mesin kasir di dalam kotak.

Menurut Maman, kertas kecil dan licin itu sebagai cadangan untuk penghitungan manual jika diperlukan, juga sebagai akuntabilitas ke pemilih. "Ini untuk meyakinkan pemilih bahwa pilihannya benar-benar masuk hitungan panitia," katanya.

Untuk menyimpan data suara pemilih, Maman memakai microchip jenis erasable programmable read only memory. Chip itu dipasang di micro-controller pada mesin control unit, yang dijaga seorang petugas. Sistem yang tertanam (embedded system) itu ada pada, misalnya, mesin penyejuk udara dan kulkas.

Dosen yang terlibat dalam tim teknis kartu tanda penduduk elektronik di Indonesia itu sengaja tak memakai personal computer karena berbagai pertimbangan. Untuk tugas pencacahan saja, kata dia, mesin lebih efektif dengan chip. Selain itu, keamanan data lebih terjamin karena read only memory hanya bisa dibaca. Isinya tak bakal bisa diutak-atik untuk ditambah, dihapus, atau diganti. Data itu pun hanya bisa dibuka lewat program khusus.

Program sebagai kunci data itu dibuat Maman, dan hanya ia sendiri yang berwenang memegangnya. Isi data juga dijamin aman dari serangan virus karena sistemnya tertutup. Berbeda dengan personal computer, yang memakai sistem operasi terbuka dan memakai program random access memory (RAM). Sistem di dalam hard disk komputer itu bisa dipakai oleh siapa pun. Sedangkan program RAM memungkinkan penggunanya membaca, menulis, atau mengubah datanya. Sistem itu, katanya, tidak steril.

Lagi pula, kalau aliran listrik mati, hard disk komputer perlu waktu agak lama untuk bisa bekerja kembali dari awal. Risiko data hilang juga terbuka ketika komputer mengalami hang. "Kalau pakai chip, mesin langsung bekerja lagi waktu listrik menyala. Sistemnya juga enggak bakal terganggu ketika dipakai lama karena embedded system tak boleh hang," katanya.

Untuk mengantisipasi agar data pemilu tetap aman walau kotak control unit dicuri orang dengan tujuan tertentu, Maman telah menyiapkan mesin agar bisa tersambung langsung dengan Internet. Jadi hasil suara bisa langsung dikirim ke server atau database pusat.

Jika di lokasi tidak ada atau sulit diperoleh jaringan Internet, Maman menyiapkan pengamanan kotak control unit, yaitu dengan menanam GPS dan GSM serta baterai. Jadi kotak yang dicuri akan segera diketahui lokasinya.(ANWAR SISWADI)


• TEMPOInteraktif

Wednesday, November 23, 2011

ITB Siap Lahirkan 200 Aplikasi Windows Mobile

Windows Phone Marketplace

BANDUNG, KOMPAS.com - Microsoft Innovation Center Institut Teknologi Bandung (MIC-ITB) bekerjasama dengan Microsoft Indonesia, Navcore Nextology dan Nokia menggelar workshop aplikasi mobile berstandar global. Acara bertajuk MIC-ITB Code Camp 2011 ini diikuti oleh 230 praktisi teknologi informasi, mahasiswa dan para penggiat teknologi mobile.

Workshop yang diadakan 22-24 November 2011 ini menargetkan pembuatan sekurangnya 200 aplikasi Windows mobile. "Ratusan aplikasi ini ditargetkan mampu menembus Windows Phone Marketplace yang berkembang pesat selama ini," kata Ary Setijadi Prihatmanto, MIC-ITB Manager di acara ITB Digital Media Festival, Bandung (23/11/2011).

Sebagai langkah awal, peserta workshop diajarkan metode pengembangan aplikasi dan game yang efisien dalam memanfaatkan cloud computing. "Selain itu juga diajari cara menjual aplikasi," kata Ary.

