Friday, September 2, 2011

Buku pengayaan IPA

Semangat!!!!
Siap untuk berubah menjadi lebih baik, anak-anak????
Bapak dan ibu sangat berharap mendengar kata-kata, "Siap, Pak/Bu!!!" dari mulut kalian.
Oleh karena itu, untuk memperkaya pengetahuan kalian, bapak dan ibu guru telah menyediakan buku-buku pengayaan Ilmu pengetahuan Alam (IPA). Untuk ke depannya, kalian dapat belajar via blog SD Negeri Seling dengan tetap mengindahkan pembelajaran di kelas. Buku-buku tersebut dapat di download di sini
1. Menjelajah Dunia Semut
2. Menyingkap Rahasia Alam Semesta

Tuesday, August 30, 2011

ARTI KURIKULUM Part 3; RASIONALISASI DALAM PERSUASI

Karangsambung, (Episode Prasejarah)

ARTI KURIKULUM
Part 3
RASIONALISASI DALAM PERSUASI

Oleh: Kiftirul ‘Aziz


“Soal tes kelas III ini kok terlalu sulit sekali yak????? kata salah seorang Kepala Sekolah dari negeri Atas Angin kepada dewan gurunya.
Dewan guru yang ditanya – kebetulan merasa bisa – langsung menjawab, “Nanti dulu, Pak. Dilihat dulu, kalau memang alasan dan dasarnya kuat, bisa kita bicarakan dengan pak pengawas, setahu saya, beliau sarjana. Kata beliau dulu, jika kita belum pernah mengajarkan, kita bisa merubah soal yang bersangkutan, itu diatur di undang-undang lho, Pak!”.
“Dilihat bagaimana? Wong dari baunya saja sudah kelihatan kalau ini bukan ukuran anak kelas III, ini ukuran anak kelas VI!!!” kepala sekolahnya ngotot.

