Showing posts with label DI. Show all posts
Showing posts with label DI. Show all posts

Sunday, January 15, 2012

Pesawat N-219 segera masuki tahapan produksi

Pesawat N-219 buatan PT Dirgantara Indonesia (istimewa)

Bandung (ANTARA News) - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) segera memasuki tahapan produksi pesawat tipe terbarunya, N-219 pesawat terbang jarak pendek yang berkemampuan STOL (short-take off and landing/terbang dan mendarat di landasan pendek).

Tahun ini PTDI akan membuat dua prototipe (dua pesawat dalam ukuran sesungguhnya) yang masing-masing akan digunakan untuk test terbang dan tes statis di daratan, kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Dita Ardonni Jafri di Bandung, kemarin.

Dijelaskan, rancangan dasar N-219 dimulai tahun 2006 dan sampai dengan 2008 telah menyelesaikan berbagai tes dasar, termasuk tes terowongan angin. PTDI melaksanakan berbagai tes tersebut bekerjasama dengan Badan Pengembangan Pengkajian Teknologi (BPPT).

Pesawat ini memiliki kapasitas 19 penumpang dan dilengkapi dengan dua mesin serta dirancang bisa melayani kebutuhan penerbangan perintis untuk menghubungkan wilayah-wilayah terpencil.

N-219 masih harus menjalani beberapa jenis uji lainnya, di antaranya uji statik pesawat, uji mesin produksi, dan akhirnya uji terbang. Tahun 2014 ditargetkan sudah mendapatkan sertifikasi kelayakan terbang dari Kementerian Perhubungan dan tahun 2015 direncanalan memasuki pasar untuk menggantikan pesawat sekelas yang sudah memasuki usia tua.

Beberapa pemerintah kabupaten telah menyatakan minat untuk dapat mengoperasikan pesawat N-219. Pesawat tersebut memang cocok digunakan untuk menghubungkan penerbangan antar Kabupaten dan daerah-daerah yang terpencil di Tanah Air.

Selain itu, PT Merpati Nusantara Airlines (PT. MNA) juga menyatakan minat untuk mengoperasikannya serta berencana membeli sebanyak 20 pesawat seperti yang pernah disampaikan oleh Menteri BUMN usai rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI di gedung DPR pada bulan Juli 2011.

Survei pasar yang telah dilakukan PTDI menunjukkan, saat ini di Indonesia dibutuhkan pesawat sekelas N-219 berkisar 202, terdiri dari kebutuhan sipil 97 buah serta kebutuhan militer dan misi khusus 105 buah.

Di samping dinilai cocok dengan situasi dan kondisi landasan bandara yang tidak mulus, pesawat ini juga mampu lepas landas dan mendarat pada landasan yang pendek (600 meter) dengan stabilitas tinggi, cocok dengan banyak bandara terpencil di Indonesia yang tidak memiliki lahan luas.

Selain itu, pesawat tersebut dirancang agar dapat melakukan manuver dengan baik dan nyaman. Struktur pesawat juga didesain agar dapat membawa bahan bakar yang lebih banyak dibandingkan dengan pesawat lain sekelasnya mengingat tidak semua bandara di daerah terpencil punya fasilitas pengisian bahan bakar.

Pesawat ini dirancang memiliki jarak jelajah hingga 650 Nm (1.200 km) dengan kecepatan maksimum 213 Kts (395 km/jam), sementara harga pesawat lebih murah dibandingkan pesawat lain yang sekelas serta biaya operasionalnya pun relatif rendah.

PTDI sebelumnya telah sukses memproduksi pesawat yang termasuk banyak digunakan di dunia, yakni CN-235 bekerjasama dengan perusahaan CASA, Spanyol. Bahkan sebelumnya juga pernah berhasil menciptakan pesawat lebih besar, N-250 pada pertengahan 1990-an.

Untuk CN-235, sejumlah negara tercatat sebagai pemakai terbesar yakni Turki (60 pesawat), Korea (20 pesawat), AU Perancis (19 pesawat) dan Malaysia (delapan pesawat).

Negara-negara pengguna CN-235 lainnya, ialah Arab Saudi, Azerbaijan, Bophuthatswana, Brunei Darussalam, Burkina Faso, Cile, Kolombia, Ekuador, Irlandia, Jordania, Meksiko, Marokko, Pakistan, Papua Nugini, Afrika Selatan, Senegal, Uni Emirat Arab, Venezuela dan Amerika Serikat.