Berdasarkan hasil riset terbaru dari Appcelerator dan IDC, pengembang aplikasi cukup tertarik dengan platform Windows Mobile. Sebanyak 38 persen dari 2.160 pengembang aplikasi di seluruh dunia yang disurvei menyatakan ketertarikannya.

Hingga Oktober lalu, jumlah aplikasi mobile terus berkembang pesat dan di masa depan tentu akan lebih banyak lagi. Apple iTunes App Store sudah memiliki 500.000 aplikasi sejak diluncurkan tiga tahun lalu.

Begitu juga dengan Android Market yang sudah memiliki 300.000 sejak 2008. Sementara aplikasi di Windows Phone Marketplace agak tertinggal dengan hanya memiliki 40.000 aplikasi dari 10.000 pengembang aplikasi.

Angka yang masih kecil itu justru dinilai sebagai peluang, sebuah kesempatan bagi developer lokal untuk membuat aplikasi yang bisa bersaing dengan developer global. Risman Adnan, Developer & Platform Group Director PT Microsoft Indonesia mengatakan pengembang aplikasi lokal masih memiliki kesempatan untuk bersaing, asal aplikasinya bermanfaat bagi pengguna.


• KOMPAS

ITB Gelar Digital Media Festival

Jakarta - Institut Teknologi Bandung menyelenggarakan Digital Media Festival (ITB-DMF) 2011 untuk mempertemukan berbagai stakeholder dari kalangan masyarakat umum, pemerintah, industri, akademisi, dan pengiat teknologi digital untuk mendorong pertumbuhan industri digital di Indonesia.

Festival dengan tema 'Pendidikan untuk Semua, Sekarang, menuju Masyarakat Indonesia Berpengetahuan yang Maju dan Sejahtera' ini diharapkan mampu membangkitkan mimpi bersama tentang Indonesia di era digital sehingga memiliki peran yang lebih signifikan dalam perkembangan era digital.

Festival yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali ini digelar selama tiga hari pada 22-24 November 2011. Acara ini dimeriahkan dengan beragam kegiatan yang memotret pertumbuhan teknologi digital dari waktu ke waktu yang mentransformasi kehidupan manusia.

Mulai dari seminar, Konferensi Internasional Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pedesaan (rICT 2011), Konferensi Internasional untuk e-Learning (ICeL 2011), Forum Digital Learning Indonesia, Pameran dan Open House, serta beberapa pertemuan teknis dan workshop.

Di antara workshop yang diselenggarakan adalah MIC-ITB Code Camp 2011 yang diikuti 230 peserta dan menjadi workshop teknis pengembangan aplikasi terbesar di dunia dari sisi jumlah.

"Workshop teknis selama tiga hari ini ditargetkan menghasilkan kurang lebih 200 aplikasi dan games yang siap dijual di toko aplikasi mobile," kata Dr. Tech. Ary Setijadi Prihatmanto selaku Panitia DMF-ITB 2011, dalam keterangannya, Rabu (23/11/2011).

Festival ini juga dimeriahkan dengan pertemuan komunitas professional yakni IEEE Computer Society Chapter Indonesia dan Pertemuan Microsoft Innovation Center (MIC Summit) se-Indonesia.

Sedangkan untuk kegiatan Forum Digital Learning Indonesia (Digital Learning Forum) akan dibahas pembelajaran digital dalam pendidikan di Indonesia dan cara memanfaatkan pembelajaran digital untuk peningkatan APK (Angka Partisipasi Kasar) peserta pendidikan tinggi dari 500 ribu menjadi 1,5 juta orang pada akhir tahun 2014.

Peningkatan APK tidak bisa hanya dilakukan dengan cara tradisional. Sebab, cara tradisional membutuhkan sarana dan prasarana serta sumber daya manusia yang jumlahnya tiga lipat dari yang ada saat ini.