Sekali lagi, perdebatan imajiner, kisah dari negeri Atas Angin, penuh polemik batin dan kontroversial.
Rasionalisasi merupakan suatu proses penggunaan akal untuk memberikan dasar pembenaran kepada sebuah persoalan, di mana dasar atau alasan tersebut bukanlah sebab langsung dari masalah itu (Keraf, 2007: 124-125).
Sejalan dengan Keraf, Depdiknas (2007: 933) menyatakan bahwa rasionalisasi merupakan sebuah proses untuk merasionalkan sesuatu yang semula tidak rasional. Hal ini menunjukkan bahwa rasionalisasi dapat dipergunakan untuk menipu diri sendiri maupun dapat pula digunakan untuk menipu orang lain bahwa yang diambil itu benar.
Pendapat lain dari Wikipedia (2011), dalam psikologi dan logika, rasionalisasi (atau alasan pembuatan) adalah mekanisme pertahanan yang dianggap sebagai perilaku yang kontroversial atau perasaan yang dijelaskan secara rasional atau logis untuk menghindari penjelasan yang benar, sering melibatkan hipotesa ad hoc. Sedangkan hipotesa ad hoc menurut Ridwan Fendy (2011) adalah hipotesis yang dilakukan ilmuan sekedar untuk mempertahankan teorinya dari sebuah falsifikasi (agar tidak disalahkan), akibat yang terjadi menyebabkan teori semakin lama semakin rumit dan semakin rumit.
Dapat digarisbawahi, rasionalisasi merupakan proses penggunaan akal untuk memberikan dasar pembenaran terhadap sesuatu yang tadinya tidak masuk akal dengan tujuan mempertahankan teorinya dari sebuah falsifikasi.
O’Keefe; Larson; Pfau&Parrot (dalam Yudi Perbawaningsih, 2003: 6) menyatakan bahwa persuasi merupakan komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau membentuk pendapat, sikap, dan perilaku yang dikehendaki oleh sumber (persuader).
Senada dengan Keraf (2007: 120) yang mengemukakan persuasi merupakan suatu keahlian untuk mencapai suatu persetujuan atau kesesuaian kehendak pembicara dan yang diajak bicara; ini merupakan proses meyakinkan orang lain supaya orang lain menerima apa yang diinginkan pembicara tersebut.
Pendapat lain mengatakan bahwa persuasi merupakan ajakan kepada seseorang dengan cara memberikan alasan dan prospek baik yang meyakinkan (Depdiknas, 2007: 864).
Dapat disimpulkan bahwa persuasi merupakan keahlian untuk mencapai persetujuan kehendak pembicara agar orang lain menerima apa yang diinginkan pembicara dengan cara memberikan alasan dan prospek baik yang meyakinkan.
Rasionalisasi dalam persuasi merupakan proses pemberian dasar pembenaran terhadap sesuatu yang irasional dengan tujuan agar orang lain menerimanya sebagai sesuatu yang masuk akal.
Dalam konteks tulisan ini, sukar atau tidaknya suatu soal tidak bisa disimpulkan hanya dengan sekedar membaca soal, laporan dari orang lain yang belum tentu kebenarannya, atau karena peserta didiknya tidak bisa menjawab soal tersebut. Jika itu yang digunakan sebagai dasar, peserta didik yang belum rajin belajar pun bisa mengatakan bahwa soal yang diujikan itu sukar. Sulit dibayangkan apabila kita menyamakan pola pikir stakeholder yang notabenenya berpendidikan S1 dengan peserta didik usia sekolah dasar. Sungguh ironi dan memprihatinkan jika memang itu keadaan yang senyatanya.
Kelayakan suatu soal dapat ditinjau dari banyak hal, di antaranya validitas, reliabilitas, dan tingkat kesukaran. Selain itu, langkah-langkah konstruksi tes juga harus ditempuh. Hal lain yang menyangkut proses pembuatan soal dapat kita bahasa di lain kesempatan.
Validitas menurut Djaali & Pudji Mulyono (2008: 49) yaitu ukuran seberapa cermat suatu tes melakukan fungsi ukurnya atau mengukur sesuatu yang seharusnya diukur.
Senada dengan Sumarna Surapranata (tanpa tahun: 50) yang menyatakan bahwa validitas merupakan suatu konsep yang berkaitan dengan sejauh mana tes telah mengukur apa yang seharusnya diukur.
Validitas menurut Djemari Mardapi (2008: 16) adalah dukungan bukti dan teori terhadap penafsiran skor tes sesuai dengan tujuan penggunaan tes.
Menurut Sumarna Surapranata (tanpa tahun: 51), validitas sendiri dapat dibagi dalam 4 kelompok, yaitu: (1) Content validity, (2) Construct validity, (3) Predictive validity, dan (4) Concurrent validity.