Pada tahun 2011, PTDI telah mengirimkan tiga pesawat N-235 jenis pengintai maritim kepada Badan Penjaga Pantai Korea Selatan (KCG), yang satu lainnya akan dikirimkan pada Maret 2012. (T.E004/H-NG/A014)



• ANTARA News

Thursday, January 12, 2012

Dirgantara Produksi 15 Pesawat N-219 untuk Papua

N219

Jurnas.com | PT Dirgantara Indonesia akan memproduksi sebanyak 15 unit pesawat jenis N-219 yang akan digunakan untuk penerbangan perintis di Provinsi Papua.

"Pengembangan N-219 sudah mulai dilakukan yang prototipenya ditargetkan rampung pada 2014," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana di Bandung, Kamis (12/1).

Menurut Andi, biaya produksi satu unit pesawat berkapasitas 19 penumpang ini mencapai sekitar 4 juta dolar AS.

"Untuk itu dibutuhkan dana sekitar 60 juta dolar AS atau sekitar Rp540 miliar untuk menyelesaikan seluruh proyek tersebut," katanya.

Ia menjelaskan pihaknya sudah menyampaikan proposal kepada pemerintah untuk mendapat pembiayaan dari APBN. "Pengembangan pesawat N-219 tersebut mendapat dukungan penuh pemerintah seperti Kementerian Ristek, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perhubungan," katanya.

Menurutnya pesawat jenis N-219 merupakan tipe pesawat yang sangat cocok dan handal untuk wilayah perintis seperti Papua dan sekitarnya.

Pasalnya, dari 310 bandara di seluruh wilayah Papua sebanyak 90 persen di antaranya memiliki landasan pacu kurang dari 800 meter.

"Landasan pacu di wilayah Papua umumnya berukuran pendek, bahkan ada yang hanya 400 meter. Tentu dibutuhkan pesawat yang cocok untuk digunakan di wilayah itu," tegasnya.

Selain pembiayaan dari pemerintah, juga akan diupayakan diperoleh dari perusahaan yang akan mengoperasikan pesawat komersial tersebut. Antara


•
Jurnas.com

PT DI siap produksi "converter kit"

Ilustrasi - Converter kit bahan bakar kendaraan bermotor (istimewa)

Bandung (ANTARA News) - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menyatakan kesanggupannya memproduksi "converter kit" atau alat pengalih BBM ke BBG hingga kapasitas produksi satu juta unit.

"Kita sanggup memproduksi sebanyak mungkin converter kit, karena hal itu tidak terlalu sulit," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana, di sela rapat sinergi PTDI dengan sejumlah BUMN untuk pengadaan sejuta tangki konversi BBM (LGV), di Gedung Dirgantara Indonesia, Bandung, Kamis.

Pada kesempatan itu Menteri BUMN Dahlan Iskan mengumpulkan direksi PT Barata Indonesia, PT Boma Bisma Indra, PT. Dok Perkapalan Surabaya, PT INTI, PT Krakatau Steel, PT, PINDAD, dan PT INKA serta beberapa anak BUMN.

Menurut Andi, produksi tabung BBG sekaligus dengan converter kit tersebut tidak sulit karena PTDI memiliki fasilitas dan kemampuan teknis serta sumber daya manusia.

"Tetapi yang penting dalam produksi converter kit ini adalah pada standar kualifikasinya sehingga terjamin keamanannya," katanya.

Ia menambahkan standar tabung yang akan diproduksi harus memiliki kualifikasi tekanan gas hingga lebih dari 200 bar, atau beberapa kali lipat dari tangki elpiji biasa.

Meski demikian Andi tidak merinci lebih lanjut berapa jumlah converter kit yang akan diproduksi di PTDI.

"Kita siap saja. Tapi yang saat ini kita fokus adalah membuat prototipe converter kit tersebut, menetapkan standarnya sehingga dapat diproduksi juga oleh pihak lain," ujarnya.

Ia menjelaskan, prototipe converter kit PTDI sedang diujicobakan di BPH Migas.

Pemerintah diketahui akan menerapkan pembatasan BBM bersubsidi pada 1 April 2012 yang pada tahap awal diterapkan di wilayah DKI Jakarta, dan selanjutnya secara bertahap berlaku di Jawa-Bali pada akhir 2012.

Penerapan pembatasan BBM ini disebabkan terbatasnya gas dan converter kit atau alat tambah yang digunakan pada mobil untuk mengalihkan bahan bakar dari BBM ke gas.

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, mendukung sepenuhnya PTDI untuk memproduksi konverter kit agar tidak diimpor.