Selain itu, cara tradisional memerlukan biaya yang sangat besar dan waktu lama sehingga diperlukan cara yang berbeda. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan memanfaatkan pembelajaran digital. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi kini tengah menyiapkan peraturan terkait pendidikan dengan pembelajaran digital ini.

Berdasarkan data United Nations Education Scientific and Cultural Organization (UNESCO), TIK dalam pendidikan tidak hanya menjadi alat bantu tetapi mentransformasi pendidikan itu sendiri.

Penelitian Department Pendidikan Amerika Serikat atas 2.500 kelas mata kuliah perguruan tinggi menunjukkan prestasi rata-rata mahasiswa yang mengikuti pembelajaran secara online lebih baik dari pada cara tradisional.

Oleh karena itu, pembelajaran digital telah diantisipasi dan diadopsi otoritas pendidikan negara maju sebagai model pembelajaran yang harus dialami peserta didik untuk pendidikan berkelanjutan.( ash / rns )


• detikInet

Monday, November 21, 2011

Adu Tangkas Pesawat Model di Kampus ITB

TEMPO.CO, Jakarta -Suara pesawat itu meraung-raung di dalam gedung serbaguna Institut Teknologi Bandung. Hanya dalam waktu 22 detik, tiga bungkus plastik berisi beras dilepaskan untuk mencapai target. Sayang, hanya satu yang mengenai target.

"Kami hanya bisa ambil penilaian dari waktu karena berat pesawat sudah maksimal," kata Anggoro, pilot pesawat yang terbuat dari bahan campuran
styrofoam dan plastik. Pesawat ciptaan tim Glorius ini berasal dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten.

Lain halnya dengan pesawat Masa #1 buatan tim alumni Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Pesawat yang suara baling-balingnya nyaris tak terdengar ini berhasil menjatuhkan beras dalam bungkus plastik seberat 15 gram di bidang merah lingkaran. Tak pelak, penonton dan puluhan peserta Indonesian Indoor Aerial Robot Contest 2011 bertepuk tangan.

Lomba pesawat model buatan sendiri itu berlangsung di kampus ITB pada Rabu pekan lalu. Kontes tahunan sejak 2008 yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknik Penerbangan serta Program Studi Aeronotika dan Astronotika ITB tersebut menarik minat 33 tim peserta. Panitia membagi kategori untuk pelajar SMA sederajat, perguruan tinggi, dan kalangan umum.

Setiap tim maksimal beranggotakan empat orang. Mereka berbagi tugas sebagai pengendali atau pilot lewat remote control, co-pilot yang memandu penerbangan dan menjatuhkan muatan berukuran 50 x 30 x 20 milimeter di target sasaran, sisanya sebagai teknisi pesawat.

Mereka mendapat jatah 2 menit untuk persiapan di landasan, dan terbang selama 5 menit. Misinya adalah menjatuhkan muatan pada tiga target sasaran. Pesawat bisa bolak-balik mengambil muatan atau dibawa sekaligus untuk dijatuhkan. Umumnya peserta mengambil cara pertama. Ada yang tuntas, ada pula yang tak berhasil menjatuhkan muatan hingga waktu habis.

Aturan lomba kali ini berbeda dengan sebelumnya. Kini pesawat tak lagi menjalankan misi sebagai alat pengintai (surveillance), melainkan pembawa barang dan menjatuhkannya ke target sasaran.

Pemain dan penonton boleh saja mengartikannya sebagai pesawat pengebom. Sebab, seluruh pesawat dirancang memakai sayap laiknya pesawat tempur. Adapun desain yang memakai sayap lebar mirip pesawat siluman. Tentu saja semuanya tetap memakai baling-baling di moncongnya agar bisa mengudara.

Perubahan regulasi itu, kata ketua panitia Yuhusa Setyo, dilakukan karena banyak kamera kecil yang rusak pada lomba serupa tahun lalu akibat terjatuh dari badan pesawat peserta lomba. Kamera tersebut dipakai sebagai alat pengintai. Hasil penglihatan pesawat tersebut kemudian harus "dibaca" oleh anggota tim lainnya lewat tampilan di layar monitor, kemudian dituliskan. "Regulasi lomba sekarang mengadopsi aturan dari Japan Society of Aeronautics and Space Sciences," ujarnya.