Djaali & Pudji Mulyono (2008: 50) menyatakan bahwa konsep validitas tes dapat dibedakan atas 3 macam, yaitu: (1) validitas isi (content validity), (2) validitas konstruk (construct validity), dan (3) validitas empiris atau validitas kriteria. Validitas empiris sendiripun masih dibedakan lagi atas dua macam, yaitu validitas kongkuren dan validitas prediktif.
Cronbach (dalam Djemari Mardapi, 2008: 17) menyatakan bahwa proses validasi itu sendiri bukan bertujuan untuk melakukan validasi tes, akan tetapi melakukan validasi terhadap interpretasi data yang diperoleh melalui prosedur tertentu. Bukti tersebut diperoleh dari akumulasi bukti yang mendukung penafsiran skor suatu tes. Bukti validitas itu sendiri dikelompokkan menjadi empat, yaitu: (1) bukti berdasarkan isi tes, (2) bukti berdasarkan proses respon, (3) bukti berdasarkan struktur internal, dan (4) bukti berdasarkan hubungan dengan variabel lain.
Reliabilitas menurut Djaali & Pudji Mulyono (2008: 55) menyebutkan bahwa reliabilitas berhubungan dengan sejauhmana hasil pengukuran dapat dipercaya. Dalam sumber yang sama, reliabilitas itu sendiri masih dibedakan atas dua macam, yaitu reliabilitas konsistensi tanggapan dan reliabilitas konsistensi gabungan item.
Reliabilitas sendiri menurut Nunnaly; Allen & Yen; dan Anastasi (dalam Sumarna Surapranata, tanpa tahun: 89) adalah kestabilan skor yang diperoleh orang yang sama ketika diuji ulang dengan tes yang sama pada situasi yang berbeda. Reliabilitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keajegan atau kemantapan hasil dari dua pengukuran terhadap hal yang sama.
Terdapat beberapa alasan untuk menyatakan tingkat kesukaran suatu instrumen soal. Dari sisi teoritis, tingkat kesukaran suatu soal dapat dilihat dari validitas konstruknya. Konstruk di sini bukan merupakan konstruksi bangunan atau susunan, melainkan rekaan psikologis yang berkaitan dengan ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Soal kategori pemahaman tentu saja akan lebih sukar dibandingkan dengan soal-soal ingatan. Begitu juga sebaliknya, soal aplikasi akan lebih mudah dikerjakan dibandingkan dengan soal evaluasi.
Cara lain yang bisa digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran suatu soal yaitu dengan proporsi jawaban benar (p), yaitu jumlah peserta tes yang menjawab benar pada butir soal yang dianalisis dibandingkn dengan jumlah peserta tes seluruhnya. Tingkat kesukaran (p) sebenarnya merupakan nilai rata-rata dari kelompok peserta tes. Croker & Algina (dalam Sumarna Surapranata, tanpa tahun: 19) menyatakan bahwa tingkat kesukaran sebenarnya adalah rata-rata dari suatu distribusi skor kelompok dari suatu soal. Proporsi jawaban benar (p) merupakan tinjauan empiris untuk menyatakan sukar tidaknya suatu soal.
Djaali & Pudji Mulyono (2008: 12) menyebutkan 11 langkah konstruksi tes, antara lain: (1) menetapkan tujuan tes, (2) analisis kurikulum, (3) analisis buku pelajaran dan sumber dari materi belajar lain, (4) membuat kisi-kisi, (5) penulisan tujuan instruksional yang dirumuskan secara operasional dan secara teknis menggunakan kata-kata operasional, (6) penulisan soal, (7) reproduksi tes terbatas dalam jumlah yang cukup menurut jumlah sampel uji coba (peserta tes dalam suatu kegiatan uji coba), (8) uji coba tes, di mana sampel harus memiliki karakteristik yang kurang lebih sama dengan karakteristik peserta tes yang sesungguhnya, (9) analisis hasil uji coba, (10) revisi soal, dan terakhir (11) merakit soal menjadi instrumen tes. Setelah langkah-langkah itu dilaksanakan, barulah instrumen tes siap digunakan.
Berdasarkan uraian di atas, tidaklah mudah membuat suatu instrumen tes yang baik apalagi mengacu pada validitas dan reliabilitas suatu instrumen tes, jauh lebih mudah berbicara bahwa soal ini tidak layak, soal ini terlalu sukar, soal ini lebih pantas untuk kelas VI, serta statement-statement lain yang terkesan mendiskriditkan si pembuat soal tanpa ada argumentasi yang logis.
Kelayakan suatu instrumen soal bukan dilihat dari siapa yang membuat, GTT atau PNS, S1 atau D2, Kepala Sekolah atau Pengawas, akan tetapi dari sisi obyektifitasnya. Marilah kita lebih bijak untuk menyikapi segala sesuatunya yang terlihat sensitif demi kemajuan dunia pendidikan.
Salam.