"Sepanjang tidak menganggu program pembuatan pesawatnya PTDI saya dukung. Impor harus kita hindari selagi bisa diproduksi di dalam negeri," tegas Dahlan.(R017)


• ANTARA News

Friday, November 25, 2011

Kemhan Uji Coba 22 Unit Roket R-Han 122

Baturaja, DMC - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia melalui Direktorat Teknik Industri Pertahanan Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan (Dirtekindhan Ditjen Pothan) bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) kembali melakukan uji coba Roket R-Han 122. Uji coba dilakukan di Pusat Latihan Tempur TNI AD, Baturaja, Sumatera Selatan, Jum’at (25/11).

Selain bersama LAPAN, dalam uji coba tersebut Kemhan juga melibatkan pihak – pihak terkait dari industri pertahanan dalam negeri antara lain PT. Pindad, PT. DI dan PT. Dahana. Selain itu, Kemhan juga mengundangan TNI AL sebagai calon pengguna Roket R-Han 122.

Uji coba kali ini merupakan hasil dari evalusi uji coba yang dilakukan sebelumnya pada bulan November 2010 di tempat yang sama. Melalui uji coba dan evaluasi secara terus menerus diharapkan Program Roket Nasional dengan nama R-Han 122 tersebut nantinya dapat mencapai hasil yang maksimal dan siap diproduksi sesuai keinginan pengguna dalam hal ini TNI.

Dalam Uji coba kali ini, diluncurkan Roket R-Han 122 sebanyak 22 unit yang terdiri dari tiga unit warhead smoke (asap) dan 19 unit wearhead live (tajam). Dari 22 unit tersebut, satu unit roket warhead smoke (asap) telah diluncurkan Kamis Sore (24/11), sedangkan 21 unit seluruhnya diuji coba pada Jum’at (25/11). Peluncuran berjalan lancar dan sukses meski dalam cuaca hujan.

Dari 21 unit Roket R-Han 122 yang diluncurkan hari ini terdiri dari dua roket warhead smoke (asap) dan 19 unit roket warhead live (tajam). Peluncuran roket dibagi dalam empat tahap dilaksanakan secara salvo menggunakan mobil launcher. Tahap satu 3 unit, kedua 6 unit, ketiga 6 unit dan keempat 6 unit.

Roket R-Han 122 yang memiliki jarak jangkau 14 kilometer tersebut merupakan hasil kerjasama yang sinergi antara Kementerian Pertahanan dengan Kementerian Riset dan Teknologi, LAPAN, PT. Pindad, dan pihak terkait lainnya. Pengembangan roket R-Han 122 dalam rangka mengurangi ketergantungan pengadaan dari luar negeri dengan memberdayakan potensi dan kemampuan industri pertahanan dalam negeri.

Hadir menyaksikan dan meninjau secara langsung uji coba Roket R-Han 122 antara lain Staf Ahli Menhan Bidang Keamanan Kemhan Mayjen TNI Zaenal Fahri Tamzis dan sejumlah pejabat Kemhan, Mabes TNI AL dan industri pertahanan dalam negeri. (BDI/SR)


• DMC Kemhan

Friday, November 18, 2011

PTDI, Antara Mimpi dan Kenyataan

Bila browsing di internet dengan mengklik PTDI, tampilan yang muncul adalah PTDI,Professional Truck Driver Institute.Padahal, yang ingin dibahas bersama di sini adalah tentang PT Dirgantara Indonesia.

Membingungkan? Sekarang mari kita berkunjung ke website-nya PT Dirgantara Indonesia yang ternyata tertera di sana,mungkin untuk konsumsi global, PTDI dipromosikan dengan nama Indonesian Aerospace Inc. Tercatat didirikan pada 26 April 1976 bernama IPTN dengan N untuk Nurtanio dan pada 11 Oktober 1985 diubah dengan IPTN yang N-nya sudah menjadi Nusantara,serta pada 24 Agustus 2000 berubah lagi menjadi PT Dirgantara Indonesia/ Indonesian Aerospace Inc.

Inilah pabrik pesawat terbang termegah di belahan bumi selatan yang sangat sibuk dengan kegiatan utamanya, yaitu gonta- ganti nama dan tenar dengan tagline-nya Tetuko! (sing teko ora tuku-tuku dan sing tuku ora teko-teko) Sementara itu, dalam catatan sejarah yang agak sulit untuk dihapus begitu saja, pada 1940-an Wiweko Supono, Nurtanio Pringgoadisurjo,dan Yum Soemarsono bersama dengan Tossi,Ahmad,dan kawankawan sudah merintis upaya pembuatan pesawat terbang walau terbatas pada jenis pesawat tidak bermotor.

