Showing posts with label Teknologi Informasi. Show all posts
Showing posts with label Teknologi Informasi. Show all posts

Friday, December 30, 2011

Perusahaan TI Asing Siap Berinvestasi di Indonesia

shutterstock - Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah pemerintah berkomitmen akan memberikan insentif pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan (tax holiday), banyak perusahaan teknologi informasi(TI) asing yang berminat berinvestasi di Indonesia

Hal ini diutarakan Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi. Perusahaan asing yang ingin berinvestasi dalam bidang industri TI di Indonesia antara lain berasal dari Perancis, China, Skandinavia, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang.

Nilai investasi itu sendiri senilai 3 miliar dollar AS per tahun. "Seperti perusahaan asal Amerika katanya mau investasi pembuatan radar dan CCB circuit box," katanya, Jumat (30/12/2011).

Budi berjanji akan mengusahakan perusahaan asing itu memperoleh tax holiday bila merealisasikan investasinya di Indonesia. Sebab, dia beralasan investasi ini akan mengurangi ketergantungan industri dalam negeri terhadap impor.

Selama ini, dia mengaku belanja kerja industri telekomunikasi setidaknya menghabiskan dana sebesar Rp 150 triliun per tahun. Dana itu dibelanjakan untuk membeli komponen, sub komponen hingga perakitan yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari luar negeri.


• KOMPAS

Thursday, December 29, 2011

Outlook Teknologi Informasi Indonesia 2012 (Bagian I)

Jakub Krechowicz/sxc.hu - ilustrasi

Oleh: Dr. Dimitri Mahayana

Sekalipun fisikawan Denmark ternama, Niels Bohr (1885-1962), pernah berucap bahwa “prediction is very difficult, especially about the future”, namun atensi akan apa yang terjadi di esok hari takkan pernah surut.

Setidak-tidaknya, pertanyaan tentang apa yang akan terjadi dalam sektor teknologi informasi Indonesia pada 2012, kerap menghampiri penulis. Dari yang bersifat konseptual hingga sisi pragmatis bisnis-nya.

Ini menjadi kian menarik dibahas, manakala jumlah pengguna internet Indonesia yang sudah tembus 50 juta, telah banyak mengubah tatanan. Bahwa teknologi informasi hari ini adalah keseharian yang masuk ranah consumer.

Teknologi informasi bukan lagi perangkat monopoli korporasi, atau sebagian golongan dengan akses kapital besar. Karena itu, mengabaikan consumer dalam semua kebijakan bisa menciptakan sebuah kesalahan besar.

E-Channel Revolution


Secara garis besar, ada empat poin utama --saling berkaitan-- yang akan terjadi tahun depan. Pertama, pergerakan mendatang akan terangkum dalam sebuah konsep bernama e-channel revolution atau revolusi berbasis layanan dunia maya.

Frase ini merujuk pada situasi mulai meluasnya dan mengakarnya aplikasi internet dalam kehidupan keseharian masyarakat Indonesia. Dari mulai e-commerce, e-lifestyle, e-social, e-payment, e-banking, dan sejenisnya.

Ambil contoh Forum Jual Beli/FJB Kaskus.us atau tokobagus.com yang nilai transaksi bulanannya sudah demikian besar. Kita tak pernah mengira bahwa orang Indonesia akan jual-beli produk di internet secepat dan sedahsyat ini.

Bahkan, saya amati, generasi muda saat ini lebih mencari dan membeli produk berbasis rekomendasi koleganya di internet --sekalipun di lingkungan sekitarnya sudah ada toko konvensional yang menjual produk serupa.

Transaksi Elektronik


Demikian pula dengan sistem pembayaran elektronik. Kini lazim ditemukan, sekalipun di level pedagang ritel di Glodok, yang seluruh transaksinya dibayar oleh sebuah perangkat keypad (misalnya milik BCA) untuk mentransfer seketika.

Dua contoh ini menunjukkan bahwa pembayaran dan transaksi telah mengalami revolusi amat signifikan. Kepraktisan, kemudahan, kekuatan jejaring, keamanan, dan kecepatan, telah mengubah preferensi prilaku masyarakat Indonesia.

Revolusi ini tentu akan membahayakan mereka yang masih bergerak pada paradigma bisnis lama. Kita cukup terhenyak dengan kenyataan bahwa Aquarius Dago, toko kaset iconic Bandung sekian puluh tahun lamanya, juga harus ditutup!