Sunday, August 28, 2011

Penyebab Mahalnya Biaya Sekolah di Indonesia

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSKmvF196U_dNtu002elzQEL0lbxmZZrPyqPEapEqaMGpZXPPYb
ilustrasi

Pendidikan mahal! Koreksi, yang betul adalah biaya sekolah mahal. Pendidikan tidak pernah mahal karena pendidikan berarti usaha penanaman nilai-nilai kehidupan. Ini adalah porsinya orang tua, bukan sekolah. Biaya sekolah mahal! Nah, ini baru pas. Sudah banyak yang menulis mengenai mahalnya biaya sekolah di Indonesia dan penyebabnya. Secara umum, pemerintah dipersalahkan karena kurang memberikan anggaran lebih banyak kepada Departemen DikNas. Tulisan ini mencoba menelaah besarnya biaya sekolah di Indonesia lewat komponen-komponen penyebab mahalnya biaya sekolah itu sendiri. Besarnya biaya belajar para siswa di Indonesia disebabkan oleh tiga hal.

Seragam sekolah adalah penyebab pertama mahalnya biaya bersekolah para siwa di Indonesia. Aneh, kok seragam sekolah? Tentu saja. Tidak ada anak Indonesia yang mau bersekolah jika mereka tidak memilik seragam. Bahkan mereka yang bisa bersekolah tanpa seragam pun justru merasa belum menjadi murid sungguhan karena belum punya seragam sekolah. Tanpa disadari, komponen kecil yang satu ini menjadi momok tersendiri bagi para orang tua murid dan murid sekolah di Indonesia. Tak perlu susah memikirkannya seperti apa. Saat anak masuk sekolah pertama kali, kelas satu SD, mereka sudah wajib memiliki seragam. Sekaya apapun anak tersebut, dia tidak boleh menjadi murid di suatu sekolah apabila ia belum memilik seragam. Kalau anak orang kaya saja tidak boleh bersekolah tanpa seragam apalagi orang miskin. Tidak sampai di situ saja, membeli seragam sekolah pun tidak bisa cuma sekali. Seiring dengan perkembangan fisik anak, orang tua setiap tahun harus memperbaharui baju sekolah anak mereka. Makin cepat perkembangan fisik seorang anak, makin sering pula orang tua harus membeli seragam baru bagi anaknya. Kalau anaknya cuma satu masih enak. Bagaimana yang anakya lebih dari satu? Punya dua pasang anak kembar? Belum sampai di situ, seragam siswa SD, SMP, dan SMA memiliki perbedaan. Baju seragam putih tapi celananya merah (SD), biru (SMP), dan abu-abu (SMA). Dan yang membuat lebih repot lagi adalah kecenderungan setiap sekolah untuk mengharuskan siswanya memakai seragam khusus, batik, pada hari tertentu. Seolah belum cukup membebani orang tua siswa dengan membeli seragam harian, misalnya putih abu-abu (SMA), orang tua harus mengeluarkan anggaran lagi untuk membeli seragam batik. Entah siapa pula yang mengeluarkan gagasan ini kepada sekolah-sekolah di negara ini. Padahal dulu, murid sekolah, SMP dan SMA, hanya memekai seragam harian saja tanpa ada keharusan memakai baju batik pada hari khusus. Dengan cara ini, pemerintah dan sekolah telah sukses melakukan konspirasi dalam membuat biaya bersekolah menjadi lebih mahal dibandingkan dua dekade yang lalu. Kalau argumentasi ini masih diragukan, bagi anda yang sudah memiliki anak, mulailah berhitung tentang uang yang sudah dihabiskan untuk biaya seragam anak anda sendiri mulai dari SD hingga SMA. Cari lagi bon-bon pembelian seragam sekolah itu dan jangan lupa untuk menyesuaikan uang yang telah dikeluarkan dulu dengan tingkat inflasi sekarang.