Berikutnya kemudian dikenal pula rintisan pesawat bermotor yang menggunakan mesin Harley Davidson dengan kode WEL-X/RI–X yang merupakan ujud dari pesawat bermesin pertama karya anak bangsa.Tahun 1954, Nurtanio membuat rancangan pesawat terbang ”Si-Kumbang”. Tidak berhenti di situ,pada 1957–1958 Nurtanio mengembangkan desain pesawat lainnya dengan nama “Belalang” dan “Si Kunang”.

Semua dikerjakan sendiri tanpa adanya kucuran dana dari pemerintah, proyek yang hanya berlandaskan idealisme dan jiwa patriot murni dari sang prajurit udara.Kerja yang jauh dari kegiatan seremonial apalagi dengan hal yang glamor serta luxurious sifatnya. Pada tahun 1976, seluruh kegiatan yang patriotik itu distop dan hanggar eksperimen serta kawasan di sekitarnya diambil alih untuk didirikan IPTN yang megah dan meriah.

Secara bertahap,para personel Angkatan Udara dieliminasi secara sistematis, dan puncaknya pada 1985 nama pahlawan kebanggaan Angkatan Udara yang sangat dihormati, Nurtanio, dicoret dan diganti dengan Nusantara. Berlanjut kemudian pada tahun 2000 menjadi PTDI.

Harapan?

Kini PTDI, di tengah kelesuan dari production line-nya, bertiup angin segar dari pemerintah. Dengan menyandang bendera industri strategis pertahanan, kelihatannya ada keinginan untuk menghidupkan ulang PTDI sebagai pabrik pesawat terbang. Proyek C-295 dan C-219 konon sudah nongkrong di depan pintu untuk digarap.

Kabar ini tiba-tiba saja muncul sebagai pembawa “angin surga”,pengembangan industri pertahanan dalam negeri yang akan segera tampil ke pentas global. Harus diingatkan selalu bahwa keinginan yang patut dihargai sebagai langkah berani untuk kembali ke jalan yang benar ini, janganlah sampai menjadi tidak lebih dari pepesan kosong belaka.

Sekat feodalistis telah menjadi barrier yang sangat ampuh dalam menghambat aliran informasi ke meja “Big Boss”. Ide-ide cemerlang hendaknya jangan dibiarkan melayang di atas awan. Ide-ide dengan proyek-proyek besar seyogianya dibawa untuk “down to earth” terlebih dahulu, diajak untuk melihat realita yang ada di PTDI. Realita yang selalu saja sulit untuk bisa sampai di meja kerja sang pemimpin.

Dari kenyataan yang ada,PTDI masih berhadapan dengan begitu banyak PR yang harus diselesaikan dulu sebelum dapat diajak untuk mengerjakan proyek-proyek sekelas C-295 dan atau C-219. PR yang pertama adalah bahwa PTDI masih menghadapi masalah serius tentang keuangan bernilai lebih dari satu triliun, berkait dengan manajemen dana pensiun dari para pegawainya.

Di samping itu, PTDI juga berhadapan dengan masalah kaderisasi SDM terutama menyangkut produktivitas dan kapabilitas perancangan yang membutuhkan waktu lama untuk dapat memenuhinya. Sebagian besar telah mencapai usia 50 tahun. Hal sangat penting lainnya adalah menyamakan persepsi tentang pabrik atau industri pesawat terbang yang tidak bisa dan atau tidak mungkin berdiri sendiri.

Almarhum Dr Said Jenie mengatakan tentang mutlaknya dibangun tiga pilar industri penerbangan nasional di bawah asuhan pemerintah, sebagai “konduktornya”. Ketiga pilar itu adalah Angkatan Udara, Pabrik Pesawat, dan Perguruan Tinggi. Bila tidak ada long term strategic planning yang mapan serta dukungan dana yang konsisten, akan sia-sialah apa pun yang dikerjakan.

Harus ada proyek-proyek pesawat militer jangka panjang yang dapat dikonversikan juga sebagai pesawat angkutan udara sipil yang menjadi program terpadu,lengkap dengan ditopang oleh kegiatan penelitian dan pengembangan. Karena pada hakikatnya, untuk bersaing di panggung global tanpa pijakan pasar di dalam negeri, pasti akan langsung menjadi pungguk yang merindukan sang bulan.

Pola Kerja Sama

Khusus untuk proyek C-295 (sebenarnya adalah merupakan pesaing dari N-250) telah mengembalikan posisi PTDI persis seperti pada waktu mengerjakan C-212.Bila tidak ada hero dari pihak ketiga, “local content” 50% tidak akan pernah bisa tercapai. Lebih-lebih (mungkin saja terjadi) data engineering-nya tidak diberikan.