Ini pertanda bahwa cara orang mengakses lagu dan film sudah berubah luar biasa. Mereka tetap mau mengeluarkan uang untuk menikmati tembang favoritnya, namun dengan cara digital dan sophiscticated seperti RBT/ring back tone.

Apakah kita kini mencari dan mereservasi hotel masih dengan mendatangi tempatnya? Banyak fakta di tahun ini menegaskan bahwa pencarian dan reservasi hotel semacam agoda.com justru lebih diminati, terutama oleh masyarakat urban.

Yang Kolot, Tergerus


E-channel revolution juga telah menggerus banyak perusahaan kolot, bahkan salah satu toko buku terbesar di Amerika pun, harus menerima kenyataan bahwa Amazon.com menyalipnya dan kini kokoh jadi toko buku terbesar di dunia.

Seluruh perubahan berbasis layanan digital ini akan kian menguat tahun depan di Indonesia. ‘Taring’-nya bahkan bakal makin tajam karena segala bentuk dan variasi layanannya makin banyak dan mungkin di luar imajinasi kita.

Kekuatan layanan penunjang hidup digital ini bisa juga makin mengakar karena perangkat pendukung semacam smartphone-pun makin terjangkau. Belum dengan fenomena komputer tablet yang mudah ditemukan di lingkungan kita.

Generasi GIMI


Prediksi penulis tentang generasi GIM (gadget internet mobile) di awal 2011 lalu, yang dinamis namun tetap terkoneksi, bukan hanya terbukti di lapangan, namun juga terjadi melampaui prediksi dengan fenomena iPad.

GIMI atau gadget internet mobile iPad and iPad like be adalah istilah yang lebih tepat ketika kita melihat bahwa masyarakat Indonesia semakin mudah dan nyaman saat mengakses internet kapan dan dimanapun.

So, tahun 2012 akan menunjukkan kian maraknya fenomena GIMI di Indonesia, sehingga menciptakan mata rantai yang kuat dalam mewujudkan e-channel revolution. Mereka yang masih konservatif, berhati-hatilah!

... Prediksi kedua: kejadian sedot pulsa tahun ini, akan berulang tahun depan, sekalipun dalam bentuk yang berbeda. Seperti apa? Nantikan dalam Outlook Teknologi Informasi Indonesia 2012 Bagian Dua ...

* Penulis adalah Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision.


• KOMPAS

Tuesday, November 29, 2011

Jembatan runtuh saat batas kekuatannya dilampaui

Jakarta (ANTARA News) - Pakar konstruksi Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata mengemukakan jembatan runtuh biasanya akibat pelampauan beban dari batas kekuatannya.

"Sesuatu struktur jembatan bisa runtuh apabila ada komponen yang dilampaui batas kekuatannya saat itu," kata pendiri dan Direktur Utama Wiratman & Associates, sebuah perusahaan konsultan di bidang rancang bangun, ketika dihubungi di Jakarta, Selasa. Dia mengemukakan hal tersebut ketika dimintai komentar sehubungan runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara baru-baru ini.

Dari pengamatan melalui gambar di media massa, ia memperkirakan yang memicu keruntuhan jembatan secara progresif (beruntun) adalah putusnya satu kabel penggantung atau gagalnya sambungan kabel penggantung dengan kabel utama.

Putusnya satu kabel penggantung, ujarnya, kemudian memicu putusnya kabel penggantung di sebelahnya dan kembali memicu putusnya kabel berikutnya dan seterusnya, sehingga menyebabkan keruntuhan jembatan tersebut.

Apa lagi, tambahnya, saat kecelakaan yang terjadi pada Sabtu (26/11) itu, jembatan memang sedang dalam perbaikan, namun kemungkinan digunakan tidak sesuai aturan yang ada.

"Mungkin juga disebabkan perawatannya yang tidak memadai karena anggaran yang minim, padahal biaya maintenance sebuah jembatan itu cukup besar," katanya.

