Showing posts with label Nuklir. Show all posts
Showing posts with label Nuklir. Show all posts

Wednesday, December 14, 2011

Zulkarnain: bersyukur mendapat ilmu nuklir

Stasiun tenaga nuklir - ilustrasi. (ANTARANews/Ardika)

Pangkalpinang (ANTARA News) - Wali Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel), Zulkarnain Karim, menyatakan masyarakat mesti beryukur mendapatkan ilmu nuklir dalam peluncuran `nuclear corner` atau pojok nuklir di SMA Negeri 2 Pangkalpinang.

"Jika masyarakat beryukur dan menerima semua kebajikan yang diberikan Allah akan merasakan manfaatnya dan bisa hidup bahagia," ujarnya pada acara pengenalan Iptek nuklir yang juga dihadiri Kepala Pusat Diseminasi Iptek Nuklir, Totti Tjiptosumirat di SMAN 2 Pangkalpinang, Selasa.

Ia menjelaskan, dari pemberian Allah itu pasti ada hikmahnya, pasti ada kebajikan di balik semuanya dan dalam bersyukur tidak boleh setengah-setengah untuk mendapatkan limpah berkah yang sesungguhnya.

Sehingga Allah akan memberikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat bermanfaat bagi semua kalangan masyarakat salah satu contohnya yaitu Iptek nuklir yang memberikan banyak manfaat untuk semua kalangan.

"Jika nuklir ini dilarang dan dianggap merugikan lingkungan, tidak mungkin ada fakultas fisika dan nuklir di Indonesia yang sangat banyak," ujarnya.

Ia mengatakan, Iptek nuklir ini sangat bermanfaat terhadap lingkungan, kesehatan, industri, sumber daya alam (SDA) dan masalah pemanfaatan energi.

Zulkarnain sempat mencicipi makanan hasil pengawetan dengan sistim mutasi radiasi yang di dampingi oleh Kepala Pusat Diseminasi Iptek Nuklir, Totti Tjiptosumirat.

Mengenai dampak radiasi yang ada pada makanan hasil mutasi radiasi tersebut, Zulkarnain menilai tidak ada dampak radiasi karena beberapa menit setelah mencicipi makan tersebut tidak ada masalah dan dampak yang dirasakan.

Sementara, dari pihak Batan yaitu Totti Tjiptosumirat mengatakan, dampak radiasi dari makanan tersebut pasti ada, akan tetapi kecil dan tidak ada efek sampingnya.

Sementara itu Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Kamiludin menyambut baik kegiatan Iptek nuklir yang dilaksanakan oleh Batan, karena bisa meningkatkan kualitas pendidikan di Babel.

"SMA N 2 Pangkalpinang sangat terbuka akan adanya pengenalan ilmu teknologi yang baru dan apalagi iptek nuklir ini akan memberikan banyak manfaat bagi banyak kalangan," ujarnya.

Dengan adanya `nuclear corner` ini masyarakat dan khususnya siswa dan siswi SMAN 2 Pangkalpinang akan menjadi lebih tahu tentang manfaat maupun dampak dari teknologi nuklir tersebut.

"Semestinya kita harus mempelajari iptek nuklir tesebut untuk bisa mengetahui lebih dalam tentang nuklir walaupun nantinya belum pasti akan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Babel," ujarnya.

Untuk kedepannya SMA N 2 Pangkalpinang bisa memperkenalkan atau mensosialisasikan iptek nuklir tersebut kepada siswa dan siswi di sekolah dan masyarakat di Pangkalpinang.

Kemudian pihak sekolah akan berkoordinasi dengan pihak Batan yang akan membuat rencana mendesiminasikan kepada masyarakat yang ada di Pangkalpinang terutama sekolah-sekolah yang berminat dan berkunjung ke SMA N 2 Pangkalpinang untuk mendalami tentang iptek nuklir tersebut.

Kegiatan `nuclear corener` tersebut pihak Batan dalam pembuatan pameran iptek nuklir yang lengkap dengan program animasi alat peraga nuklir mengahbiskan dan sekitar Rp160 juta.

Sementara itu, Ayuni siswa kelas X yang yang sangat tertarik dengan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) mengaku sangat senang akan adanya pengenalan Iptek nuklir yang diselenggarakan di sekolahnya.

"Walaupun saat ini dia lebih banyak mengetahui tentang nilai negatif dari teknologi nuklir tersebut, akan tetapi ingin mempelajari lebih dalam lagi tentang iptek nuklir tersebut," demikian Ayuni. (T.KR-WRA/I013)



Antaranews

Wednesday, October 19, 2011

Indonesia perlu contoh India bangun PLTN murah

ilustrasi Nuclear Reactor. (istimewa)

Jakarta (ANTARA News) - Indonesia seharusnya mencontoh India dalam mengimplementasikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang menghasilkan harga listrik sangat murah, namun memiliki standar keamanan dan keselamatan tinggi, kata seorang pakar.

"India mampu menyediakan listrik dari PLTN dengan harga sangat murah, dua sen dolar AS per kWh, tapi memiliki standar keamanan dan keselamatan tinggi seperti yang dipunyai Barat," kata pakar nuklir dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Dr Zaki Su`ud pada Diskusi Kelompok Terfokus (FGD) tentang "Pentingnya Diseminasi Iptek Nuklir di Indonesia" di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan, meskipun AS terus menawarkan teknologinya kepada India, India memilih menggunakan teknologi nuklir milik Rusia yang standar keamanannya rendah namun sangat murah dua sen dolar AS per kWh.