Kalau saja hal ini dipaksakan juga, peran PTDI nantinya tidak akan optimal. Memang ada pilihan lain yang lebih realistis mungkin, yaitu PTDI beralih untuk lebih banyak berkonsentrasi pada industri komponen, seperti yang selama ini dilakukan dalam konteks survival.

Namun, harus digarisbawahi bahwa added value yang akan diperoleh sangat rendah, karena akan berperan sebagai yang sering diselorohkan sebagai “tukang obras”. Di sini hanya dibutuhkan tenaga STM dan politeknik saja. Tidak dibutuhkan para sarjana. Nah, itulah semua apa adanya di PTDI, sebuah pabrik pesawat yang tengah kehilangan nyawanya, kehilangan spiritnya sebagai akibat dari antara lain,melenyapkan nama besar

Nurtanio sebagai perintis industri penerbangan di Indonesia. Sebuah ironi dari balada industri pesawat terbang yang didirikan dengan pendekatan kekuasaan belaka. Menggunakan kawasan orang lain dengan sekaligus menghapus sejarah dan nama besar pemiliknya.

Masih besar harapan untuk bangkit kembali, dengan syarat menyelesaikan terlebih dahulu beberapa PR yang kini tengah dihadapi sebelum bergulir dengan proyek-proyek besar seperti C-295 dan atau C-219.

Mudah-mudahan, kebanggaan Indonesia tidak berhenti hanya kepada para SDM-nya yang kini berkiprah di hampir seluruh pabrik pesawat di muka bumi ini,Insya Allah. CHAPPY HAKIM Komisaris Utama PTDI 2002–2005, Chairman CSE Aviation


• SINDO

Thursday, November 3, 2011

PT DI Siap Upgrade Pesawat F-16 Hibah AS

BANDUNG– PT Dirgantara Indonesia (DI) siap meng-upgrade pesawat tempur F-16 hibah dari Amerika Serikat (AS) apabila mendapat kepercayaan dari pemerintah. Sebanyak 24 unit pesawat tempur itu akan dinaikkan kemampuannya ke blok 52.

Direktur Teknologi PT DI Dita Ardoni Jafri mengatakan, PT DI memiliki pengalaman dalam mengintegrasikan peralatan mahal dan canggih di Turki. Bahkan, hasil kerja tersebut masih terus terpakai hingga sekarang. Pengalaman ini akan sangat berharga karena upgrade atau retrofit F-16 juga tak jauh beda, yakni dengan mengintegrasikan komponen yang telah ada.

“Itu sudah terbukti,” katanya kepada rombongan wartawan di Bandung kemarin. Selain telah ada komponen yang tinggal diintegrasikan, retrofit F-16 juga dilengkapi dengan paket-paket gambar. “Kalau kita diberi kepercayaan, akan kita kerjakan,”paparnya. Jika diberi kesempatan, para ahli dari PT DI harus dibawa ke AS guna terlibat dalam proses retrofit tersebut. Namun, pihaknya masih akan melihat nilai pelibatan tersebut.

“Kalau cuma dikasih USD8.000 untuk tiga pesawat, buat apa? Kalau nilainya signifikan kita kerjakan, tapi jika tidak PT DI tidak perlu dilibatkan. Jangan sampai seperti dulu,PT DI dilibatkan tapi nilai tidak sesuai,”tuturnya. Dita mengingatkan, mestinya retrofit tidak sekadar tempel sana sini, tapi Indonesia juga harus menguasai software pesawat itu. Masalahnya, AS tidak bakal memberikan software tersebut, sementara software merupakan roh dari pesawat itu.

Untuk mampu membuat software dibutuhkan perjuangan yang tidak ringan dan biaya yang besar.“Cepat atau lambat harus kita kuasai. Tanpa menguasai software,roh tidak kita kuasai. Di mana pun tidak ada roh mengambil dari orang lain. Kalau hanya tempel sana-sini kita tidak akan maju, harus punya ciptaan teknologi,”tambahnya. Rencana menerima hibah dari AS ini sudah disetujui DPR.

Namun dengan catatan bahwa proses retrofit dilakukan ke blok 52 sesuai dengan standar minimum essential force (MEF). DPR juga meminta agar retrofit dilakukan di Tanah Air. Sementara itu, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin mengatakan,upgradeF- 16 ke blok 52 dilakukan untuk seluruh komponen yang memungkinkan di-upgrade ke blok tersebut.