Menurut perancang Jembatan Selat Sunda itu, jembatan di Tenggarong itu tidak dapat diperbaiki lagi untuk dimanfaatkan kembali, sebaliknya perlu dibongkar total lalu dibangun baru.(D009)


• Antaranews

Sunday, November 13, 2011

MITI Kenalkan Teknologi Nano kepada Mahasiswa

SEMARANG--MICOM: Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) memperkenalkan salah satu teknologi tinggi (hitech) kepada para mahasiswa dan staf pengajar di Universitas Diponegoro, Semarang.

Teknologi tinggi tersebut adalah teknologi nano atau nanotechnology, sebuah teknologi masa depan yang menggarap semua produk dengan bahan baku partikel berukuran 10 pangkat minus 9 meter atau sepermiliar meter.

"Nano teknologi diyakini sebagai sebuah konsep teknologi yang akan melahirkan revolusi industri baru di abad ke-21. Beberapa cabang ilmu terapan dan medis mengadopsi nanoteknologi dan nanosains dan menjadikan  pondasi utamanya," ujar Dr Nurul Taufiqu Rohman, Ketua Masyarakat Nanoteknologi (MNI) yang juga anggota Dewan Pakar Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), dalam siaran persnya yang diterima Minggu (13/11).

Nanosains adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari fenomena atau sifat-sifat suatu obyek atau material dalam skala nanometer. Satu nanometer (nm) setara dengan 1/1.000.000 milimeter atau sepermilyar meter, sebuah ukuran yang sangat kecil karena lebar DNA saja skalanya berkisar 2 nm. Skala nanometer hanya sepuluh kali lipat besaran sebuah atom (0,1 nm= 1 angstrom).

Menurut penerima Habibie Award 2009 ini, perbandingan antara 1 meter dengan 1 nanometer adalah seperti halnya perbandingan antara bola bumi dan bola pingpong.

"Dari kenyataan inilah, dapat dikatakan manusia secara perlahan-lahan tengah mendapatkan teknologi yang sulit dibayangkan," jelas Nurul.

Sebagai contoh, perkembangan nanoteknologi dalam dunia computer telah mengubah tak hanya ukuran computer semakin ringkas namun juga peningkatan kemampuan dan kapasitas yang luar biasa, sehingga memungkinkan penyelesaian program-program raksasa dalam waktu singkat.

Bila diimplementasikan dalam pengolahan baja, maka nanobaja mampu menghasilkan baja yang berstruktur halus karena mampu mencapai ukuran beberapa puluh nanometer saja, namun memiliki kekuatan dan umur dua kali lipat dari baja terbaik yang ada saat ini.

"Padahal, teknologi nanobaja sangat sederhana dan tidak memerlukan peralatan tertentu untuk pembuatannya," papar doctor bidang ilmu material dan rekayasa produksi dari Kagoshima University, Jepang.(*/X-12)


• MediaIndonesia

Pemerintah Dinilai Kurang Perhatikan IPTEK

"Komandannya ada, tapi mungkin sibuk sendiri-sendiri."

Anak belajar membuat robot

VIVAnews
- Peran pemerintah dalam mendukung perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dinilai sangat kurang. Hal ini tentu mempengaruhi masalah ketahanan nasional yang kini semakin menurun.

Demikian diungkapkan oleh alumnus Universitas Indonesia yang juga peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Vince Lego, dalam acara dialog bangsa di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas), Jakarta, Minggu, 13 November 2011.

"Dari sisi IPTEK pengembangan sudah ada, tapi selalu jalan di tempat. Komandannya ada, tapi mungkin sibuk sendiri-sendiri," kata Vince Lego.

Menurut Vince, IPTEK erat kaitannya dengan performa bangsa di dunia internasional. Hingga saat ini, kata dia, Indonesia belum terdengar gaungnya di dunia internasional terkait hal itu.

"Kita ekspor tapi cuma bahan mentah, sedangkan negara lain sudah ekspor barang jadi. Ini tentu sudah tertinggal jauh," ujarnya. "Kita euforia di tempat sendiri," lanjutnya.

Vince menyayangkan, penelitian anak bangsa hingga saat ini masih kurang banyak dimanfaatkan demi kemajuan negara. "Penelitian anak bangsa digunakan tapi lebih banyak masih disimpan di laci. Maka harus banyak kerjasama dengan masyarakat industri," tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan, pemerintah akan fokus dalam upaya peningkatan kualitas riset dan penelitian di Indonesia. Swasta pun akan digandeng untuk mencapai peningkatan kualitas riset dan penelitian.