Berat pesawat dibatasi tak lebih dari 200 gram. Aturan lomba membebaskan dimensi dan bahan pesawat, seperti dari batang karbon, styrofoam, plastik pembungkus buah di supermarket, atau kayu balsa. Keringanan pesawat nantinya dihitung bersama lama terbang, massa pesawat, nilai target, serta berapa kali pesawat jatuh (crash). Take off dilakukan lewat landasan, bukan dilepas oleh tangan co-pilot, karena masuk hitungan.

Area terbang pesawat berukuran panjang 30 meter, lebar 25 meter, dan tinggi 10 meter. Di sekeliling arena dipasangi jaring. Jika pilot kurang awas dan terampil, pesawat bisa tersangkut. Meski begitu, masih ada segelintir pesawat yang selamat dari jaring dan masuk kembali ke arena karena terbang di ketinggian lebih dari 10 meter.

Di dalam arena, dipasang juga rintangan tiga gunung. Bentuknya masing-masing berupa kerangka bambu sepanjang 5 meter berbentuk segitiga yang dilapisi jaring setinggi 1,5 meter. Dari atas, rangkaian gunung itu berbentuk huruf Y.

Di balik rintangan gunung itu, terdapat tiga lingkaran target. Lingkaran terluar berwarna merah yang bergaris tengah 2 meter bernilai 50. Lingkaran kedua di dalamnya yang berwarna kuning dan bergaris tengah 1 meter bernilai 75.

Lingkaran target utama di tengah yang berwarna biru memiliki nilai sempurna 100. "Penilaian juri pada posisi terakhir benda yang dijatuhkan di lingkaran target," kata mahasiswa Jurusan Aeronatika dan Astronotika ITB 2008 tersebut.

Tantangan terberat berada di tangan pilot. Selain harus berkonsentrasi penuh untuk menerbangkan pesawat dengan kecepatan lambat seperti orang berjalan dan manuver, pilot harus sigap menjatuhkan muatan saat berada di atas target. "Susahnya di situ, saya terlalu berfokus ke terbang, jadinya susah dropping," kata Rizki Indra Pratama, 16 tahun, salah seorang peserta.

Menurut Yuhusa, peluang meraih target lebih besar jika pesawat bisa terbang dengan kecepatan pelan. Cara itu memerlukan kondisi pesawat yang stabil. "Rentang pesawat yang sayapnya panjang lebih stabil, tapi jadi agak susah dikontrol sehingga, kalau belok, tidak bisa langsung," katanya.

Adapun bahan pesawat masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Pesawat ringan tapi harga pembuatannya mahal bisa terwujud dengan memakai lembaran plastik dan batang karbon sebagai rangka. Bahan styrofoam, kata Yuhusa, agak susah dibentuk tapi sangat murah. Adapun kayu balsa lebih rumit. Namun strukturnya bisa mirip seperti pesawat sungguhan.

Setelah bertarung dari pagi hingga sore, gelar juara kategori SMA akhirnya diraih SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo. SMA 1 Denpasar dan SMA 14 Bandung berbagi tempat sebagai runner-up dan pemenang ketiga. Tim Masa #1 menyandang juara pertama kategori umum, sedangkan tim Glorius meraih juara kedua, dan Garuda Team 3 ada di peringkat ketiga.

Di kelompok perguruan tinggi, juara pertama dan kedua jatuh ke tim asal Universitas Kristen Maranatha, Bandung, yaitu Garuda 1 dan Moon. Tim Garuda 2 dari Institut Teknologi 10 Nopember, Surabaya, harus puas di tempat ketiga.