“Upgrade seperti sistem persenjataan, avionic, airframe, dan engine,”katanya. Sebelumnya Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat menjelaskan, pemerintah menganggarkan untuk membeli baru F-16 blok 52 sebanyak enam unit.Tapi, anggaran itu akan dialihkan untuk biaya upgrade setelah mendapat tawaran hibah karena dinilai lebih efisien. fefy dwi haryanto


Wednesday, November 2, 2011

Lisensi Habis, PT DI Butuh Proyek Pengembangan Pesawat

Jurnas.com | AKIBAT krisis keuangan yang sempat menimpa PT Dirgantara Indonesia, perusahaan pesawat terbang nasional ini kehilangan lisensi beberapa pesawat yang sebelumnya bisa diproduksi.

Direktur Teknik Teknologi dan Pengembangan PT. DI Dita Ardonni Jafri berharap, pemerintah dapat memberi bantuan agar PT DI bisa terus hidup.

"Lisensi produksi helikopter kita telah habis,"kata Ardonni di kantor PT DI di Bandung Jawa Barat, Selasa (1/11).

Menurut dia, habisnya lisensi pembuatan pesawat ini dikarenakan PT DI telah mencapai kapasitas produksi yang ditentukan. Untuk mengatasi persoalan ini, Ardonni berharap pemerintah dapat membantu dengan memberikan proyek pembuatan pesawat agar PT DI dapat terus hidup.

Namun, menurut Ardonni, akan lebih baik jika pemerintah memberikan proyek jangka panjang agar pengembangan pesawat baru bisa terus dilakukan.

“Selama ini pemerintah memberikan proyek setahun, setahun. Ini membuat kami kesulitan. Lebih baik jangka panjang, dengan jumlah yang besar,”kata Ardonni.

Lisensi milik PT DI yang saat ini telah habis diantaranya lisensi untuk helikopter Super Puma dan NBell-412.

Selain itu, ada beberapa pesawat yang akan dikembangkan PT DI. CN-235 Next G, Pesawat Twin Outer N-219 yang difungsikan untuk pengamanan wilayah Indonesia bagian timur, IF-X / KF-X yang merupakan Joint Production dengan Korea Selatan, Roket RHan 122 yang sekarang sudah dipesan Kemhan sebanyak 1000 buah, dan helikopter tempur Bumblebee. “Tapi kalau tak ada proyek, kami tak bisa melakukan pengembangan ini,”kata Ardonni.


• Jurnas

Monday, October 31, 2011

Pesawat N-250 Masih Dirawat Baik

BANDUNG--MICOM: PT Dirgantara Indonesia (PT DI) masih merawat dengan baik dua unit pesawat karya anak bangsa N-250 Gatotkaca meskipun kedua pesawat itu tidak bisa diterbangkan karena terkendala prosedur dan regulasi penerbangan.

"Dua pesawat N-250 masih kami rawat dengan baik di hanggar kami," kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso di Bandung, Sabtu (29/10).

Pesawat N-250 merupakanan pesawat hasil pengembangan sendiri putra-putri Bangsa Indonesia yang dikembangkan PT Dirgantara Indonesia yang kala itu bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

Pesawat N-250 yang sempat diterbangkan dan mengikuti sejumlah pameran kedirgantaraan itu merupakan pengembangan IPTN dari produk andalannya CN-235 yang merupakan produk kerja sama dengan Cassa Spanyol.

Dengan warna dasar putih dan bagian bawah badan pesawat biru itu, N-250 masih "gagah" dipamerkan, meskipun pesawat itu tidak lagi diterbangkan.

Bahkan, N-250 menjadi salah satu pesawat produk PTDI yang dipamerkan saat kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke PTDI pada Rabu (26/10) lalu. Presiden juga sempat mendapat sekilas penjelasan terkait perawatan pesawat itu.

Juru bicara PTDI, Rakhendi menyebutkan pesawat itu disimpan di hanggar yang terletak di ujung kompleks hanggar PTDI.

"Sebenarnya pembuatan N-250 itu sudah selesai dua setengah pesawat, dua pesawat sudah dirampungkan dan yang satu lagi pengerjaanya baru 50% saat proyek itu dihentikan," kata juru bicara PT Dirgantara Indonesia, Rakhendi.

Pesawat N-250 yang merupakan pengembangan dari CN-235 memiliki bentuk berbeda dari pendahulunya. Yang mencolok adalah sayap ekornya yang dipasang di bagian atas, sedangkan CN-235 pada bagian bawahnya.

Saat ini PTDI kembali bangkit melalui program revitalisasi dengan mengembangkan produk CN-235 Maritime Patrol dan terakhir mengembangkan pesawat CN-295 bekerja sama dengan Airbus Military Spanyol.

PTDI akan mengerjakan sejumlah pesawat CN-295 pesanan Kementerian Pertahanan RI di samping membuat helikopter dan pesawat CN-212.