“Stateginya kita kolaborasikan ABG, akademisi, bussinessman dan government (pemerintah),” kata Menristek, awal pekan kemarin.

Gusti juga mengatakan, kementeriannya akan mengupayakan tambahan dana untuk penelitian. Saat ini, lanjutnya, hanya tinggal menunggu tindak-lanjut dari Sekretaris Kabinet yang akan mengkoordinasikan dengan kementerian terkait.

“Tinggal Seskab dan nanti ke Menpan,” ucap Menristek. Nantinya, tindak lanjut mengenai insentif akan disahkan melalui Peraturan Presiden.



• VIVAnews

Tuesday, October 18, 2011

RI-Malaysia Bentuk Technology Fund

JAKARTA--MICOM: Pusat Investasi Pemerintah (PIP) dan Malaysian Technology Development Corporation (MTDC) sepakat membentuk lembaga pendanaan berbasis teknologi ramah lingkungan bernama Technology Fund.

"Fund ini bertujuan untuk meningkatkan kesempatan pengusaha-pengusaha lokal bersaing di pasar luar negeri agar mereka lebih handal menghadapi persaingan pasar terbuka melalui peningkatkan kualitas produk dan kepemilikan hak cipta intelektual baik di Indonesia maupun Malaysia," kata Kepala PIP Soritaon Siregar dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (17/2).

Menurut dia, lembaga tersebut juga bertujuan memperkuat hubungan antara universitas atau lembaga riset dua negara serta meningkatkan produk-produk inovatif di kawasan regional.

Penandatanganan Nota kesepahaman pembentukan lembaga itu telah dilaksanakan pada 12 Oktober 2011 di Kuala Lumpur dalam acara Symposium Venture Capital bertema Risk Taking A Paradigm Shift.

PIP diwakili oleh Kepala PIP, Soritaon Siregar dan MTDC diwakili oleh Direktut Utama MTDC, Norhalim Yunus. Penandatanganan kesepakatan tersebut disaksikan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Tun Razak.

Jumlah investasi pertama yang diharapkan dari terbentuknya lembaga ini adalah US$50 juta. Baik PIP maupun MTDC akan memberikan kontribusi masing-masing US$25 juta. Sekitar 20 hingga 30 perusahaan berteknologi tinggi baru di Indonesia diharapkan mendapatkan manfaat dari pembentukan lembaga ini. (Ant/OL-9)


• MediaIndonesia

Sunday, October 16, 2011

Indocomtech barometer perkembangan TI Indonesia

Jakarta (ANTARA News) - Pameran teknologi informasi terbesar di Indonesia, Indocomtech siap menggebrak para penggemar komputer dan gadget di Jakarta Convention Center pada 2 - 6 November 2011 dalam siaran pers yang diterima Antaranews pada Jumat (14/10).

Ketua Yayasan Apkomindo Indonesia G. Hidayat Tjokrodjojo mengatakan Indocomtech akan menjadi tolok ukur perkembagan industri TIK/ICT di Indonesia dengan memperkenalkan berbagai perangkat komputer dan gadget terbaru, mempertemukan vendor dengan pengguna dan menciptakan peluang bisnis antara pengusaha Komputer besar, menengah dan kecil yang berasal dari Jakarta dan luar kota di Indonesia.

"Indocomtech menjadi barometer perkembabangan teknologi setiap tahunnya," katanya.

Pameran yang digelar mulai 1992 menghadirkan lebih dari 250 perusahaan vendor industri IT, beberapa operator telekomunikasi dan fotografi digitala aksesoris seperti Acer, Asus, Apple, Axioo, Dell, Epson, Fujitsu, Hewlett Packard, Lenovo, Sony, Toshiba dan Zyrex.

“Pameran ini tidak saja pamer komputer, tapi juga mentransfer ilmu dan teknologi sebuah komputer." katanya.

Pameran yang diselenggarakan Yayasan Apkomindo Indonesia bekerjasama dengan Dyandra Promosindo menggelar dua konferensi TI terbesar yaitu “Developers Day” yang berlangsung pada hari pertama dan konferensi “Green ICT Conference” pada kamis 3 November 2011.

"Topik ramah lingkungan menjadi topik yang hangat di Indonesia untuk membedah seberapa penting manfaat ramah lingkungan di Indonesia," katanya.