"Tapi ahli India mendesain kembali teknologi tersebut dan membuatnya menjadi seaman milik Barat, namun menghasilkan harga listrik yang tetap murah dan dijual juga dengan harga 2 sen dolar AS per kWh. Mereka memang hebat," katanya sambil membandingkan harga listrik PLTU batubara di Indonesia yang mencapai 7-8 sen dolar AS per kWh.

Sementara China saat ini juga menargetkan membangun 130 PLTN lagi dengan teknologi baru yang harganya 60-70 persen lebih murah dari harga PLTN yang sudah ada.

Zaki juga menuturkan, bahwa teknologi PLTN saat ini sudah semakin aman dan memiliki standar keselamatan sangat tinggi, berbeda dengan teknologi PLTN sebelumnya.

"Saat ini sudah dimanfaatkan di sejumlah negara PLTN generasi III yang mengandalkan sirkulasi alami yang selain otomatis "shutdown" jika terjadi kecelakaan, juga memiliki sistem pendingin yang langsung bekerja ketika shutdown sehingga apa yang terjadi di Fukushima tidak akan lagi terjadi. Selain itu tidak mungkin lagi bisa disabotase seperti Chernobyl," katanya.

Sementara itu, aktivis Masyarakat Anti Nuklir Indonesia (Manusia) Dian Abraham yang juga hadir dalam diskusi tersebut mempertanyakan harga listrik PLTN yang bisa sangat murah seperti yang dikemukakan Zaki itu.

"Perlu diteliti dulu apakah benar harga itu, data yang kami miliki biaya pembangunan PLTN sangat besar sehingga selain resikonya tinggi, harga listriknya juga tetap mahal. Perlu dilihat kemungkinan subsidi pemerintah India," katanya.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan Budi Sudarsono mengatakan, pembangunan PLTN pertama kali memang akan mahal, sedikitnya Rp16 triliun untuk satu PLTN berkapasitas 1.000 MW, namun untuk pembangunan PLTN berikutnya harganya akan semakin murah.

Hadir pula dalam FGD tersebut Kepala Pusat Diseminasi Iptek Nuklir Batan Totti Tjiptosumirat, anggota Komisi VII DPR RI Sohibul Iman dan Pengamat Nuklir yang kontra PLTN Iwan Kurniawan.(T.D009/M026)



Antaranews

Sunday, October 16, 2011

Nuklir Indonesia tidak untuk senjata

Hudi Hastowo. (Info Batan)

Yogyakarta (ANTARA News) - Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) menegaskan bahwa teknologi nuklir di Indonesia tidak akan dimanfaatkan untuk kepentingan pembuatan senjata.

"Pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia tidak akan digunakan untuk kepentingan membuat senjata perang, tetapi lebih ditujukan untuk kepentingan perdamaian dan kesejahteraan manusia," kata Kepala Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Hudi Hastowo, usai peresmian Zona Nuklir di Taman Pintar Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, Indonesia telah memiliki peraturan perundang-undangan tentang pemanfaatan teknologi nuklir, salah satunya mengatur bahwa nuklir tidak akan digunakan untuk kepentingan membuat senjata tetapi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selama ini, lanjut dia, hasil riset yang dilakukan Batan untuk pemanfaatan teknologi nuklir telah mampu memberikan manfaat kepada masyarakat di berbagai bidang.

Di bidang pertanian, Batan telah mampu menghasilkan benih unggul untuk padi sebanyak 16 varietas, sorgum dan kedelai karena selama ini Indonesia masih mengimpor bahan utama pembuatan tempe itu.

Batan, dikatakannya, juga menemukan formula pakan ternak yang mampu meningkatkan bobot hewan ternak dengan lebih baik, serta membuat pakan ternak menjadi lebih awet.

Di bidang kesehatan, menurut dia, teknologi nuklir juga telah dimanfaatkan untuk membantu menyembuhkan penderita gondok, seperti yang pernah dilakukan kepada masyarakat di lereng barat Gunung Merapi.

"Teknologi nuklir ini juga pernah digunakan untuk mendeteksi air tanah dalam seperti yang dilakukan di Klaten, Malang, Madura dan di Gunung Kidul dalam proyek Bribin," katanya.

Mengenai rencana pembuatan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Hudi mengatakan, belum ada tindak lanjut atas rencana pembuatan pembangkit listrik tersebut.

"Terlebih, setelah ada bencana gempa bumi di Jepang yang menyebabkan kebocoran reaktor nuklir Fukushima. Rencana itu kini masih tertunda, padahal sebelumnya penerimaan masyarakat cukup baik," katanya.

Batan, lanjut dia, akan tetap menyiapkan sumber daya manusia dan peningkatan penguasaan teknologi karena telah ada amanah dalam Undang Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang rencana pembangunan jangka panjang.

Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) rencananya akan dibangun di kawasan Tanjung Ular Muntok Bangka Barat yang akan dilanjutkan dengan tahap studi kelayakan lokasi.
(T.E013/R010)


Antaranews