Beban biaya sekolah juga disebabkan oleh komponen buku pelajaran. Dari dulu sampai sekarang, orang tua murid harus menyediakan sendiri buku pelajaran sekolah bagi anak-anak mereka. Buku apa yang digunakan oleh murid sekolah tergantung dari persetujuan bisnis antara pihak sekolah dan penerbit buku. Seandainya orang tua murid harus membeli buku dari penerbit A dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar, maka ini bukan perkara besar. Sayangnya, pengandaian itu selamanya terjadi dalam kenyataan. Tidak jarang harga buku yang dijual di sekolah lebih tinggi daripada harga pasar, harga toko buku. Ini bisa terjadi karena, satu, adanya oknum sekolah yang ingin meraup keuntungan sendiri dan karena penerbit buku harus membayar komisi besar kepada sekolah sehingga mereka membebankan biaya komisi itu pada orang tua murid. Dalam situasi ini, orang tua murid yang kritis bisa saja menolak membeli buku dari sekolah dan mencari sendiri di toko buku yang ada di sekitarnya, yang tentunya tidak bisa dilarang oleh pihak sekolah. Namun yang terjadi pada anak orang tua murid itu bisa ditebak. Anak itu akan disindir dan dicela oleh oleh pihak sekolah--guru, staf sekolah atau, bahkan, kepala sekolahnya sendiri. Yang dilakukan oleh pihak sekolah jelas salah sedangkan yang dilakukan oleh orang tua murid adalah benar. Dan yang menjadi korban adalah si murid itu sendiri. Dia menderita dan bisa mengalami depresi. Tidak membeli buku dari sekolah tiba-tiba menjadi sebuah dosa atau aib bagi diri murid itu. Pengadaan buku secara gratis dengan sistem online oleh DikNas, seperti yang dilakukan tahun lalu, ternyata belum bisa menyelesaikan persoalan mahalnya pengadaan buku. Belum tersediannya fasilitas internet yang menjangkau masyarakat di daerah pedesaan atau terpencil menjadi kendala bagi para murid dan orang tuanya. Pun, seandainya mereka memiliki akses ke internet, biaya pencetakan buku menjadi kendala lainnya. Untuk membuat masalah menjadi lebih rumit, DikNas memilik hobi untuk mengganti-ganti kurikulum nasional sesuka hatinya. Penggantian kurikulum jelas akan berimbas pada buku pelajaran para murid. Sewaktu bersekolah dulu, buku pelajaran saya masih bisa dipakai oleh adik saya, yang duduk dua kelas di bawah saya, karena kurikulum nasional tidak mengalami perubahan yang berarti, dari tahun 1984 loh.

Biaya-biaya tambahan saat bersekolah menjadi penyebab ketiga dari mahalnya bersekolah di Indonesia. Biasanya, pengeluaran rutin orang tua murid untuk biaya sekolah anaknya adalah:

1. Iuran sekolah (bulanan, puji syukur kalau tidak pernah naik)
2. Seragam (tahunan, syukur kalau badan anaknya tidak melebar ke samping)
3. Buku pelajaran (tahunan, Berat memang kalau anak terus naik kelas tapi siapa yang mau anaknya tidak pernah naik kelas)
4. Biaya Study Tour (biasanya cuma sekali, buat SMP dan SMA, dan ini juga tergantung tempat tujuan kunjungannya, makin jauh makin mahal)

Sayangnya, pengeluaran rutin ini menjadi tidak rutin apabila sekolah menambahkan biaya lain yang tidak jelas. Misalnya biaya acara pesta perpisahan untuk murid tingkat akhir. Biaya ini harusnya tidak dibebanka bagi murid kelas satu dan dua. Kalau murid kelas tiga ingin mengadakan pesta perpisahan sendiri, mereka harusnya mengumpulkan uang dari diri mereka sendiri. Contoh biaya tidak jelas lainnya adalah penggalangan dana untuk keperluan yang dibuat-dibuat, seperti, pelepasan pensiun pegawai sekolah, pembelian sarana sekolah, penggalangan dana untuk guru yang sedang berduka atau melahirkan, dan lainnya. Lah, itu anggaran sekolah dari pemerintah dikemanakan? Masak untuk acara seperti itu masih orang tua murid pula yang harus menanggungnya. Ada guru yang pensiun, orang tua murid pula yang menanggung pesangonnya. Situ enak, orang tua murid yang susah. Permasalahan ini menjadi berat kerena, terkadang, biaya sekolah yang tidak rutin ini sifatnya tidak boleh sukarela. Saya tidak keberatan dengan kegiatan penggalangan dana untuk kegiatan sosial seperti bantuan bagi korban bencana alam, teman sekolah yang berduka, pembelian kupon PMI atau acara sekolah (Pentas Seni). Kegiatan yang disebutkan tadi memang memiliki misi sosial dan tidak terkesan menguntungkan satu pihak tertentu.