Pameran yang digelar mulai 1992 itu menggunakan lahan lebih kurang 17.000 m2, mencakup area Hall A, Hall B, Cendrawasih, Main Lobby, dan Plenary Hall dan Indocomtech 2010 dikunjungi oleh 200.567 orang, naik 42% dibanding 2009. Dalam hal transaksi 2010, mengalami kenaikan 71%, yaitu dari 350 miliar rupiah tahun 2009 menjadi lebih dari 600 miliar rupiah di tahun 2010.

“Indocomtech tahun ini menargetkan pengunjung 220.000 orang dan transaksi 625 miliar rupiah,” kata Bambang Setiawan, GM IT Division Dyandra Promosindo.(Adm)



• Antaranews

Thursday, September 9, 2010

Sebelum Natal, Google Luncurkan Saingan iTunes


Jakarta - Google tak sabar untuk segera meluncurkan Google Music yang disebut-sebut para analis akan menyaingi iTunes Apple. Raksasa internet ini memastikan layanan unduh lagu miliknya meluncur sebelum perayaan Natal tiba.

Maka tak heran, seperti dikutip detikINET dari Reuters, Jumat (10/9/2010), Google kini kian gencar berkomunikasi dengan berbagai perusahaan rekaman, terkait persiapan peluncuran layanan musiknya itu.

"Kami intensif berdiskusi dengan para pelaku industri musik," kata Andy Rubin, selaku Vice President of Engineering Google. Dia menegaskan niat Google agar Google Music sudah siap dioperasikan menjelang Natal.

Layanan ini diperkirakan akan serupa dengan iTunes Apple dan layanan sejenis seperti Play Digital dan Amazon MP3. Akan ada juga layanan digital music locker yang memungkinkan pengguna menyimpan koleksi musik mereka berbasis komputasi awan (cloud) sehingga bisa diakses dari berbagai perangkat berkoneksi internet.

Rencana Google untuk meluncurkan Google Music sudah santer terdengar sejak Mei lalu, setelah Google mengemukakannya pada pertemuan para developer I/O di California, Amerika Serikat (AS).

Google Music agaknya akan terkait erat dengan sistem operasi mobile Android. Saat tiba waktu peluncuran nanti, layanan ini akan menandai fase baru persaingan Google dengan Apple di arena yang baru.

Kedua raksasa ini akan berhadapan di lahan basah yang tumbuh pesat, termasuk untuk produk mobile, sistem operasi desktop, periklanan online dan tentunya layanan unduh musik.

Saturday, October 10, 2009

Blokir Porno, mungkinkah?

Perlu perangkat yang lebih komplit dari pada sekedar software. Pendidikan, aturan-aturan dan penegakan hukum, moral, dlsb. Mari kita cegah kemerosotan moral melanda bangsa.

Blokir Porno, David Vs Goliath?
Senin, 31 Maret 2008 | 01:35 WIB

Konten pornografi memang bisa diblokir menggunakan berbagai peranti lunak, tetapi soal efektifitas itu lain soal. Siapa pun bisa mengunduh dan memasang berlapis peranti lunak yang berfungsi memblok atau menyaring konten pornografi dari internet, baik pada tingkat komputer personal (PC), server pada warnet, hingga Internet Service Provider (ISP). Tetapi sangatlah naif bila kita percaya bahwa konten pornografi di internet dapat efektif dihalau dengan melakukan pemblokiran secara teknologi.

Berdasarkan hasil riset yang dilansir TopTenReviews, setiap detiknya lebih dari 28.000 orang mengakses pornografi di internet dengan total pengeluaran mencapai lebih dari 3.000 dollar AS. Data tersebut juga menyebutkan, setidaknya setiap detik ada 372 pengguna internet yang mengetikkan kata kunci tertentu di situs pencari untuk mencari konten pornografi.

Khusus untuk perilaku pengguna internet di Indonesia, Google Trends memaparkan bahwa meskipun jumlah pengguna internet masih terkonsentrasi di Ibu Kota Jakarta, namun Jakarta hanya menduduki posisi ke-5 kota dengan jumlah pencari konten dewasa dengan memasukkan kata kunci yang sangat umum, yaitu ”seks”. Setelah Jakarta disusul Bandung. Adapun jawaranya adalah kota Semarang, kemudian Yogyakarta, Medan, dan Surabaya.