Bersama PT Pindad, PTDI mendapat penugasan untuk mendukung program revitalisasi alutsista TNI di bidang masing-masing. (Ant/OL-3)


• MediaIndonesia

Wednesday, October 26, 2011

Dahlan Iskan: Jangan Ganggu PT DI

Kompas/Didit Putra Erlangga-Menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang ditemui di Bandung, Rabu (26/10/2011).


BANDUNG, KOMPAS.com — Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta kepada semua pihak agar tidak mengganggu PT Dirgantara Indonesia yang sedang berupaya bangkit dari keterpurukan.

Pemesanan sembilan unit pesawat CN295 oleh Kementerian Pertahanan merupakan momen berharga untuk menyehatkan industri kedirgantaraan nasional.

"Biarkan PT DI memfokuskan perhatiannya untuk menyelesaikan pemesanan. Jangan minta mereka mengurusi hal lain sehingga bisa mengganggu hasilnya," ujar Dahlan yang ditemui seusai kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke PT DI di Bandung, Rabu (26/10/2011).

Dahlan beralasan PT DI harus bekerja keras untuk memulihkan citranya. Dengan merampungkan tepat waktu, otomatis reputasinya bisa kembali pulih sebagai perusahaan yang kompeten di bidang kedirgantaraan.

Pemesanan sembilan unit pesawat CN295 ditandatangani pada Rabu yang akan dirampungkan hingga tahun 2014. Untuk pengadaan tersebut, pemerintah menyiapkan dana sebesar 325 juta dollar Amerika Serikat. Menurut Dahlan, uang itu tidak akan turun di muka, tetapi bakal bertahap.

"Agar PT DI punya modal bekerja, saya juga mengupayakan agar mereka mendapatkan kredit dari BRI sebesar Rp 1 triliun. Semoga dengan ini mereka bisa kembali bekerja memenuhi pesanan," katanya.

Pada akhir jumpa pers, Dahlan sempat bertukar pujian kepada Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Dia menyebut Purnomo juru selamat PT DI karena hanya Kementerian Pertahanan yang masih percaya dengan memesan pesawat kepada PT DI.

Padahal, sebelumnya, PT DI memiliki ekuitas negatif akibat utang yang menumpuk sehingga tidak bisa mengikuti tender di dalam ataupun luar negeri.

Pujian Dahlan langsung dikembalikan Purnomo yang menyebut Dahlan sebagai tokoh pers yang lebih memahami permasalahan di PT DI.


• KOMPAS

TNI Pesan 9 Pesawat CN295 ke PT DI Senilai US$ 325 Juta

Prototype C295 AWACS

Bandung - Pemerintah memesan 9 pesawat baru CN295 dari PT Dirgantara Indonesia (PT DI) untuk operasional TNI. Anggaran yang disiapkan mencapai US$ 325 juta.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat kunjungan bersama Presiden SBY di kompleks PT DI, Bandung, Jawa Barat, Rabu (26/10/2011).

"Diharapkan pada semester I-2014 selesai 9 buah CN295. PT DI merupakan salah satu BUMN yang patut dikembangkan karena posisinya strategis dalam konteks pertahanan," kata Purnomo.

Hari ini, PT DI dan Airbus Military berkolaborasi dalam pembangunan pesawat CN295.

Menurut Purnomo, kerjasama ini menguntungkan PT DI dengan bertambahnya kemampuan serta adanya alih teknologi. Kemudian kerjasama ini bisa menyerap 2.000 tenaga kerja.

Lewat kerjasama ini diharapkan PT DI bisa bersaing di level Asia Pasifik. Apalagi kebutuhan pesawat di wilayah ini sangat tinggi.

"Pembelian CN295 ini untuk memenuhi kebutuhan Alutsista TNI," kata Purnomo.
(dnl/hen)


• detikFinance

Pembuatan CN-295 Diharapkan Tandai Kebangkitan Industri Pertahanan

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap kerja sama pembuatan pesawat CN-295 antara PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Airbus Military dapat menandai kebangkitan industri pertahanan Indonesia.

Dalam sambutannya pada acara penandatanganan kerja sama di Kompleks PT DI, Jakarta, Rabu (256/10), Presiden menyatakan keyakinannya bahwa industri pertahanan Indonesia dapat bangkit kembali dan memiliki masa depan yang baik.

"Saya bukan hanya sekedar yakin, tapi justru kebijakan kita termasuk solusi terhadap 'financing' dan termasuk pula pemesanan, pembelian, alutsista dari PT DI adalah jalan yang nyata untuk sekali lagi melakukan revitalisasi dan pemajuan industri strategis yang menjadi kebanggaan kita bersama," tuturnya.