Dari ketiga hal yang sudah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa menggratiskan biaya sekolah di Indonesia adalah hal yang hampir mustahil. Ini sangat diyakini karena pemerintah Indonesia tidak akan pernah punya uang untuk memberi seragam apalagi memperbaharui seragam sekolah setiap murid di Indonesia. Pemeritah juga tidak akan sanggup memberikan buku-buku gratis apabila kurikulum nasional terlalu sering berganti-ganti. Dan yang lebih mustahil adalah membuat anggaran untuk mendanai kegiatan-kegiatan sekolah yang di luar kurikulum dan di luar urusan mengajar belajar. Karena itu, setiap usaha untuk menggratiskan biaya bersekolah para murid di negara ini sebaiknya dialihkan pada pencarian cara untuk mengurangi biaya sekolah para murid-murid Indonesia. Sikap ini jauh lebih realistis dan layak untuk diperjuangkan oleh para anggota DPR, staf DikNas, dan seluruh rakyat Indonesia

Keunikan Yang Dimiliki Angka 6 Dan 9

http://www.houseoftomorrow.com/i/cdart/69ls_large.jpg

Disini kita akan membahas keunikan dari angka 6 dan angka 9 yang disarikan dari berbagai sumber:

Bilangan 666…666

keunikan-keunikan angka 6 :
1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 = 21
1 + 2 + 3 + …….+ 66 = 2211
1 + 2 + 3 + …….+ 666 = 222111
1 + 2 + 3 + …….+ 6666 = 22221111
1 + 2 + 3 + …….+ 66666 = 2222211111
1 + 2 + 3 + …….+ 666666 = 222222111111

Sekarang coba ilustrasikan jawaban untuk soal berikut ini.

1 + 2 + 3 + …+ n = 222…222111…111 (banyak angka 2 dan 1 masing-masing 2009 digit)
Tentukan nilai n

Secara matematika, ada beberapa hal unik dari angka 666 :

* merupakan angka palindrom (simetris): 666
* Merupakan penjumlahan dari 62=36 angka pertama yakni 1+2+3+4..….+35+36 =666
* Total bilangan prima hingga 666 berjumlah 121 bilangan yang merupakan kuadrat dari 11.
* 6=(32) − (22) + 1
* 66=(34) − (24) + 1
* 666=(36) − (26) + 1
* Total dari jumlah 7 bilangan kuadrat prima pertama yakni : 22 + 32 + 52 + 72 + 112 + 132 + 172 = 666
* Dalam angka Romawi, 666 direpresentasikan sebagai DCLXVI (D = 500, C = 100, L = 50, X = 10, V = 5, I = 1). DIC LVX merupaan representasi dari dicit lux. Dicit lux kemudian dikenal sebagai suara cahaya yang diidentikan dengan angka setan.


Keunikan Angka 9:
Bagaimana dengan angka 9, ternyata rahasia angka sembilan begitu banyak, berikut jabarannya.

Cobalah cari hasil dari 63 x 99.

Bagaimanakah cara kita menyelesaikannya?

Salah satu cara untuk menghitung 63 x 99 adalah dengan perkalian bersusun. Tetapi, ada cara lain untuk menghitung hasil kali kedua bilangan tersebut, yaitu sebagai berikut :

Karena 99 = 100 – 1,

Maka 63 x 99 = 63 ( 100 – 1 )
= 63. 100 – 63. 1
= 6300 – 63
= 6237

Untuk mengalikan 999 x 27 dapat diselesaikan seperti berikut :

Karena 999 = 1000 – 1
Maka 999 x 27 = (1000 – 1) x 27
= 2700 – 27
= 26.973

Selanjutnya bagaimanakah dengan hasil dari misalnya 52 x 999 ? Cobalah kerjakan dengan teknik seperti tadi.
Apabila keterangan, contoh dan soal di atas telah dipahami, selanjutnya kita akan mengeksploitasi keunikan angka 9 lainnya.