Dewan juri juga memilih Andre Wibowo dari tim Leviosa asal Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sebagai pilot terbaik; tim Masa #1 meraih penghargaan untuk presentasi terbaik; dan pesawat Srikandi V2 milik tim Inhuman asal Teknik Penerbangan ITB mendapatkan desain pesawat terunik. "Selain untuk menyalurkan hobi dan belajar, lomba ini untuk ajang praktek menerapkan teori kuliah," kata Yuhusa.(ANWAR SISWADI)



• TEMPOInteraktif

Tuesday, November 15, 2011

Mahasiswa ITB Gelar Kontes Robot Terbang

TEMPO/Aditya Herlambang Putra

TEMPO Interaktif, Bandung - Mahasiswa Teknik Penerbangan serta Program Studi Aeronotika dan Astronotika ITB kembali menggelar Indonesian Indoor Aerial Robot Contest di gedung serbaguna kampus ITB, 15-16 November 2011.

Hari ini, Selasa 15 November 2011, kontes diawali dengan validasi untuk memeriksa kesesuaian pesawat dengan peraturan, dilanjutkan tes terbang. Besok, 33 tim peserta mulai bertarung.

Kontes yang telah mendapat pengakuan dari Japan Society of Aeronautics and Space Sciences itu mengadopsi aturan yang digunakan dalam kontes serupa di University of Tokyo, Jepang. Misi utama lomba tahun ini bukan lagi surveillance seperti tahun lalu.

"Sekarang pesawat menjatuhkan barang seberat 15 gram pada tiga target sasaran," kata salah seorang panitia lomba, Isyraq Ulhaq, Selasa, 15 November 2011. Adapun misi tambahannya yaitu pesawat melakukan sekali manuver looping.

Peserta kontes berasal dari kalangan pelajar sekolah menengah atas, perguruan tinggi, dan kalangan umum pencinta pesawat model. Di antaranya Universitas Kristen Maranatha, ITB, ITS, UGM, SMU Muhammadiyah Sidoarjo, SMAN 1 Denpasar, dan Dirgantara Aero Modelling Club.

Panitia mensyaratkan peserta harus membuat dan merakit sendiri pesawatnya dari nol. Menurut Isyraq, lomba yang pertama kali diadakan pada 2008 itu untuk menumbuhkan semangat kedirgantaraan di kalangan masyarakat.(ANWAR SISWADI)


• TEMPOInteraktif

Friday, November 11, 2011

Inilah Pemenang "Qt ITB Programming Contest 2011"


Qt ITB Programming Contest 2011

BANDUNG, KOMPAS.com
- Semakin menjamurnya penggunaan ponsel dan smartphone di Indonesia membuat permintaan akan aplikasi mobile atau apps pun meningkat, terutama untuk aplikasi dengan bahasa dan konten lokal. Untuk meningkatkan kompetensi di bidang pemrograman mobile, Program Studi Teknik Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama Nokia Developer menggelar "Qt ITB Programming Contest 2011".

Qt ITB Programming Contest 2011 adalah kontes tahunan pemrograman yang tahun ini memasuki tahun kedua bertujuan untuk menghadirkan kompetisi pemrograman dengan standar yang tinggi dan dapat meningkatkan level kompetisi pemrograman di Indonesia.

"Kami berharap kompetisi ini dapat memperkuat wakil Indonesia di ajang kompetisi Internasional,", kata Ketua Program Studi Teknik Informatika, Dr. Ir. Gusti Ayu Putri Saptawati, M.Comm.

Qt ITB Programming Contest 2011 juga berusaha mengenalkan tingginya potensi pengembangan aplikasi berbasis mobile. Qt adalah kakas pemrograman yang dapat dimanfaatkan sekaligus untuk mengembangkan aplikasi baik desktop maupun mobile.

"Kami berusaha memberikan dukungan paling maksimal kepada para pengembang lokal muda terbaik agar mereka dapat menyalurkan talentanya melalui kompetisi ini," ujar Narenda Wicaksono, Developer Manager Nokia Indonesia.