Jika kita mencari dengan kata kunci ”sex” di Google, akan muncul 662.000.000 situs, 568.881 video, 157.000.000 gambar, dan 111.057.569 blog. Maka dapatlah terbayang bagaimana upaya untuk menyaring informasi dari sekian banyak sumber tersebut. Apalagi jika harus memilah antara informasi ”seks” yang layak untuk keperluan pendidikan, kesehatan, ilmu bercinta, ataupun sekadar sebagai pemuas berahi belaka.

Bicara tentang ilmu bercinta, ketika penulis menggunakan ”kamasutra” sebagai kata kunci pada Google Trends ternyata Indonesia berada pada urutan ke-3 setelah Lituania dan India untuk kategori negara. Sementara untuk kategori kota, Jakarta berada pada urutan ke-4 setelah Chennai, Delhi, dan Mumbai yang semuanya di India.

Goliath

Industri pornografi bukanlah industri kacangan. Tahun 2006 saja, gabungan penghasilan dari sejumlah perusahaan teknologi papan atas semisal Microsoft, Google, Amazon, eBay, Yahoo! dan Apple, tak akan mampu mengimbangi pendapatan dari bisnis pornografi dengan pemasukan mencapai lebih dari 97 miliar dollar AS.

Dengan perputaran uang yang besar dan persaingan ketat, industri pornografi kerap menjadi perintis pematangan sejumlah teknologi baru yang kemudian diadopsi secara luas. Berbagai teknologi ini, menurut penelitian terpisah oleh USA Today, Adult Video News dan Nielsen/NetRatings adalah baik yang bersifat positif seperti video-audio streaming, layanan berbayar video-on-demand, digital-rights management, peranti lunak geo-location, konten tersegmentasi dan layanan konten nirkabel melalui ponsel. Adapun teknologi yang cenderung bersifat negatif, setidaknya bagi sebagian kalangan, adalah spam, iklan pop-ad, dan cookies.

Wajar jika kita berpikir bagaimana agar teknologi yang lawas dan biasa saja, seperti peranti lunak pemblokir konten pornografi, dapat berhadapan dengan produsen pornografi yang notabene para jawara penghasil teknologi konten masa depan. Ini ibarat David melawan Goliath!

Privasi

Berdasarkan sejumlah jajak dan studi yang dilakukan di Indonesia, fasilitas e-mail adalah hal yang paling utama digunakan oleh konsumen internet. Sayangnya, spam (e-mail sampah) menghantui aktivitas e-mail siapa pun di mana pun. Penelitian yang dilakukan oleh Barracuda Networks mengatakan bahwa sepanjang tahun 2007, dari total lalu lintas e-mail yang tercatat, 95 persen adalah spam. Kemudian menurut Symantec, untuk data per Februari 2008, 6 persen dari seluruh e-mail spam masuk dalam kategori untuk ”dewasa” di atas 18 tahun.

Ini perlu menjadi pertimbangan pula bagaimana menyaring konten pornografi, yang sengaja ataupun tidak, masuk langsung ke mailbox, termasuk ke mailbox anak-anak dan para remaja. Pornografi lewat e-mail lebih sulit pengidentifikasiannya (termasuk pemblokirannya) karena sifatnya yang tidak terbuka seperti layaknya mengunjungi sebuah situs, lebih privasi karena terantar langsung ke masing-masing individu, dan sifatnya ada push-services. Belum lagi maraknya sejumlah layanan online yang memang mengkhususkan diri dalam menyediakan konten pornografi via e-mail.

Di layanan mailing list terkemuka semisal YahooGroups, dapat dijumpai banyak komunitas ”dewasa” yang saling bertukar gambar porno. Tak kurang dari 39.000 grup diskusi bertajuk ”seks” yang tergabung dalam YahooGroups tersebut. Diskusi dan bertukar gambar porno tersebut langsung dikirim dari dan ke e-mail para anggotanya.

Jika ingin konsisten menyaring pornografi di internet, maka YahooGroups seharusnya masuk dalam daftar cekal. Masalahnya, begitu kita mencekal YahooGroups, kita juga menutup akses ke ribuan diskusi positif yang ada di dalamnya, baik itu diskusi teknologi, politik, kesehatan, lingkungan, hingga keagamaan.