Pada pembagian bilangan bulat oleh angka 9, ada hal-hal yang sangat unik. Mari kita perhatikan contohnya.

Contoh 1 :

Jika 12 dibagi oleh 9, maka hasilnya adalah 1 dan sisanya 3.

Jika angka-angka pada 12, yaitu 1 dan 2 dijumlahkan maka hasilnya 1 + 2 = 3 (sisa pembagian oleh 9).

Contoh 2 :

Jika 78 dibagi oleh 9, maka hasilnya adalah 8 dan sisanya adalah 6.

Jika angka-angka pada 78, yaitu 7 dan 8 dijumlahkan maka hasilnya 7 + 8 = 15. Selanjutnya jika angka-angka pada 15, yaitu 1 dan 5 dijumlahkan maka hasilnya 1 + 5 = 6 (sisa pembagian oleh 9).

Contoh 3 :

Jika 878 dibagi oleh 9, maka hasilnya adalah 97 dan sisanya adalah 5.

Jika angka-angka pada 878, yaitu 8, 7 dan 8 dijumlahkan maka hasilnya 8 + 7 + 8 = 23. Selanjutnya jika angka-angka pada 23, yaitu 2 dan 3 dijumlahkan maka hasilnya 2 + 3 = 5 (sisa pembagian oleh 9).

Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan " Setiap bilangan bulat yang dibagi oleh 9, maka sisanya adalah jumlah berulang dari angka-angka yang terdapat pada bilangan yang dibagi itu sampai memperoleh sebuah bilangan 0 sampai 8 ".

Sifat lain yang mempesona dari angka 9 dapat dilihat dari hasil kali bilangan 12345679 dengan 9 buah bilangan asli kelipatan 9 yang pertama sebagai berikut :

12345679 x 9 = 111.111.111

12345679 x 18 = 222.222.222

12345679 x 27 = 333.333.333

12345679 x 36 = 444.444.444

12345679 x 45 = 555.555.555

12345679 x 54 = 666.666.666

12345679 x 63 = 777.777.777

12345679 x 72 = 888.888.888

12345679 x 81 = 999.999.999

Sekarang coba sendiri oleh anda, tentang keistimewaan lain dari angka 9, dengan membuat hasil kali bilangan 123456789 dengan sembilan buah bilangan asli kelipatan 9 yang pertama. Adakah hal yang menarik dari hasil kali tersebut ?

Daftar hasil kali bilangan 987654321 dengan sembilan bilangan asli kelipatan 9 yang pertama tampak seperti berikut :

987654321 x 9 = 8.888.888.889

987654321 x 18 = 17.777.777.778

987654321 x 27 = 26.666.666.667

987654321 x 36 = 35.555.555.556

987654321 x 45 = 44.444.444.445

987654321 x 54 = 53.333.333.334

987654321 x 63 = 62.222.222.223

987654321 x 72 = 71.111.111.112

987654321 x 81 = 80.000.000.001

Berikut hasil keunikan dari angka 9.