Lomba pemrograman ini terbagi dalam dua kategori untuk tingkat SMA dan perguruan tinggi. Lomba pemrograman tingkat SMA mengacu pada kontes International Olympiad in Informatics (IOI) yang mana setiap tahun Indonesia selalu mengirimkan wakilnya. Sedangkan, lomba tingkat perguruan tinggi mengacu pada kontes International Collegiate Programming Contest (ICPC) yang diselenggarakan oleh Association for Computing Machinery (ACM).

Rangkaian kegiatan Qt ITB Programming Contest 2011 dimulai dengan babak penyisihan yang diselenggarakan pada secara online. Untuk tingkat perguruan tinggi dilaksanakan pada tanggal 15 November 2011 dan diikuti oleh 91 tim. Penyisihan untuk tingkat SMA dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 2011 dan diikuti oleh 160 peserta.

Babak final dilaksanakan pada tanggal 8 dan 9 November 2011 di Kampus ITB. Para peserta hadir dari berbagai SMA dan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia. Setelah pertarungan sengit selama 5 jam nonstop dalam Final Qt ITB Programming Contest 2011, akhirnya diperoleh kontestan terbaik yang berhak menyandang gelar Code Champion.

Code Champion tingkat SMA adalah sebagai berikut:

  • Gold Medallist, Jessica Handojo dari SMA Santa Ursula Jakarta
  • Silver Medallist, Jonathan Irvin Gunawan dari SMAK 1 BPK Penabur Bandung
  • Silver Medallist, Muhammad Aji Muharrom dari MAN Insan Cendekia Serpong
  • Silver Medallist, Michael Desmond dari SMAK 5 BPK Penabur Jakarta
  • Bronze Medallist, Cakra Wishnu Wardhana dari SMAN 8 Yogyakarta
  • Bronze Medallist, Muhammad Yafi dari SMAN 1 Yogyakarta

Sedangkan Code Champion tingkat Perguruan Tinggi adalah sebagai berikut:

  • Juara 1, Tim FlyingBee (Reinhart, Hudi, Shenita) dari Bina Nusantara
  • Juara 2, Tim Saklar Lhompat (Ashar, Berty, Aji) dari Universitas Indonesia
  • Juara 3, Tim TC Faster Acquiring (Angga, Fajrin, Teguh) dari ITS Surabaya
  • Juara Harapan 1, Tim cao_cao (Yudhi Umar, Harrison, Budiman) dari STIMIK Mikroskil Medan
  • Juara Harapan 2, Tim Algorythmists (Kemal, Fedric, Febri) dari Universitas Indonesia.


• KOMPAS

Tuesday, November 1, 2011

ITB Bikin Rumah Inovasi Jamur

Petani jamur. Tempo/Andry Prasetyo

TEMPO Interaktif, Bandung - Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB mendirikan Rumah Inovasi Jamur. Tujuannya mencari potensi dan mengembangkan jenis jamur lokal untuk mencegah ancaman krisis bahan pangan. Salah satunya jamur temuan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang mirip dengan jenis chicken mushroom (Lyophyllum decaster).

Menurut pendiri Rumah Inovasi Jamur, Wayan Pugeg Aryantha, sampai saat ini belum ada satu pun jamur lokal yang diproduksi untuk bahan pangan. Sejauh ini, temuan jamur lokal masih dalam tahap penelitian oleh dosen dan mahasiswa Sekolah Teknologi Ilmu Hayati ITB. Salah satunya jamur temuan di Kabupaten Garut, yang untuk sementara dinamai Lyophyllum sp.

Sarjana Mikrobiologi ITB Muhammad Rizal yang pernah meneliti jamur tersebut untuk skripsi, ada kemiripan jamur itu dengan chicken mushroom (Lyophyllum decaster). Di Amerika, misalnya, jamur itu digemari karena rasanya seperti daging ayam. "Masih diteliti cara pengembangannya dengan media kulit kacang dan tanah," katanya di sela pameran di Aula Barat ITB, Senin 31 Oktober 2011.