Orangtua

Untuk itulah jangan sampai kita kemudian terempas pada rasa aman semu, mengatasi pornografi seakan bisa dilakukan (hanya) dengan teknologi yang ada saat ini. Jika memang dirasa perlu, sebenarnya berbagai jenis peranti lunak pemblokir konten pornografi pada komputer personal telah tersedia di internet dengan kualitas andal, berfitur lengkap, dan gratis. Salah satunya adalah K9 Web Protection (www.k9webprotection.com)

Harus diingat, justru orangtua dan guru memegang peran utama dan tak akan tergantikan oleh berbagai jenis peranti lunak yang ada. Membuat program edukasi agar orangtua dan guru tidak ”gaptek” (gagap teknologi) sehingga mampu dan mau membimbing anak atau muridnya ketika menggunakan internet akan jauh lebih ampuh ketimbang sekadar mengadakan proyek pembuatan atau instalasi program pemblokir konten pornografi yang efektifitasnya masih dapat diperdebatkan.

Sumber: http://kompas.com/kompascetak/

Sunday, October 4, 2009

Membangun Internet RT/RW

Langsung Aja nich saya akan mengulas pembuatan Internet RT-RW, sorry mungkin ada rekan2 yang belum mengetahui apa itu Internet RT/RW, Internet RT/RW : Mengakses internet bersama tetangga kita baik lingkupan tingkat RT atau RW, tergantung banyaknya tetangga yang akan memakai internet, adapun iurannya dan peralatannya bisa kita bagi2 atau share bersama tetangga yang akan pakai internet atau kita yang menyiapkan peralatannya, kemudian tetangga yang akan memakai internet iuran bulanannya dilebihkan untuk sewa peralatan.
Adapun tujuan dari Internet RT/RW :
  1. Menjalin tali silahturahmi dengan tetangga
  2. Membuka cakrawala informasi melalui media internet
  3. Berbagi dengan sesama pemakai internet, sehingga beban iuran internet menjadi lebih murah
Untuk saat ini saya telah membangun Internet RT/RW (kira2 sudah 3 bulanan) di perumahan dimana saya tinggal yaitu di kompleks Bumi Adipura Gedebage Bandung

Kebutuhan Peralatan
  1. Router/DSL/LAN, untuk peralatan ini saya memakai merk TP-Link, sampai saat ini cukup tangguh.
  2. Switch 10/100 Mbps 8 Port (TP-Link), Untuk share dengan pengguna internet yang ingin menggunakan kabel UTP sebagai media pengubungnya.
  3. Kabel UTP cat 5E dengan panjang sekitar 100 Meter, kabel ini digunakan untuk menyambungkan dari Switch ke AP.
  4. AP Indoor merk TP-Link, AP ini digunakan bagi pengguna internet WIFI.
  5. dikarenakan tegangan listrik di rumah saya kurang stabil, untuk pengamanan peralatan router dan agar koneksi tidak putus nyambung, maka saya pakai stabilizer, ya cukup yang murah aja, saya pakai merk STAVOL.
  6. Anterna Buatan Sendiri (HomeBrew), Dikarenakan biaya untuk membeli antenna cukup mahal ya sekitar 800 rb s.d 1 jt, maka saya membuat sendiri antennanya, adapun bahan2an dari dari kabel NYA 4mm2 dan Pipa PVC 1 Inc, Terminal BNC dan sambungan BNC ke SMA, ya lumayan dengan antenna buatan sendiri ini, dapat menjangkau anggota dengan jarak 60 Meter. Ulasan lebih lanjut mengenai antenna lihat topic pembuatan antenna Homebrew.
Sedangkan untuk koneksi internetnya saya pakai TelkomSpeedy dengan paket Load, setelah diujicoba selama 3 bulan ini, internetnya cukup handal.

Kebutuhan Biaya dan Pendapatan
Pengeluaran
  1. Peralatan : 1 Jt
  2. Iuran Bulanan, Listrik dan Aboedemen Telepon : 350 ribu
Pendapatan
  1. Iuran Bulanan dari Anggota 6 Orang x 60 Rb : 360 Ribu
  2. Iuran Menjadi Anggota 250 Rb (untuk mengganti Alat )
Kelebihan saldo perbulan = 10 Rb, ditambah sisa iuran menjadi anggota = 500 Rb,
saldo tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan pemeliharaan peralatan.