1 x 9 + 2 = 11

12 x 9 + 3 = 111

123 x 9 + 4 = 1111

1234 x 9 + 5 = 11111

12345 x 9 + 6 = 111111

123456 x 9 + 7 = 1111111

1234567 x 9 + 8 = 11111111

12345678 x 9 + 9 = 111111111

Ini juga :

9 x 9 + 7 = 88

98 x 9 + 6 = 888

987 x 9 + 5 = 8888

9876 x 9 + 4 = 88888

98765 x 9 + 3 = 888888

987654 x 9 + 2 = 8888888

9876543 x 9 + 1 = 88888888

98765432 x 9 + 0 = 888888888

Satu
0 x 9 + 0 = 0
1 x 9 + 1 = 10
12 x 9 + 2 = 110
123 x 9 + 3 = 1110
1234 x 9 + 4 = 11110
12345 x 9 + 5 = 111110
123456 x 9 + 6 = 1111110
1234567 x 9 + 7 = 11111110
12345678 x 9 + 8 = 111111110
123456789 x 9 + 9 = 1111111110

Dua
1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321

Tiga
1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

Empat
1 x 18 + 1 = 19
12 x 18 + 2 = 218
123 x 18 + 3 = 2217
1234 x 18 + 4 = 22216
12345 x 18 + 5 = 222215
123456 x 18 + 6 = 2222214
1234567 x 18 + 7 = 22222213
12345678 x 18 + 8 = 222222212
123456789 x 18 + 9 = 2222222211

Lima
123456789 + 987654321 = 1111111110
1 x 142857 = 142857 (angka sama)
2 x 142857 = 285714 (angka sama beda urutan )
3 x 142857 = 428571 (angka sama beda urutan)
4 x 142857 = 571428 (angka sama beda urutan )
5 x 142857 = 714285 (angka sama beda urutan)
6 x 142857 = 857142 (angka sama beda urutan)
7 x 142857 = 999999 (hasil yang fantastis!)

Enam
Bilangan sembarang jika dikalikan 9, kemudian angka-angka hasilnya dijumlahkan, maka hasilnya = 9. Mari kita buktikan.
1 x 9 = 9
2 x 9 = 18, jumlah 1 + 8 = 9
3 x 9 = 27, jumlah 2 + 7 = 9
4 x 9 = 36, jumlah 3 + 6 = 9
5 x 9 = 45, jumlah 4 + 5 = 9
6 x 9 = 54, jumlah 5 + 4 = 9
7 x 9 = 63, jumlah 6 + 3 = 9
8 x 9 = 72, jumlah 7 + 2 = 9
9 x 9 = 81, jumlah 8 + 1 = 9
10 x 9 = 90, jumlah 9 + 0 = 9, dst., sampai tak terhingga.

Tujuh
22 x 9 = 198,
cara cepatnya 2 x 9 = 18, lalu selipkan angka 9 ditengah, jadi 198.
33 x 9 = 297
44 x 9 = 396
55 x 9 = 495
66 x 9 = 594
77 x 9 = 693
88 x 9 = 792
99 x 9 = 891

Jika angka kembar 3 digit, maka tinggal selipkan 99 ditengahnya. Kita buktikan ya!
222 x 9 = 1998, cara cepat 2 x 9 = 18, selipkan 99 ditengah
333 x 9 = 2997
444 x 9 = 3996
555 x 9 = 4995

Saturday, August 27, 2011

kkm (kriteria ketuntasan minimal) mata pelajaran penjasorkes

Berikut ini merupakan Perangkat Pembelajaran mata pelajaran Penjasorkes SD Negeri Seling, KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).

1. KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) kelas I

2. KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) kelas II

3. KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) kelas III

4. KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) kelas IV

5. KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) kelas V

6. KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) kelas VI

rpp (rencana pelaksanaan pembelajaran) mata pelajaran penjasorkes

Berikut ini merupakan Perangkat Pembelajaran mata pelajaran Penjasorkes SD Negeri Seling, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).

1. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Penjasorkes semester 1 & 2 kelas I

2. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Penjasorkes semester 1 & 2 kelas II

3. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Penjasorkes semester 1 & 2 kelas III

4. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Penjasorkes semester 1 & 2 kelas IV

5. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Penjasorkes semester 1 & 2 kelas V

6. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Penjasorkes semester 1 & 2 kelas VI

promes (program semester) mata pelajaran penjasorkes

Berikut ini merupakan Perangkat Pembelajaran mata pelajaran Penjasorkes SD Negeri Seling, Promes (Program Semester).