Meski telah mengalami berbagai masalah dan tantangan sejak krisis moneter 1997/1998, Presiden mengatakan, PT DI terbukti tetap bisa bertahan berkat kepemimpinan manajemen, bantuan pemerintah, dan juga loyalitas karyawan.

Penandatanganan nota kesepahaman yang disaksikan oleh Presiden Yudhoyono adalah kerja sama produksi, operasional, dan pemasaran antara PT DI dan Airbus Military yang bermarkas di Sevilla, Spanyol.

Dengan adanya kerja sama tersebut, PT DI menjadi satu-satunya produsen sekaligus agen tunggal pemasaran pesawat CN-295 di kawasan Asia Pasifik. Selain itu, dilakukan juga penandatanganan nota kesepahaman antara PT DI dan Kementerian Pertahanan untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI pada 2014 dengan produksi PT DI.

Presiden pada acara tersebut juga menyaksikan penandatanganan kesepakatan antara Polri dan PT DI untuk pembelian alat-alat produksi PT DI untuk memenuhi kebutuhan Polri.

Menurut Presiden, seluruh nota kesepahaman dan kesepakatan tersebut merupakan peluang yang bisa diraih PT DI untuk kejayaan pada masa depan.

"Ini adalah contoh nyata kerja sama saling menguntungkan dan tentu saja 'benefit real' akan diberikan kepada PT DI yang tentu saja harus kita berikan dukungan penuh," demikian Presiden.



• Republika

Wednesday, October 19, 2011

GE Jalin Kerja Sama dengan PTDI

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono di stan PT Dirgantara Indonesia usai meresmikan pameran dagang Indonesia di Jakarta Internasional Expo, Kemayoran, Jakarta, Selasa (21/10). TEMPO/Puspa Perwitasari

TEMPO Interaktif, Jakarta - General Electric dan anak perusahaan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), PT Nusantara Turbin dan Propulsi (NTP), menjalin kerja sama perjanjian overhaul support (dukungan menyeluruh). Kerja sama ini untuk mendukung mesin pesawat CT7 yang dipakai pada pesawat turboprop (propeler ganda) CN235.

Perjanjian yang diteken hari ini memperluas lingkup kerja sama antara GE dan NTP yang sudah terjalin sejak 20 tahun yang lalu terkait program CT7. Nantinya NTP akan melaksanakan jasa overhaul semua mesin CN235, mencakup model CT7-5/CT7-7/CT7-9, baik yang sedang digunakan maupun yang akan diselesaikan di Indonesia.

GE Aviation akan terus melaksanakan manufaktur, perakitan, inspeksi, dan pengujian mesin CT7-9 untuk order pesawat CN235 di lokasi pabriknya di Lynn, Massachusetts, Amerika Serikat. Pesawat CN235 saat ini diproduksi oleh Airbus Military dan PTDI.

CEO GE Indonesia, Handry Satriago, mengaku senang bisa memperkuat jalinan kerja sama antara GE dan NTP. “Pengalaman mereka yang telah terbukti dengan mesin kami serta kemitraan dengan para customer yang memakai CN235 merupakan keuntungan tersendiri bagi kami dan para customer kami,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Direktur NTP Supra Dekanto mengatakan perjanjian ini memastikan dukungan produk yang kuat bagi PTDI dan pesawatnya CN235 dan meneguhkan komitmen NTP dalam memberi dukungan produk bagi mesin pesawat CT7. “Kami berterima kasih pada GE atas dukungannya selama ini, termasuk untuk perakitan mesin CT7 di pabrik NTP di Bandung, Indonesia, dan juga untuk dukungannya bagi perawatan dan overhaul mesin tersebut,” katanya.

Pesawat bermesin ganda CN235 biasa digunakan dalam pelaksanaan patroli maritim, surveillance (pengawasan) dan juga transportasi udara. Negara-negara yang sudah memakai pesawat CN 235 antara lain Turki, Korea, Malaysia, Pakistan, Spanyol, Prancis, dan Indonesia.

Mesin pesawat turboprop dengan kekuatan 1900-shaft-horsepower CT7 disertifikasi pada 1983 dan mulai digunakan pada Juni 1984 sebagai mesin bagi pesawat yang melayani penerbangan regional pada pesawat Saab 340. Pada dekade yang sama mesin ini kemudian terpilih untuk pesawat 235 dari CASA/IPTN. Secara keseluruhan, lebih dari 1.200 mesin turboprop CT7 telah dipasang dan digunakan di seluruh dunia.(NUR ROCHMI)


• TEMPOInteraktif