Rumah Inovasi Jamur yang berada di gedung Sasana Budaya Ganesha ITB ini mengandalkan hasil riset jamur untuk bermacam jenis obat, seperti penurun kolesterol dan lemak dalam darah, serta menjaga stamina tubuh. Selebihnya telah diolah menjadi berbagai makanan seperti sate, keripik, dan jus. Selain itu, lembaga tersebut menghasilkan bibit-bibit jamur untuk petani lokal seperti tiram dan shi'itake. (ANWAR SISWADI)



• TEMPOInteraktif

Mesin Pembakar Sampah Buatan ITB Hasilkan Bio Oil

TEMPO Interaktif, Bandung - Sebuah mesin pembakar sampah sanggup menghasilkan bahan bakar untuk mesin choper. Inovasi peneliti teknologi tepat guna, Zuhdi A. Kasim, itu menghemat solar hingga 80 persen. Saat dipamerkan di selasar Aula Barat ITB hari ini, mesin seharga Rp 20 juta itu langsung dibeli.


Mesin itu berupa reaktor pyrolisis. Gunanya mengubah sampah benda padat menjadi gas sederhana. Reaktor itu berupa tabung berpenutup dari besi. Kapasitasnya 200 liter atau bisa memuat sampah kering seberat 50 kilogram. "Syaratnya sampah harus kering, tidak boleh basah," ujarnya kepada Tempo, Senin, 31 Oktober 2011.

Sampah yang aman dan tidak menimbulkan ledakan ketika dibakar di reaktor itu, misalnya plastik, dedaunan, dan sabut kelapa. Gas dan hawa panas yang dihasilkan kemudian dialirkan lewat selang kemudian didinginkan (kondensasi). "Hasilnya berupa minyak sampah berwarna hitam seperti oli bekas," kata peneliti di Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB itu.

Minyak sampah itu kemudian dicampur dengan sedikit solar di dalam mesin choper. Mesin itu biasa dipakai untuk menggiling tepung, jagung, kelapa parut, mesin kompos, atau oleh tukang tambal ban untuk mengisi angin. Bio oil itu mengurangi pemakaian solar pada mesin choper hingga 80 persen. "Sampah kering 6 kilogram sama dengan 1 liter solar," katanya.

Gagasan pembuatan mesin itu untuk mengatasi kebiasan orang membakar sampah. Selain menghasilkan bahan bakar, asap hasil pembakaran, ujar Zuhdi, tidak keluar dari 3 lubang angin di tabung reaktor karena disedot oleh mesin choper. "Polusi asap diminimkan walau masih ada polusi udara seperti pada sepeda motor," katanya.(ANWAR SISWADI)



• TEMPOInteraktif

Monday, April 2, 2007

keajaiban internet

dunia itu kecil. tapi internet telah membuatnya menjadi lebih kecil lagi.contohnya dua pengalamanku kemaren siang.1. aku iseng ng-Google suamiku. kemudian dalam lima detik, 3 halaman pertama Google memuntahkan info2 tentang agus budiyono sebagian besar info di Google berisi tentang paper2 yang sedang/telah dikerjakan oleh suamiku, meskipun ada juga

Saturday, March 3, 2007

siapa bilang lulus dari ITB itu enak?

tadi siang, gw sempet nganterin suami rapat di gedung PAU nya ITB.sambil nunggu, gw berniat online sebentar dari kantor suami sekedar ngcek imel dan ng-blog, trus abis itu ngajak Kayla jalan-jalan muterin kampus ITB yang teduh dan rindang.kebetulan hari ini di ITB ada upacara wisuda.jadi situasi lumayan rame dan bikin gw harus parkir mobil di aula barat yang jaraknya sekitar 2 km dari lokasi